
Belva Agastya tidak akan serta merta menerima semua ucapan Anthonya bahwa pria itu tengah mengidap Kanker Kelenjar Getah Bening. Lagipula, bisa saja itu hanya sebuah trik yang dipakai oleh Anthony. Setelah berusaha dengan berbagai cara untuk menggoyahkan rumah tangganya gagal, mungkin adalah sebuah trik yang dipakai Anthony untuk mendekati Sara dengan mengatakan penyakitnya.
Namun, Belva Agastya tidak akan serta-merta menerima semua itu. Belva akan menyelidiki dan mencari tahu apakah Anthony benar-benar dalam kondisi sakit sekarang. Untuk mendapatkan jawaban itu, Belva dengan segera menghubungi Zaid. Ya, Belva masih ingat bahwa Zaid adalah adik kandung Anthony. Sehingga, Belva berpikir bahwa Zaid pasti tahu kondisi kakak kandungnya sendiri.
Segeralah Belva mengambil handphonenya dan segera menghubungi Zaid.
“Halo, Zaid,” sapa Belva begitu panggilan selulernya terhubung.
“Ya, halo Pak Belva, ada apa?” tanya Zaid.
“Zai, boleh aku bertanya sesuatu,” ucap Belva sebelum akan bertanya banyak hal mengenai Anthony kepada Zaid.
“Tentu saja boleh, ada apa?” jawab Zaid di seberang sana.
“Begini, Zaid … barusan Anthony kemari. Ke kantorku. Dia mengatakan bahwa dia terkena Kanker Kelenjar Getah Bening. Apakah itu benar?” tanya Belva.
Zaid juga cukup terkejut dengan apa yang barusan disampaikan oleh Belva. Sebab, setahunya Kakaknya itu dalam keadaan yang sehat dan baik-baik saja.
“Maksudnya gimana Pak Belva? Kak Anthony terkena kanker kelenjar getah bening?” tanya Zaid.
“Ya, tadi dia mengatakan bahwa dirinya terkena kanker kelenjar getah bening. Usianya tidak akan lama lagi, sehingga dia meminta kepadaku untuk bisa menghabiskan waktu bersama dengan Sara untuk sehari. Dia meminta waktu sehari saja,” cerita Belva pada akhirnya.
Rasanya begitu lucu, dulu Belva begitu tidak suka dengan Zaid. Akan tetapi, sekarang Belva bisa dengan mudahnya curhat dengan pria yang dulu juga menyukai istrinya itu. Kedua pria yang dulu laksana rival kini bisa saling bertelepon dan membagi masalahnya.
“Pak Belva percaya dengan apa yang dikatakan Kakakku?” tanya Zaid pada akhirnya.
Tentu itu adalah sebuah pertanyaan, supaya Belva bisa menyampaikan pandangannya sendiri. Menerka sendiri, sebelum Zaid memberikan jawabannya.
__ADS_1
“Tidak, sayangnya aku tidak percaya,” balas Belva dengan yakin.
Jika sudah berurusan dengan Anthony dan semua perlakuan buruk pria itu kepada Sara, rasanya Belva enggan untuk percaya. Hati kecilnya mengatakan bahwa dia tidak akan mempercayai Anthony.
“Mungkin saja itu hanya sebuah cara yang dilakukan Kak Anthony. Jika dengan mengupayakan segera cara tidak bisa, dia bisa mencoba cara lain bukan?” ucap Zaid sekarang ini.
Belva menganggukkan kepalanya di sana, sesekali Belva juga memijit keningnya. Kedatangan Anthony benar-benar membuat moodnya tidak baik. Akan tetapi, Belva harus menahan dirinya sendiri. Tidak ingin berbuat gegabah. Yang pasti Belva sudah memecat Annisa, sehingga urusan pekerjaan tidak akan ada kendala lagi. Sekarang, ada Sara yang harus dia lindungi. Bisa saja Anthony melakukan apa pun kepada Sara.
“Baiklah Zaid … hanya saja, jika kamu tahu bahwa Anthony benar-benar sakit tolong kabari aku,” pinta Belva kali ini kepada Zaid.
“Baik Pak Belva,” aku akan memberitahu Pak Belva.
Usai menutup panggilan itu, Belva yang sudah tidak konsentrasi lagi dengan pekerjaannya memilih untuk pulang ke rumah. Dia mempercayakan urusan pekerjaan kepada Ridwan. Sementara rasanya Belva ingin pulang ke rumah dan segera bertemu dengan istri dan putranya.
