
Tidak terasa bulan pun berganti bulan, usia kehamilan Sara pun juga semakin menjelang waktunya untuk bersalin. Walau mengalami kenaikan berat badan sampai beberapa belas kilogram, tetapi Sara tetap aktif bergerak dan juga bisa melakukan berbagai aktivitas di rumah dan juga mengasuh Duo E dengan baik.
Persiapan menyambut bayi pun sudah dilakukan mulai dari menyiapkan sebuah kamar dengan dekorasi ala-ala princess, tembok rumah yang dicat warna pink, dan juga membeli berbagai pernak-pernik memperindah kamar, dan juga berbagai perlengkapan bayi yang memang didominasi dengan warna merah muda.
Menyambut setiap bayi rasanya membuat hati keduanya benar-benar bahagia. Walau dulu sudah menyambut Evan dan Elkan, tetapi sekarang menyambut si Junior, rasanya juga berbeda. Hati yang senang, disertai dengan harapan-harapan baik untuk si kecil nanti.
"Udah aku tebak, pasti Mama ada di sini," ucap Belva yang tiba-tiba masuk ke kamar baby yang didonimasi dengan warna pink pastel yang lembut itu.
Di sana, Sara sedang menata kembali lemari penyimpanan dengan model laci itu, dan menaruh beberapa boneka yang mempermanis kamar itu. Rasanya senang sekali akan mendapatkan bayi perempuan.
"Kenapa Pa? Kangen?" tanya Sara dengan menoleh sekilas kepada suaminya yang sudah berdiri di belakangnya dan mendekapnya dengan begitu erat itu.
"Iya ... kangen sama Mama ... aku cariin. Biasanya malam-malam gini kan Mama menunggu di kamar, sekarang sering ngilang deh," balas Belva.
"Kan cuma di dalam rumah saja, Pa ... dicariin ya pasti ketemu," balas Sara.
"Jangan jauh-jauh dariku, Sayang ... aku kangen tahu. Gak bisa jauh-jauh dari kamu," balas Belva.
Sara pun tertawa, dan mencubit pinggang suaminya itu. "Lebay deh ... lagian aku juga gak akan jauh-jauh dari kamu kok. Aku juga setiap hari berada di rumah. Apalagi dengan kondisi perut yang membuncit ini, aku cuma berada di rumah. Enggak melakukan survei ke Coffee Bay dan Skincare. Sekarang semuanya aku kerjakan dari rumah," balas Sara.
Itu adalah sebuah fakta yang Sara sampaikan dengan benar bahwa memang sejak usia kehamilannya kian bertambah, Sara lebih memilih berada di dalam rumah. Menikmati masa-masa kehamilan di dalam rumah. Menghabiskan waktu dengan Evan dan Elkan di rumah.
__ADS_1
“Pinter banget sih … dari rumah saja sudah bisa menghasilkan cuan. Gimana aku enggak bangga coba,” balas Belva.
“Enggak pinter … biasa saja, Mas,” balas Sara.
Kemudian Belva masih mengamati Sara yang masih menata-nata di kamar si baby itu, seolah begitu banyak hal yang harus ditata. Padahal menurut Belva sendiri kamar si baby itu juga sudah bersih dan rapi. Justru kamar si bayi itu kelihatan indah, karena baru kali ini di dalam rumahnya ada kamar dengan warna pink pastel yang lembut, berbagai boneka, dan juga pernak-pernik yang lucu.
“Hari Perkiraan Lahir masih dua minggu kan Sayang?” tanya Belva lagi.
“Iya, masih dua minggu lagi. Cuma aku udah mulai deg-degan dari sekarang. Besok masih harus pemeriksaan lagi deh Mas, anterin yah,” pinta Sara kepada suaminya.
“Pasti … sudah pasti aku akan anterin. Enggak mungkin aku membiarkanmu melakukan pemeriksaan sendiri. Jadi, nanti kamu melahirkan secara normal atau Caesar?” tanya Belva kini kepada istrinya.
Jikalau dulu saat melahirkan Elkan, Sara merasa sedih karena nyatanya harus melakukan operasi Caesar. Kali ini Sara merasa lebih siap dengan hasil yang disampaikan Dokter. Pikiran sebagai seorang Ibu juga sudah terbuka bahwa baik normal atau caesar yang pasti dia dan si baby bisa lahir dengan selamat.
“Nah gitu … enggak usah dipikirin. Yang penting kamu enjoy saja menjalani kehamilan kamu. Yang pasti juga mau caesar atau normal, aku tidak masalah. Juga, kamu harus tahu bahwa aku akan selalu mendampingi kamu. Kita akan menyambut si baby girl bersama, sama seperti saat menyambut Evan dan Elkan,” balas Belva.
