Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Bertemu Rival


__ADS_3

Di awal pekan, merasa bahwa kondisi Sara sudah sepenuhnya pulih, maka Belva pun berniat untuk kembali bekerja dari kantor. Setelah satu minggu penuh, Belva memindahkan semua pekerjaan dari rumah. Kali ini, Belva akan kembali bekerja dari perusahaannya.


“Sayang, kalau hari ini aku pergi ke kantor tidak apa-apa kan?” tanya Belva pagi hari itu kepada Sara.


“Iya … boleh kok, Mas. Toh, aku juga sudah sembuh, jadi tidak apa-apa. Jangan mengkhawatirkan aku,” balas Sara.


Sara berkata dengan sungguh-sungguh dan meminta kepada suaminya itu untuk tidak mengkhawatirkannya. Lagipula, Sara merasa bahwa dirinya sudah sepenuhnya sehat. Sehingga Sara bisa melanjutkan aktivitas normal di rumah.


“Jangan terlalu capek ya Sayang … istirahat. Terus, kalau terjadi apa-apa, segera hubungi aku. Jangan menunggu lama dan jangan merasa sungkan. Aku akan mensetel handphoneku berbunyi, supaya aku bisa mendengar kabar darimu,” balas Belva.


Kemudian pria itu beranjak dari tempat tidurnya, dan kemudian menuju ke kamar mandi terlebih dahulu untuk menyegarkan tubuhnya, sebelum bekerja.


“Aku mandi dulu ya Sayang … mau mandi bersama?” tanya Belva.


Dengan cepat Sara tersenyum, tersipu malu dan menggelengkan kepalanya, “Tidak … aku mandi sendiri saja nanti, Mas,” balas Sara.


Wajah Belva pun turut tersenyum. Kemudian pria itu menatap Sara, “Baiklah Sayang … tolong pilihkan kemejaku yah,” pintanya kali ini.


Sara menganggukkan kepalanya. Wanita itu kini menuju ke walk in closet dan mulai memilihkan kemeja yang hendak dipakai oleh suaminya itu. Sara melihat-lihat tumpukan kemeja di lemari penyimpanan milik Belva, dan pilihannya jatuh pada kemeja berwarna navy di sana. Mengambilkan celana panjang berwarna hitam, dan sekaligus dengan pakaian dalaman untuk suaminya itu.


Lima belas berlalu, kemudian Belva keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan sebuah handuk di pinggangnya. Pria itu kemudian tersenyum menatap kemeja dan pakaian lainnya yang sudah disiapkan Sara untuknya. Dengan cepat, Belva mengenakan pakaiannya dan setelahnya, pria itu turun ke bawah untuk sarapan.


“Pagi Evan … Pagi Mama,” sapa Belva kepada Evan dan Sara yang sudah berada di meja makan.


“Pagi Papa,” sapa Sara dan Evan bersamaan.


“Papa sudah akan bekerja?” tanya Evan.

__ADS_1


“Iya, Papa akan mulai bekerja dari kantor,” balas Belva.


Menikmati sarapan bersama keluarga, setelahnya Belva pun berpamitan dengan Sara dan Evan untuk berangkat terlebih dahulu ke kantor.


“Hati-hati ya Mas,” ucap Sara.


“Iya, Sayang … kamu juga hati-hati di rumah,” balas Belva.


Setelahnya, Belva segera melajukan mobilnya menuju ke perusahaannya. Kali pertama kembali ke kantor setelah seminggu berada di rumah. Belva merasa lega karena Sara juga sudah sepenuhnya sehat. Setidaknya sekarang Belva bisa lebih fokus dengan pekerjaannya.


Meninggalkan istri yang sudah sehat, memang membuat lebih fokus untuk bekerja. Dibantu dengan Ridwan yang sudah mengorganisir semua laporan demi laporan, Belva tidak melakukan finalisasi untuk setiap laporan yang sudah dibuat tiap direksi.


Hingga menjelang siang, barulah ada tamu yang secara khusus datang ke Agastya Property.


“Bos, ada tamu yang ingin bertemu dengan Bos,” ucap Ridwan yang menyampaikan bahwa ada seseorang yang ingin bertemu dengan Belva.


“Namanya Pak Anthony, Bos,” ucap Ridwan.


Mendengar nama Anthony, rasanya darah Belva segera mendidih. Perihal apa yang membuat Anthony sampai menyambangi Agastya Property. Tidak biasanya juga Anthony sampai datang ke Agastya Property. Untuk masalah pekerjaan atau untuk membahas hal yang lain.


