
“Hai Baby Evan …,” Belva menyapa putranya itu. Wajah sang CEO yang tampan itu bersinar dengan penuh kebahagiaan.
Itu semuanya tentu karena bayi yang diberi nama Evander oleh Sara itu. Evan, itulah panggilan untuk bayi laki-laki yang wajahya mirip dengan Belva. Kendati demikian, mata dan bibirnya mirip dengan Sara.
Usai memberikan ASI untuk baby Evan, Sara kemudian menatap Belva, “Mau menggendong Evan, Pak?” tanyanya kepada Belva.
“Boleh aku menggendongnya?” tanya Belva kemudian.
Dengan cepat Sara pun mengangguk, “Tentu saja boleh, Pak,” ucapnya kali ini.
Wanita itu sedikit bergerak dan memberikan baby Evan ke dalam kedua tangan Belva. Si Papa baru itu, terlihat begitu kaku karena belum pernah menggendong bayi sama sekali.
Sara tersenyum, kemudian dia membenarkan posisi Evan dalam gendongan Belva, “Taruh satu tangan menyangga lehernya, dan satu tangan di pantat hingga pinggangnya, Pak,” instruksinya kepada pria itu.
Belva kemudian mengangguk dan mengikuti instruksi yang diberikan oleh Sara. Belva tampak tersenyum, matanya kembali berkaca-kaca saat melihat baby Evan yang kini berada di dalam gendongannya.
“Akhirnya … hari ini tiba. Hari di mana aku bisa menggendong buah hatiku,” ucap pria itu.
Sara yang mendengarkan ucapan Belva pun merasa terharu, “Dia putramu, Pak …,” ucap Sara kemudian.
Belva kemudian mengangguk, “Benar … dia putraku. Penerus keluarga Agastya yang sudah lama dinantikan,” ucapnya.
Sara tersenyum, membesarkan hatinya sendiri. Dia berusaha menerima semuanya. Bukan salah takdirnya, tetapi mungkin Tuhan sudah menggariskan semua ini terjadi padanya.
Belva lantas menatap Evan dan kemudian berbalik menatap Sara, “Dia mirip sepertimu, Sara,” ucap Belva kali ini.
Ya, di mata Belva justru baby kecilnya itu begitu mirip dengan Sara. Padahal menurut Sara sendiri justru baby Evan lebih mirip dengan Belva.
“Bukankah dia mirip seperti kamu, Pak?” tanya Sara kini.
“Tidak. Fitur wajahnya dominan mirip kamu,” jawab Belva.
__ADS_1
Sara menghela nafasnya perlahan, tersenyum walaupun itu bukan senyuman kelegaan. Rasa getir seolah menyatu dengan senyumannya kali itu.
Jika menurutmu, Evan mirip denganku …
Kuharap kamu akan mengingat diriku di dalam sosok Evan.
Mungkin dia akan menjadi tanda cinta bagi kamu dan aku.
Kamu suami yang tak pernah bisa kugapai, Pak Belva …
Kamu hanya suami yang singgah sementara dalam hidupku.
Wanita itu hanya berbicara dengan dirinya sendiri. Pada kenyataannya, jika memang di mata Belva bahwa baby Evan lebih mirip dengan Sara, mungkin saja Belva akan selalu mengingat wajah Sara saat memandang putranya itu.
Hingga perlahan, Belva kembali bersuara, “Dulu … bagiku, menggendong bayi seperti ini rasanya seperti mimpi. Akan tetapi, saat kamu datang, kamu mau menolongku, semuanya berubah Sara. Terima kasih sudah mewujudkan semua mimpi-mipiku,” ucap Belva dengan tulus.
“Sama-sama Pak,” sahut Sara dengan singkat.
“Selamat siang Ibu Sara dan Bapak Belva Agastya ya?” sapa Dokter itu dengan ramah kepada pasiennya itu.
“Iya … selamat siang, Dok,” sahut Sara dan Belva hampir bersamaan.
Kemudian Dokter Bisma meminta kepada Belva untuk menaruhkan Baby Evan ke dalam box bayi terlebih dahulu karena dia akan memeriksa kondisi Baby Evan.
“Saya Dokter Spesialis Anak di rumah sakit ini, saya datang untuk memeriksa babynya. Jadi kapan babynya dilahirkan Bu?” tanya Dokter Bisma kepada Sara.