“Makasih Mamas … seorang istri tuh ketika berjuang untuk melahirkan anak, dan ditemani suami itu rasanya tenang dan lega loh. Ada tangan yang memegang, ada sosok yang memberikan perhatian. Aku pun begitu, kamu mau menemani itu, rasanya bahagia dan tenang banget,” balas Sara.
Mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh istrinya, Belva pun tertawa, “Kamu bisa saja sih … ya sudah, nanti aku temeni. Selalu menemani kamu. Jadi, gimana Sayang … mau pakai babysitter?” tanya Belva.
Mengingat bahwa akan ada tiga orang anak di rumah, sehingga Belva menawarkan jasa babysitter kepada Sara. Sebab, Belva juga tidak ingin membuat Sara kecapekan dengan mengurus ketiga buah hatinya sendiri.
__ADS_1
“Kelihatannya … enggak dulu deh Mas … aku masih bisa handle. Lagian Evan juga sekolah hampir sore pulangnya, Elkan sudah bisa memahami komunikasi, dan juga si baby nanti masih banyak tidurnya kan awal-awal. Aku masih bisa,” balas Sara.
“Jangan memaksakan diri sendiri Sayang. Kamu kan butuh masa pemulihan juga. Tidak masalah menggunakan jasa babysitter. Jangan membebani diri sendiri,” balas Belva.
“Aku enggak membebani diriku sendiri, cuma … aku pengen mengasuh anak-anak dengan tanganku sendiri. Semua harta kekayaan dan posisi ini tidak ada artinya, jika anakku tidak mendapatkan sentuhan kasih sayang dari tanganku. Sebab, anak-anakku adalah hartaku yang paling berharga,” balas Sara.
Mungkin itu adalah pemikiran yang terkesan kuno, tetapi bagi Sara sendiri semua kekayaan dan aset dari berbagai bisnis yang dia miliki tidak ada artinya jika dirinya gagal menjadi seorang Ibu. Menjadi Ibu bagi Sara adalah anugerah terbesar, dia ingin mengambil pengasuhan anak-anaknya, dan juga membersamai tumbuh kembang anak-anak dengan tangannya sendiri. Melimpahkan kasih sayangnya yang besar untuk Evan, Elkan, dan adiknya nanti.
“Kamu yakin?” tanya Belva kemudian.
“Ya, sangat yakin … aku berterima kasih banget karena kamu memikirkan aku. Lagipula, urusan rumah sudah ada ART. Ada Bi Tini, ada tukang kebun, ada Pak Heri yang menjadi driver, aku cuma mengambil alih untuk pengasuhan anak-anak tidak masalah,” balas Sara.
Ya, setidaknya untuk urusan rumah tangga sudah ada para asisten rumah tangga yang mengerjakan tugas-tugas mereka setiap hari. Sehingga Sara memiliki waktu luang untuk mengasuh anak-anaknya. Bagi Sara, masa kecil anak-anak tidak akan terulang. Untuk itu, Sara ingin mengambil pengasuhan anak secara penuh.
“Baiklah … makasih Sayang … makasih banyak karena kamu adalah Mama yang hebat. Evan, Elkan, dan baby E junior pasti senang banget karena diasuh Mamanya sendiri. Seluruh waktu, tenaga, bahkan pikiran Mamanya dicurahkan secara penuh untuk Trio E. Makasih banyak,” balas Belva.
“Sama-sama Mamas … makasih ya udah mempercayakan Trio E kepadaku,” balas Sara.
Belva menganggukkan kepalanya, pria itu kemudian memeluk Sara dengan begitu eratnya. Ada helaan nafas saat Belva mulai memeluk Sara. “Aku tuh cinta banget sama kamu … sangat cinta sama kamu. Doakan aku sehat, dan menjalani kehamilan yang sisa beberapa minggu ini dengan happy. Kamu istri yang baik dan Mama yang hebat untuk Kiddos. I Love U, Sayang,” ucapnya.
Hati yang melimpah syukur, disambut oleh Belva dengan pengungkapan isi hatinya untuk wanita hebat yang mendampinginya. Secara finansial, Belva sendiri bisa mempekerjakan satu babysitter untuk satu anaknya. Akan tetapi, karena Sara yang ingin mengambil penuh pengasuhan anaknya, Belva merasa bahwa Sara adalah Mama yang hebat. Mama yang bisa membersamai tumbuh kembang anak-anak. Mama yang bisa menjadi sosok orang tua dan sekaligus sahabat bagi Evan dan Elkan. Betapa bahagianya Belva memiliki Sara dalam hidupnya.
__ADS_1