Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Vitamin Booster


__ADS_3

“Mama, jadi adiknya Evan itu cowok yah?” tanya Evan kepada Mamanya saat mereka baru saja pulang dari Rumah Sakit.


“Iya, Van … adik bayinya cowok tuh. Evan senang enggak?” tanya Sara kepada Evan.


Setidaknya, Sara hanya ingin tahu bagaimana respons Evan sekarang ini. Apakah Evan merasa senang atau tidak. Selain itu, Sara bisa menerapkan berbagai cara pengasuhan untuk Evan dan calon adiknya nanti.


“Senang kok Ma … nanti bisa diajak main bola, main lego, berenang juga,” balas Evan.


Sara merasa begitu lega karena rupanya Evan senang juga sangat mengetahui bahwa adiknya nanti berjenis kelamin laki-laki. Sara berharap, Evan akan belajar menjadi seorang Kakak yang baik.


“Nanti bermain dan belajar sama adiknya ya Kak Evan,” balas Sara.


Terlihat Evan menganggukkan kepalanya dan juga tertawa, “Oke Mam,” jawabnya dengan wajah yang penuh tawa kebahagiaan.


Lantaran pulang dari Rumah Sakit sudah cukup malam, begitu sampai di rumah, Sara segera menidurkan Evan terlebih dahulu, sementara Belva berada di kamarnya sendiri untuk mandi dan menyegarkan tubuhnya.


Hampir setengah jam Sara menidurkan Evan, ketika Evan sudah terlelap barulah Sara masuk ke kamarnya. Wanita itu memasuki kamarnya secara perlahan, dan mencari-cari di mana suaminya itu berada.


“Mas,” panggil Sara begitu memasuki kamar itu.


“Hmm, apa Sayang?” sahut Belva yang baru saja keluar dari walk in closet. Pria itu hanya mengenakan pakaian rumahan saja, dengan rambut yang masih sedikit basah.


“Oh, makanya … kok aku masuk ke sini sepi banget,” balas Sara.


Dengan cepat, Belva pun segera memeluk tubuh Sara dan mendekapnya dengan erat. “Nyariin yah?” tanyanya sembari tersenyum.


“Iya, kangen,” aku Sara pada akhirnya.


Belva tersenyum, kian mengeratkan pelukannya, dan kemudian pria itu menundukkan wajahnya dan mendaratkan kecupan demi kecupan di kening Sara.


“Tumben sih Bumilku ngaku kangen,” balas Belva.

__ADS_1


“Beneran kangen, tahu,” sahut Sara.


“Mau diobatin enggak kangennya?” tawar Belva kemudian kepada Sara.


“Caranya?” tanya Sara dengan begitu lugunya.


Tentu saja sifat Sara yang terkadang polos ini justru membuat Belva kian gemas jadinya. Pria itu kini mengurai sedikit pelukannya untuk bisa menatap wajah Sara di hadapannya.


“Ya, melakukan itu dong Sayang … menyatu tanpa celah,” balas Belva.


Rupanya hanya sekadar mendengar ucapan dari suaminya saja, sudah membuat wajah Sara merona-rona di sana. Hingga wanita itu menunduk malu dan tidak berani menatap wajah suaminya itu.


“Cuma takut, Mas,” aku Sara dengan jujur.


“Tadi kan Dokter Indri bilang kita harus uji coba, Sayang … coba yuk, biar kita mendapatkan vitamin booster,” balas Belva.


“Mau? Boleh?” tanya Belva lagi.


Belva menganggukkan kepalanya dan segera mengiyakan perkataan Sara itu, “Sudah pasti aku akan pelan-pelan, Sayang … mana mungkin aku menyakiti kamu dan baby boy kita,” balas Belva.


Pria itu tersenyum dan mulai memagut dengan begitu lembut bibir Sara. Menyesap lipatan atas dan lipatan bawahnya bergantian, seakan Belva begitu menikmati peraduan bibir hingga menghasilkan decakan yang memenuhi kamar itu. Tangan Belva juga kini mulai meraba dan menyusuri lekuk-lekuk feminitas di tubuh Sara. Pria itu menahan nafas, karena tidak dipungkiri dengan istrinya yang hamil saja, Belva merasakan hasratnya begitu terbakar, tetapi Belva tidak akan berbuat kasar dan mengedepankan kenyamanan istrinya itu.