“Biarkan dia masuk,” jawab Belva.


Pria itu kembali berwajah datar, geram sebenarnya untuk tujuan apa Anthony datang dan menemuinya di kantornya. Hingga akhirnya, seorang pria berperawakan tinggi datang dan menemui Belva.


“Belva Agastya, CEO Agastya Property,” sapa Anthony dengan senyuman menyeringai menatap Belva.


Belva pun berdiri dan menatap sengit pada pria yang sudah lama menjadi rivalnya itu. Pria yang di masa lalu pernah menorehkan luka di hati Sara. Kini, Belva seolah tengah berhadapan dengan rivalnya sendiri.

__ADS_1


“Untuk apa kamu kemari?” tanya Belva dengan menatap sengit kepada Anthony.


“Santai saja, aku datang kemari bukan untuk bekerja sama denganmu. Aku datang untuk memperjelas semuanya,” ucap Anthony.


Belva mengernyitkan keningnya, apa yang dimaksud Anthony dengan memperjelas semuanya. Semua itu terkesan ambigu dan Belva membutuhkan jawaban dan penjelasan yang pasti dari Anthony.


“Memperjelas apa lagi yang kamu inginkan? Memperjelas bahwa usahamu untuk menggoyang rumah tanggaku pada akhirnya gagal lagi? sahut Belva.


Anthony lantas mengambil tempat duduk di hadapan Belva, jarak keduanya hanya terpisahkan seolah sebuah meja kaca yang berdiri di antara dua sofa.


“Belva, aku datang kemari untuk meminta sesuatu padamu. Aku memintanya dengan baik-baik. Dengarkan aku, Dokter memvonisku bahwa aku terkena Kanker Cairan Getah Bening, dan usiaku tidak akan lama lagi. Bisakah kamu memberiku waktu sehari saja bersama Sara?” tanya Anthony.


Rupanya kali ini tujuan Anthony datang adalah untuk meminta kepada Belva. Meminta untuk bisa menghabiskan waktu sehari saja bersama dengan Sara. Mendengar permintaan Anthony itu, pena yang saat tadi dipegang oleh Belva akhirnya dia taruh begitu saja di atas meja.


“Tidak bisa,” jawab Belva dengan cepat.


Untuk pria selicik Anthony, Belva tidak akan pernah memberikan waktu sehari bagi pria itu untuk bersama Sara. Lagipula, apa rencana yang susun Anthony, Belva tidak pernah tahu. Setelah semua yang sudah Anthony lakukan, Belva tidak akan pernah memberikan kesempatan itu kepada Anthony. Selain itu, Belva harus mencari kebenaran mengenai penyakit Anthony itu kepada Zaid. Bisa saja ini adalah sebuah jebakan yang tengah disusun Anthony untuk mendapatkan Sara.


“Satu hari saja,” pinta Anthony kali ini.


“Tidak bisa … aku tidak akan pernah membiarkan istriku berdekatan dengan pria licik sepertimu.”


Belva menjawab dengan sungguh-sungguh, sama sekali tidak akan membiarkan istrinya untuk berdekatan dengan Anthony. Belva tidak ingin jika ini nyatanya hanyalah sebuah perangkap yang sengaja disusun Anthony untuk mencelakai Sara.


“Apa kamu tidak bisa menerima kebenaran tentang diriku ini?” tanya Anthony lagi.


Belva menggelengkan kepalanya, “Jangan pernah bermimpi untuk bisa bersama dengan Sara. Bahkan jika kamu benar-benar sakit pun, di hari terakhirmu keinginanmu itu tidak akan pernah terwujud,” balas Belva.

__ADS_1


Tidak pernah ada negosiasi bagi Belva. Tidak akan pernah seorang Belva memberikan kesempatan bagi pria seperti Anthony untuk menghabiskan waktu bersama dengan istrinya, Sara. Sekalipun Anthony memohon kepadanya pun, Belva tidak akan pernah mengabulkan permintaan itu. Jika ada di dunia ini yang ingin sekali Belva lindungi itu adalah Sara dan Evan. Untuk dua hal berharga di dalam hidupnya itu, tidak akan berlaku negosiasi apa pun bagi Belva. Selamanya, tidak akan pernah seorang Belva Agastya memberikan kelonggaran kepada Anthony.


__ADS_2