
Entah berapa lama, Sara menangis dan Belva masih menenangkan Sara. Sampai pada akhirnya, Sara pun tertidur sejenak di bahu suaminya itu. Mungkin karena kelelahan menangis, dan kelelahan mengasuh dua putra, membuat Sara yang dipeluk Belva perlahan memejamkan matanya.
Mendengar bahwa suasana di kamar itu menjadi hening, Belva pun menghela nafas, dan kembali mendaratkan kecupannya di kening Sara. Andai dia bisa mengulang masa lalu, dia akan menikahi Sara dan berjuang mendapatkan cinta wanita itu. Tidak memulai kisah dengan menyewa rahim. Namun, semuanya sudah terjadi. Menyesali apa yang sudah terjadi pun tiada guna lagi.
Ketika Sara tertidur, Belva mengecupi puncak kepala Sara. Sedikit banyak Belva tahu bagaimana perasaan Sara. Dituduh yang bukan-bukan sangat menyakitkan. Terlebih Belva sendiri tahu bahwa dialah yang mengambil mahkota Sara kala itu. Sebatas mengingat di masa lalu saja, Belva menghela nafas kasar dan memberikan usapan kasar di wajahnya.
“Maafkan aku, Sara … semua kisah rahim sewaan ini berawal karena aku,” gumam Belva dengan lirih.
Namun, karena Sara tengah tertidur, dia pun tidak mendengar gumaman Belva. Akan tetapi, tidak berselang lama terdengar Elkan yang menangis. Mungkin bayi kecil itu merasakan haus dan lapar, sehingga dia terbangun dan menangis.
Sara yang tengah terlelap pun mengerjap, dan dia berjalan langsung sembari mengucek matanya menuju box bayi milik putranya, Sara tersenyum dan kemudian menimang bayinya itu.
“Putranya Mama,” ucapnya dengan suara yang lembut.
Belva mengamati Sara dari tempatnya duduk, seorang Ibu walaupun kecapekan dan usai menangis. Akan tetapi, di hadapan anaknya, para Ibu bisa menjadi sosok yang tegar, kembali tersenyum walau hatinya sedang tidak baik-baik saja. Sungguh, inilah potret Sara dalam kondisi seorang Ibu yang hebat. Beberapa saat yang lalu, Sara tergugu pilu merasakan luka di masa lalu dan peristiwa rahim sewaan yang membuatnya pedih. Namun, kini Sara mengulas senyuman di wajahnya saat menimang Elkan.
“Elkan haus yah? Mau ASI lagi? Mau minum,” tanyanya dengan memberikan usapan di kepala Elkan.
Sara pun mengambil tempat duduk, kemudian mulai memberikan ASI untuk bayinya. Melihat wajah tenang Elkan saat meminum ASI, Sara perlahan tersenyum.
“Minum ASI biar sehat ya Elkan … Mama sayang Elkan,” ucap Sara dengan tersenyum lembut menatap wajah Elkan.
Belva kemudian mendekat dan merangkul bahu Sara, “I Love U,” ucapnya dengan tiba-tiba.
Sara terdiam, tetapi ada anggukan samar dari kepalanya. Sara kembali menatap Elkan, karena saat memberi ASI secara langsung seperti ini, seorang Ibu bisa sekaligus melakukan bounding dengan si baby. Melihat tatap matanya, menggenggam tangannya, dan memberikan sentuhan kasih sayang. Semua itu Sara lakukan supaya tumbuh ikatan yang kuat antara dirinya dengan Elkan.
__ADS_1
Sama halnya dengan Belva yang merasakan bahwa Sara benar-benar sosok Ibu yang baik bagi kedua putranya. Saat Sara mengusapi punggung tangan Elkan, nyatanya Belva pun turut mengusapi puncak kepala Sara.
“Jangan sedih lagi ya Sayang … aku akan ada bersamamu. Kita memiliki Evan dan Elkan. Biarlah orang berkata apa, tetapi jangan pernah lupa bahwa kamu memiliki aku dan buah cinta kita berdua,” ucap Belva kali ini.
“Iya Mas,” jawab Sara pada akhirnya.
“ASI kamu banyak banget ya Sayang … tapi kok ya Elkan banyak banget minumnya,” tanya Belva yang heran kenapa putranya itu betah berlama-lama meminum ASI padahal Belva tahu bahwa kebutuhan ASI putranya belum sebanyak itu.