Tidak ingin berlama-lama, Belva melucuti satu demi satu pakaian yang istrinya kenakan, membuat istrinya itu polos mutlak di hadapannya, sementara dia sendiri masih menggunakan pakaian yang lengkap.


“Jahat banget sih, Mas,” ucap Sara dengan rasa malu karena ulah suaminya itu.


“Cantik banget sih Bumilku ini,” balas Belva.


“Gombal banget sih,” balas Sara lagi.


“Serius,” balas Belva dengan kembali mencumbu bibir Sara

__ADS_1


Pria itu tidak segan-segan untuk mengecupi bibir Sara, mengajak wanita itu menari-nari dengan lidah dan bibirnya. Memagutnya, menghisapnya, dan juga melu-matnya. Lenguhan yang keluar dari bibir Sara justru membuatnya kian tersulut.


Sara benar-benar tidak tahan dengan gelombang yang saat ini dia rasakan, pegangan tangannya di bahu Belva kian menguat saat pria itu mendaratkan kecupan-kecupan basah nan hangat di garis leher, hingga puncak dadanya. Semua yang Belva lakukan benar-benar memabukkan. Sampai akhirnya, Sara menarik kaos yang dikenakan Belva, membuat pria itu juga polos di hadapannya.


“Duduk saja di pangkuanku, Sayang … supaya tidak menekan perut kamu,” instruksi Belva kali ini kepada Sara.


Belva kemudian sedikit mengangkat pantat Sara, dan perlahan-lahan menyatukan dirinya dengan posisi Sara yang duduk dalam pangkuannya. Sebab, ini adalah posisi yang nyaman untuk Ibu Hamil yang tidak akan menekan perutnya.


“Bergeraklah perlahan Sayang,” instruksi Belva lagi.


Sara dengan nafasnya yang kembang kempis bergerak mengikuti instingnya, dan mengikuti instruksi dari suaminya. Terkadang dia bergerak lambat dengan mencengkeram bahu Belva, terkadang Sara menegakkan punggungnya dan mencengkeram paha Belva di sana.


Keduanya sama-sama berpeluh, sama-sama meregukan kenikmatan yang hanya bisa mereka rasakan bersama. Pergerakan Sara kian kacau, bahkan wanita itu berkali-kali mencerukkan wajahnya di dada bidang suaminya.


“Ah, Mas,” de-sah Sara dengan nafasnya yang putus-putus.


“Hmm, ya Sayang,” sahut Belva.


Tatapan sensual yang diberikan pria itu, geliat tubuh Sara, dan de-sahan demi de-sahan yang terjadi menciptakan atmosfer yang begitu panas. Suhu tubuh keduanya pun meningkat dengan drastis. Cengkeraman cawan surgawi Sara di bawah sana juga begitu dahsyat, sampai Belva benar-benar mengakui dalam hatinya bahwa ini adalah surga dunia yang sesungguhnya.


“Mas, aku …,” ucap Sara dengan suara yang terengah-engah di sana.


“Aku apa Sayang?” Belva masih bisa menyahut, beberapa kali pria itu memejamkan matanya dengan rapat.


“Keluar sama-sama yah,” ucap Belva kali ini.


Belva menarik tubuh Sara mendekat dengannya. Gesekan dada saat bertemu dada kian menyulut gelenyar asing yang membuatnya sama-sama dahaga dan ingin memuaskan hasratnya. Di batas akhir, Belva menggeram, tubuhnya bergetar dan memeluk dengan erat istrinya yang berada di pangkuannya itu.


“I Love U … I Love U,” ucap Belva dengan mendekap erat tubuh Sara.


“I Love U too,” balas Sara dengan tubuh yang lemas.

__ADS_1


Sungguh, ini adalah vitamin booster yang begitu mantap dan syarat akan kenikmatan, keduanya sedikit mereguk manisnya cinta untuk merileksasikan diri mereka, dan juga melepaskan hormon-hormon kecemasan yang mungkin saja produksinya kian meningkat dengan semakin besarnya usia kandungan Sara.


__ADS_2