“Subuh tadi Dokter … kurang lebih jam 04.30,” jawab Sara.
“Panjang dan berat badan bayinya berapa?” tanya Dokter itu lagi.
“Panjangnya 51 centimeter dan beratnya 3,3 kilogram,” jawab Sara lagi.
__ADS_1
Dokter Bisma pun mengangguk mendengar jawaban dari Sara. Kemudian dia telah selesai memeriksa Baby Evan.
“Ya, jadi … Babynya sehat ya Bu. Saat lahir tadi sudah diberikan suntikan Vitamin K dan Hepatitis B yang disuntikkan dalam jangka waktu 12 jam setelah bayi dilahirkan. Suntikan Hepatitis B ini bermanfaat untuk membangun kekebalan tubuh bayi terhadap berbagai jenis penyakit. Setelah observasi lebih dari 6 jam, babynya sehat ya Bu … kulitnya juga tidak kuning, tetapi nanti setiap pagi bisa dijemur paling tidak sepuluh hingga 15 menit, supaya bayinya sehat dan kuat. Babynya sehat yah semuanya sudah oke, dan besok Ibu dan bayinya bisa boleh pulang. Jangan lupa untuk memberikan ASI secara ekslusif karena ASI bukan hanya makanan utama bagi kehidupan pertamanya, tetapi juga ASI bisa meningkat sistem imun atau daya tahan bayi,” jelas Dokter Bisma dengan detail.
Setelahnya, Dokter Bisma kembali menatap Sara dan Belva, “Apa masih ada yang ingin ditanyakan lagi?” tanyanya kepada mereka berdua.
“Jadwal imunisasinya nanti bagaimana Dok?” tanya Sara. Setahunya bahwa bayi hingga usia tertentu membutuhkan imunisasi, jadi Sara sekaligus bertanya kepada Dokter Bisma itu.
“Jadwal imunisasi terdapat di Buku KIA ya Bu. Tolong diperhatikan jadwal imunisasinya dan jangan sampai terlambat. Untuk imunisasi, Ibu dan Bapak bisa datang ke Rumah Sakit ini dan mendaftar dengan saya, atau bisa ke Klinik saya yang buka siang hingga sore hari,” jelasnya.
Sara dan Belva pun mengangguk, “Baik Dokter Bisma … terima kasih,” jawab Sara dan Belva bersamaan.
Dokter itu pun mengangguk dan keluar dari ruangan Sara dan Belva, “Baik … sehat-sehat untuk Ibu dan babynya,” ucap Dokter Bisma dengan ramah.
Belva dan Sara pun lega rasanya, saat babynya dinyatakan sehat. Itu berarti mereka tidak harus berlama-lama berada di Rumah Sakit.
“Sudah lega?” tanya Belva kemudian.
“Iya, lega … dengar penjelasan dari Dokter Bisma kalau Evan sehat rasanya aku lega,” jawab Sara.
“Sama. Aku juga,” sahut Belva.
Setelahnya, Belva pun menatap Sara, “Kamu makan ya Sara, wajah kamu terlihat pucat pasi,” ucap pria itu.
“Iya,” jawab Sara. Wanita itu sembari menganggukkan kepalanya dan mau untuk makan.
Sara lantas meminta piring yang sudah terisi nasi dan sayurannya, hendak menaruh piring itu di atas pangkuannya, dan menyendok dengan tangannya.
“Biar aku sendiri saja, Pak,” ucap Sara yang tangannya terulur dan berniat untuk makan sendiri.
Akan tetapi, Belva dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Tidak … biar aku suapin. Yuk, buka mulut kamu,” ucap pria itu dengan wajah datarnya yang tercetak jelas saat ini.
__ADS_1
Sara pun terdiam, kenapa bisa pria di hadapannya ini berwajah datar, tetapi terlihat begitu perhatian padanya. Jujur saja dalam kondisinya yang masih lemah dan lemas seperti sekarang ini, Sara merasa sangat senang mendapat perhatian dari Belva. Hanya saja, Sara lagi-lagi menekan hatinya sendiri, mungkin saja pria itu kali ini bersikap baik padanya hanya karena dia sudah melahirkan seorang putra bagi pria itu.