
Menjelang akhir pekan ini, rasanya Sara ingin sekali mengunjungi kota Bogor sebentar untuk melihat rumahnya di Bogor dan tentu juga melihat Coffee Bay miliknya yang sekarang dipegang oleh Nina, salah satu stafnya. Untuk itu, Sara pun meminta izin kepada suaminya terlebih dahulu.
“Mas, aku mau ke Bogor boleh?” tanya Sara kali ini kepada Belva.
Mendengar ucapan Sara, Belva yang tengah menonton televisi pun menoleh dan melihat wajah Sara. Pria itu seakan cukup terkejut mendengar pertanyaan Sara kali ini.
“Kenapa ke Bogor?” tanya Belva.
“Aku mau menengok rumahku di Bogor sebentar. Sekaligus menengok Coffee Bay. Aku kangen, sudah dua bulan juga berlalu,” jawab Sara.
Tidak dipungkiri setelah menjadi istri Belva, Sara memiliki rutinitas baru yaitu mengurus suaminya dan juga mengurus Evan. Jika hanya sekadar menengok rumah dan Coffee Bay untuk sebentar, rasanya tidak masalah bagi Sara.
“Mau kapan ke Bogor?” tanya Belva kemudian.
“Besok … mumpung besok akhir pekan. Sabtu dan Minggu saja, Mas,” balas Sara.
Tampak Belva menimbang-nimbang. Pria itu tampak diam dan memikirkan sesuatu, hingga akhirnya Belva pun memberi jawaban kepada Sara.
“Ya sudah … baiklah. Namun, aku akan ikut,” jawab Belva kali ini.
Mendengar jawaban Belva, nyatanya justru Sara yang saat ini terkejut. Suaminya itu begitu sibuk, ada projek dengan Jaya Corp juga. Akan tetapi, justru sekarang Belva mengatakan ingin ikut ke Bogor dengannya.
“Kamu kan sibuk Mas?” tanya Sara.
“Memang sibuk. Aku bisa membawa laptopku ke Bogor. Selain itu, kita bisa jalan-jalan sebentar ke Kebun Raya Bogor. Evan sangat senang di Kebun Raya Bogor. Melihat flora dan fauna di sana,” balas Belva.
Pada kenyataannya memang Evan sangat senang mengunjungi Kebun Raya Bogor. Di Kebun Raya Bogor yang sudah seperti Botanical Garden di Singapura itu, Evan senang melihat berbagai jenis tanaman dan juga burung-burung yang ada di area Kebun Raya Bogor. Agaknya, Belva bisa memanfaatkan waktu untuk mengajak Evan jalan-jalan lagi.
Perlahan Sara pun menganggukkan kepalanya, “Baiklah … jadi, besok kita ke Bogor kan Mas?” tanya Sara memastikan.
__ADS_1
“Iya … usai sarapan kita akan berangkat ke Bogor. Dua hari saja kan Sayang? Sebab, di hari Senin, aku akan kembali bekerja,” balas Belva.
“Iya … di akhir pekan saja. Makasih Mas,” sahut Sara.
Rasanya Sara begitu senang karena pada akhirnya, esok dirinya akan bisa ke Bogor. Rasanya sudah begitu rindu untuk menengok rumah yang sudah ditempatinya selama hampir 4 tahun di Bogor. Rumah yang menjadi tempatnya berteduh dan rumah yang menjadi tempat untuknya bangkit dari keterpurukan.
***
Keesokan harinya …
Usai sarapan, Belva menepati janjinya. Pria itu tampak membawa Sara dan Evan juga menuju ke kota Bogor. Menikmati liburan akhir pekan dan sekaligus mengantar Sara untuk menengok rumahnya di Bogor dan Coffee Bay miliknya. Sebab, Belva pun mengerti pasti ada rasa rindu ke rutinitas sebelumnya bagi Sara sebelum menikah dengannya.
Lagipula, selama dua bulan ini Sara benar-benar totalitas menggunakan waktunya untuk mengurusi dirinya dan juga mengurus Evan. Untuk itu, Belva rasanya tidak keberatan jika hanya mengantarkan Sara ke Bogor selama dua hari.
“Pa, kita kemana Pa?” tanya Evan yang terlihat begitu tertarik kali ini.
“Ke Bogor, Van,” balas Belva.