“Katanya sih diminumkan langsung dan dipumping bikin produksi ASI makin melimpah,” jawab Sara.
“Dulu kamu waktu selesai putus ASI untuk Evan, sakit enggak Sayang?” tanya Belva kali ini.
“Sakit sih Mas … aku sampai demam tiga hari karena jaringan ASI yang membengkak,” ucapnya.
Tiba-tiba saja Sara tersenyum, “Bisa-bisanya. Saat kita memang kamu masih ingat aku Mas?” tanya Sara.
“Ingat … dan selalu ingat. Gimana bisa lupa, kalau lihat wajah Evan, aku selalu mengingat kamu,” jawab Belva kemudian.
“Sejak kapan kamu cinta sama aku, Mas?” tanya Sara kali ini.
“Sejak kapan aku tidak tahu, tetapi di saat pergumulan kita terakhir sebelum kamu pergi, aku merasa sesak. Aku kehilangan kamu. Aku berusaha mencari kamu lagi, dan tidak menemukannya. Puncaknya, setiap malam aku menyelinap keluar kamar dan tidur di kamarmu ini,” balas Belva.
Belva bercerita tentang perasaannya dulu, dan juga bagaimana perilakunya yang menyelinap dari kamar dan memilih tidur di kamar milik Sara. “Kamu kapan cinta sama aku?” tanya Belva kemudian.
“Kurang tahu juga, Mas … cuma tindakanmu yang impulsif dan perhatian ke aku, sering membuatku salah sangka. Aku mengira bahwa kamu ada perasaan sama aku, tetapi aku menunggu dan kamu tidak mengatakan apa pun,” balas Sara.
__ADS_1
“Sekarang puaskan, bisa mengucapkan cinta puluhan hingga ratusan kali sehari?” goda Belva sekarang ini.
“Puas,” balas Sara.
“Jangan hanya mengucapkan cinta, Sayang … buktikan juga,” balas Belva.
“Hadirnya Evan dan Elkan kurang cukup bukti?” tanya Sara.
Belva tertawa, “Sekarang cukup Sayang … cuma nanti, aku bakalan minta lagi. Ya, setidaknya satu lagi lah. Aku ingin anak cewek yang cantiknya kayak kamu,” goda Belva dengan mendaratkan kecupan di pipi Sara.
Sebenarnya itu adalah cara Belva untuk memperbaiki suasana hati Sara. Menenangkan istrinya itu kembali dan membuang jauh-jauh luka yang baru saja menggoresnya lagi.
“Dengar tuh Dik Elkan … Papa kamu sudah minta baby lagi. No, dulu ya Dik … biar Elkan besar dan lepas ASI dulu yah … biar Elkan sehat dan kuat,” sahut Sara.
“Oke Elkan, Papa sabar sampai kamu lepas ASI kok. Elkan setuju kan sama Papa mau adik bayi lagi?” godanya.
Sara pun tertawa dan mencubit pinggang suaminya itu, “Ishs, bisa-bisanya sih Mas … Elkan dengar loh,” ucap Sara.
“Enggak apa-apa Sayang … nah, ketawa gitu. Aku senang lihat kamu tertawa. Alih-alih membuatmu menangis seperti tadi, aku lebih suka melihatmu tertawa lepas seperti itu. Banyak kebahagiaan yang bisa kita hadirkan bersama. Jadi, mari kita ciptakan kebahagiaan dalam hidup kita berdua,” ucap Belva.
Sara menganggukkan kepalanya, setuju dengan ucapan suaminya itu, “Setuju Mas … maaf ya tadi aku cengeng,” ucapnya.
“Tidak apa-apa Sayang, boleh nangis kok … cuma kamu boleh nangis di hadapanku saja,” balas Belva.
Ya, itulah Belva … seorang pria yang tidak keberatan jika Sara menangis, asalkan Sara hanya menangis di hadapannya saja. Belva tak akan segan untuk menghibur Sara dan memperbaiki suasana hati istrinya yang buruk dengan sedikit godaannya. Sebab, semua pria memiliki cara tersendiri untuk menghibur dan menenangkan suasana hati wanita yang mereka cintai.
__ADS_1