Sebelum waktunya jam pulang kerja, jalanan di Ibukota masih lancar. Oleh karena itulah, hanya membutuhkan waktu 20 menit bagi Belva untuk sampai di rumahnya. Pria itu sedikit berlari dan memasuki rumahnya. Hatinya kian damai melihat Sara yang sedang membacakan buku bagi Evan.
Mendengar suara Belva, seketika atensi Sara dan Evan pun teralihkan. Evan segera berdiri dan memeluk Papanya itu.
“Papa … Papa sudah pulang?” tanya Evan.
“Sudah, Van … Papa kangen sama Mama dan kamu,” balasnya.
Sementara Sara hanya berdiri dan tersenyum menyambut suaminya itu. “Evan, jangan peluk-peluk Papa dulu yah. Papa biar mandi dulu, biar bersih dulu, Papanya,” sahut Sara.
Evan pun menganggukkan kepalanya, “Oh, iya … lupa,” balasnya dengan tertawa-tawa.
Dia ingat bahwa Mamanya itu memang tidak mengizinkannya untuk memeluk Papanya saat pulang kerja. Akan tetapi, kali ini Evan justru memeluk Papanya karena begitu suka melihat Papanya yang belum terlalu sore sudah pulang ke rumah.
__ADS_1
“Sana … Papa mandi dulu yah, biar bersih. Nanti baru boleh peluk-peluk Evan,” balas Sara sembari menyuruh suaminya itu untuk mandi terlebih dahulu.
Belva pun menganggukkan kepalanya, “Boleh peluk Mamanya Evan juga kan? Ya sudah aku mandi dulu ya Sayang,” balasnya.
Sara tersenyum, suaminya terkadang bersikap absurb. Sehingga Evan pun turut tertawa-tawa saat mendengar bahwa Papanya juga ingin memeluk Mamanya. Evan kemudian menarik tangan Sara dan mengajaknya untuk kembali membaca buku.
Selang dua puluh menit berlalu, Belva sudah mandi dan sudah bersih. Pria itu kemudian bergabung dengan Sara dan Evan yang masih membaca buku bersama. Pria itu segera menyambut Evan yang sudah sangat ingin memeluknya.
“Tumben Papa sudah pulang?” tanya Evan.
“Iya … Papa sudah kangen sama kalian bertiga,” balasnya.
Sejujurnya ada hal lain yang mengganggu pikiran Belva sekarang ini. Akan tetapi, Belva tidak mengatakan bahwa baru saja Anthony ke perusahaannya. Dia akan mengatakannya saat hanya bersama dengan Sara saja nanti.
“Kok bertiga Pa? Kan Evan cuma berdua sama Mama,” balas Evan.
Belva menganggukkan kepalanya, kemudian memberikan jawaban kepada Evan. “Kan ada Mama, kamu, dan calon adik bayi … jadi tiga dong,” balas Belva.
Ah, jadi yang dimaksud Papanya bertiga itu adalah Mamanya, Evan sendiri, dan calon adiknya. Barulah Evan tahu maksud perkataan Papanya itu.
“Oh, iya … Evan lupa,” balasnya dengan tertawa.
Usai itu, Belva mendekat ke Sara dan segera merangkul bahu istrinya itu, “Kangen kamu,” ucap Belva dengan berbicara lirih kepada Sara.
Wanita yang perutnya kian membuncit itu pun tersenyum, “Tumben sih,” balasnya.
“Iya … aku sampai tidak konsentrasi bekerja karena kangen kamu,” jawab Belva dengan jujur kali ini.
__ADS_1
Dirinya pulang karena memang sudah tidak konsentrasi untuk bekerja lagi. Nanti jika sudah berdua dengan Sara, Belva akan menceritakan semuanya kepada istrinya itu apa yang terjadi hari ini. Sekarang, biarlah dia menahannya terlebih dahulu. Nanti malam, Belva akan mengatakan semuanya kepada Sara. Setidaknya dengan berbagi dan menceritakan apa yang terjadi, Belva bisa mengurai masalah yang cukup membebani pikirannya sekarang ini. Biarlah saat ini dia bermain dengan Evan terlebih dahulu, karena Evan juga sangat senang melihat Papanya yang sudah berada di rumah sore itu.