Belva dan Sara pun sama-sama saling pandang. Ucapan Belva kemarin ternyata benar karena sekarang Evan sudah ingin mengunjungi Kebun Raya Bogor lagi. Sebagai anak Ibukota, agaknya bisa dekat dengan alam sangat disukai Evan.
“Iya … nanti ya jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor. Evan, tetapi nanti kita menginap di rumahnya Mama yah. Bukan di Villa,” jelas Belva kali ini kepada Evan.
“Oke Pap, tidak masalah. Evan kan juga pernah tinggal di rumahnya Mama. Malahan Evan suka kok di sana,” jawab Evan.
Sara yang sedari tadi di dalam mobil cukup mendengarkan dan tersenyum melihat interaksi dan percakapan antara Evan dan Papanya. Sekaligus, Sara merasa senang karena Belva termasuk seorang Papa yang bisa memberitahu dan memberi pengertian kepada Evan.
Setelah beberapa jam mengemudikan mobilnya. Akhirnya siang hari, Belva sudah tiba di Bogor. Kali ini tempat yang dia tuju adalah rumah milik Sara. Sebuah perumahan yang tempatnya tidak terlalu jauh dari Coffee Bay.
“Silakan masuk,” ucap Sara sembari membukakan pintu bagi Belva dan Evan.
__ADS_1
Walaupun dua bulan tidak ditempati, tetapi Sara meminta kepada salah stafnya di Coffee Bay untuk membersihkan rumahnya di akhir pekan sehingga rumah itu tetap bersih dan juga rapi.
Belva masuk dan melihat sekeliling rumah kecil itu. Kemudian pria itu beralih untuk melihat Sara.
“Kenapa tidak ada foto-foto yang tergantung di sini?” tanya Belva yang merasa rumah milik Sara itu begitu sepi. Satu pun tidak ada foto yang tergantung di dinding.
“Ada foto … cuma di dalam kamar,” balas Sara.
Belva kemudian menganggukkan kepalanya, karena ini kali pertama dirinya masuk ke dalam rumah Sara. Sebelumnya hanya sampai di depan rumah saja dan di ruang tamu. Baru kali ini, Belva bisa mengamati rumah milik Sara itu.
“Papa, Mama … ke Kebun Raya Bogor sekarang?” tanya Evan.
“Mau sekarang?” tanya Belva kemudian.
“Iya mau,” Evan menyahut dengan cepat.
Melihat Evan yang rasanya tidak sabaran, Belva dan Sara pun akan segera mengajak Evan berjalan-jalan di Kebun Raya Bogor. Belva segera mengemudikan mobilnya lagi, menempuh jarak yang tidak begitu jauh menuju Kebun Raya Bogor.
Begitu tiba di sana, Evan pun menggandeng Mamanya dan Papanya. “Evan suka … di tangan kanan Evan ada tangannya Papa, dan di tangan kiri Evan ada tangannya Mama. Dulu, Evan hanya bisa satu tangan saja yang menggandeng Papa. Sekarang Evan memiliki Papa dan juga Mama,” ucap Evan dengan tiba-tiba.
Ya Tuhan, mendengar ucapan Evan yang seperti ini selalu saja membuat Sara merasa bersalah. Sara pun memahami memori anak-anak sangat terbatas. Terlebih mendiang Anin pergi di saat Evan baru berusia 2 tahun, usia yang masih sangat kecil. Sehingga Evan hanya merasa bahwa dirinya hanya bisa menggandeng tangan Papanya saja.
“Mama dan Papa juga senang, Nak,” balas Sara.
“Di sini banyak pohon ya Ma … kayak di Garden By The Bay,” seru Evan kali ini.
Itu karena waktu di Singapura dulu, Evan melihat berbagai jenis pohon dan bunga yang berada di Thematic Garden yang berada di Garden By The Bay. Sehingga sinapsis di otak Evan langsung terkoneksi di taman yang indah dengan Supertree yang berada di Singapura itu.
“Iya Nak … seperti di Garden By The Bay dan Botanical Garden di Singapura,” sahut Sara.
__ADS_1
“Kita jalan-jalan ya, Ma. Yeay, Evan senang sekali!” seru Evan kali ini. Rasanya anak itu begitu senang bisa mengikuti liburan akhir pekan di kota Bogor. Terlebih di hari kerja, Papanya yang bekerja keras, kini Evan bisa merasakan serunya jalan-jalan dan liburan bersama Mama dan Papanya.