
“Mau dikerokin, Pak?” tanya Sara dengan membawa minyak kayu putih dan uang koin seribu Rupiah. Saat ini, gadis itu berdiri di tepi ranjangnya.
Melihat Sara yang membawa minyak kayu putih dan uang koin seribu Rupiah, Belva pun justru beringsut untuk duduk.
“Secara medis, kerokan itu sama sekali tidak berfungsi yang ada justru pembuluh darah kita bisa pecah. Jangan-jangan kamu sering kerokan ya?” tanya Belva dengan memincingkan matanya dengan menatap Sara.
Sara pun mengangguk, “Iya, setiap kali terasa seperti masuk angin, aku selalu kerokan dan minum obat anti masuk angin, nanti badanku jadi lebih enak,” jawabnya.
Ya, memang Sara memang bukan dari kalangan berada. Sekadar kerokan dan minum obat herbal anti masuk angin saja sudah membuat badan kembali sehat. Terlebih, Sara memang jarang pergi ke Dokter. Biaya berobat mahal, sementara kerokan dia bisa melakukannya sendiri, dan obat herbal anti masuk angin harganya juga terjangkau dan hemat di kantong.
Belva kemudian menatap Sara, “Sekarang, kamu tidak boleh kerokan lagi. Jika, badanmu terasa sakit dan kurang sehat, jangan sembarang minum obat. Bilang padaku karena aku akan mengantarmu ke Dokter,” ucap Belva dengan serius.
__ADS_1
Sara mengangguk, kemudian dia menaruh minyak kayu putih dan uang koin seribu Rupiah itu di atas nakas.
“Atau menghirup ini Pak? Inhaler biar lebih lega,” ucap Sara sembari menyodorkan sebuah inhaler untuk Belva.
Akan tetapi, Belva menggelengkan kepalanya, “Tidak … aku berada di kamarmu saja sudah tidak begitu mual.”
Setelah itu Belva sedikit beringsut, dan dia tanpa permisi langsung memeluk Sara yang masih berdiri di sampingnya, sementara Belva dalam posisi duduk, sehingga kepala Belva tepat berada di dada Sara.
“Biarkan seperti ini, mencium parfum kamu yang seperti buah Pomello bisa meredakan mualku,” ucapnya dengan mengusap-usapkan kepalanya di dada Sara dan menghirupi parfum Sara yang segar, aroma jeruk Pomello yang manis dan meninggalkan kesan hangat.
Jangan seperti ini Pak Belva, aku deg-degan.
__ADS_1
Kenapa Pak Belva sangat impulsif sekali sih.
Sara hanya bisa bergumam dalam hatinya. Merasakan Sara yang mematung, tangan Belva justru bergerak dan membawa tangan Sara untuk melingkari kepalanya, mengusapkan satu tangannya di atas kepalanya.
“Usap kepalaku, Sara … ah, tenang dan nyaman sekali seperti ini,” ucap Belva dengan masih mencerukkan kepalanya di dada Sara.
Mengikuti apa yang diperintahkan Belva, perlahan tangan Sara bergerak lembut dan mengusapi kepala Belva. Rasanya begitu aneh, tetapi dia pun tidak bisa menolak. Seolah kata hatinya bertolak belakang dengan akal rasionya.
Membiarkan ketenangan menyelimuti keduanya, hanya deru nafas keduanya yang terdengar. Hingga terdengar ketokan pintu dari luar, oleh karena itu Sara pun segera menjauhkan kepala Bisma, dan dia segera berlari untuk membuka pintu kamarnya.
“Mbak Sara, Dokter pribadinya Pak Belva sudah datang,” ucap Bi Wati yang memberitahu kepada Sara bahwa Dokter pribadi Belva sudah datang.
__ADS_1
Belum Sara menjawab, rupanya Belva sudah menyahut ucapan Bi Wati, “Suruh naik ke sini saja, Bi … saya mual dan agak lemas, jadi Dokter Willy suruh ke sini saja,” ucap Belva.
“Baik Pak Belva,” sahut Bi Wati yang kemudian pergi dan memanggilkan Dokter Willy untuk naik ke atas, menuju kamar Sara.