
Sementara itu di tempat yang berbeda, Sara berpamitan dengan karyawannya untuk pulang terlebih dahulu karena dia harus menuju sebuah Mall dan membelikan hadiah untuk Evan. Bukannya lupa, tetapi Sara hanya ingin memberikan kado itu lewat satu hari dari hari lahir Evan. Pikir Sara, biarkan di hari H, Belva dan Anin yang akan memberikan kado untuk Evan, sementara dia baru akan mengirimkan hadiah khusus untuk Evan selang satu hari setelahnya.
"Gaes, aku pamit duluan yah," pamit Sara kali ini kepada karyawan.
"Iya Kak, hati-hati. Nanti kunci Coffee Bay biar aku bawa aja Kak," sahut Nina yang adalah seorang kasir di tempat itu.
"Oke Nina, thanks yah," balas Sara.
Setelahnya, Sara pun memilih memesan sebuah taksi online dan menuju ke sebuah tempat perbelanjaan. Tujuannya kali ini bukan untuk berbelanja bagi dirinya sendiri, tetapi berbelanja untuk Evan. Ya, Sara berpikir akan mengirimkan sebuah hadiah untuk Evan.
Sebelumnya, beberapa hari yang lalu, Sara sudah membuat list barang-barang apa saja yang bisa dijadikan sebagai hadiah untuk bayi berusia satu tahun. Dari laman artikel yang dia baca, ada beberapa barang yang disarankan mulai dari buku, mainan anak, pakaian anak, dan beberapa barang lainnya.
Kamu memang tidak kekurangan apa pun, Evan...
Namun, Bunda ingin memberikan sesuatu di hari ulang tahunmu...
Setidaknya ini adalah cara Bunda menyayangi kamu...
Bunda harap kamu tidak melihat harga barang ini nanti, tetapi lihatlah ketulusanku sebagai seorang Ibu yang ingin menyayangi anaknya.
Dalam benaknya, Sara tentu tahu kekayaan Belva Agastya begitu berlimpah. Secara materi, Evan akan tercukupi. Akan tetapi, Sara ingin memberikan sesuatu untuk putranya. Menunjukkan bahwa dirinya selalu menyayangi dan mengingat Evan.
Setibanya di pusat perbelanjaan, Sara memasuki sebuah Baby Shop dan melihat-lihat berbagai pakaian bayi berusia 12 bulan yang begitu lucu, sepatu-sepatu yang lucu, mainan anak yang beraneka warna, dan lainnya. Sara lantas mengambil beberapa pakaian, sepatu, dan botol ASIP. Sara pikir selama menjadi seorang Ibu, nyaris dia tidak pernah membelikan untuk Evan. Sekarang, Sara ingin membelikan beberapa hal untuk Evan.
Usai membayar semuanya itu, Sara lantas menuju ke sebuah toko buku. Berniat membelikan board book untuk Evan. Beberapa saat Sara memilih-milih buku mana yang tepat bagi Evan.
Pilihannya jatuh ke sebuah buku yang berjudul Aku Sayang Ibu. Dari judulnya saja terlihat bagaimana hati Sara bergetar. Lantas Sara mengambil buku itu melihat setiap gambar dalam halamannya rupanya berisi kisah seorang Ibu yang melahirkan dan mengasuh anaknya.
Hingga akhirnya, Sara memutuskan untuk membeli buku tersebut.
Aku memang melahirkan kamu, Evan…
Akan tetapi, Bunda tidak membesarkanmu…
__ADS_1
Bunda melewatkan bahkan hal berharga dalam tumbuh kembangmu…
Dari buku ini, semoga kamu tahu Bunda selalu sayang kamu, Evanku…
Usai membeli semuanya, Sara lantas memasukkan semua barang-barang yang baru saja dia beli ke dalam kotak kado berwarna biru, dan memasangkan pita di sana. Setelah itu, Sara mulai menuju tempat pengiriman dan mulai mengirimkan paketan itu untuk Evan.
***
Selang beberapa jam kemudian, di kediaman Belva. Seorang kurir pengantaran meneriakkan, "Paket …."
Sekuriti yang menerimanya pun bertanya paketan ini datang dari siapa.
"Dari siapa ya Mas?" tanya sekuriti tersebut.
"Pengirimannya Sara Valeria," jawab sekuriti tersebut.
"Maaf kalau boleh tanya dari kota mana yah?" tanya sang sekuriti lagi.
"Dari Bogor Pak, jadinya pengiriman express beberapa jam sudah sampai. Baiklah Pak, terima kasih," sahutnya.
"Permisi Tuan dan Nyonya, ada paketan," ucap sekuriti tersebut.
"Dari siapa?" tanya Anin.
"Dari Mbak Sara, alamatnya memang tidak disebutkan, tetapi kata kurirnya dari Kota Bogor. Sehingga dalam sehari sudah tiba di Jakarta," jelas sang sekuriti.
Anin dan Belva pun saling pandang, tak mengira jika sekuritinya justru berinisiatif menanyakan dari kota mana pengiriman paket tersebut. Kemudian mereka pun menerimanya.
Usai kepergian si sekuriti, Anin pun menatap Belva, "Ternyata Sara ada di Bogor," ucapnya.
Belva pun merespons dengan menganggukkan kepalanya. Pria itu tidak menyangka jika Sara berada di Bogor selama ini. Kota yang jaraknya cukup dekat dari Jakarta. Akan tetapi, sejauh ini dia mencoba mencari tidak pernah menemukan Sara.
Kemudian Anin membawa paketan itu dan mendekati Evan.
__ADS_1
"Evan, ada paketan dari Bunda kamu. Yuk, kita buka bersama-sama yuk," balas Anin.
Kemudian Anin membuka paketan itu. Pertama dia melepaskan pita yang melilit kotak hadiah berwarna biru itu, dan perlahan-lahan membuka penutupnya. Anin mendapati sebuah kartu ulang tahun di sana. Perlahan, Anin membuka kartu itu.
Happy Wonderful Birthday Evan…
Bunda selalu berdoa untukmu semoga kamu sehat dan bahagia ya Nak…
Sudah satu tahun usiamu, itu berarti sudah satu tahun juga kamu belajar mengenal dunia.
Tumbuhlah jadi anak yang bisa mewarnai dunia.
Bunda percaya, dunia itu yang adalah tempat tumbuh kembangmu akan mengajarkanmu banyak hal …
Jangan takut, tetapi tetaplah belajar dan bertumbuh, Anakku …
I Love U, Evan
With Love,
Bunda Sara
Anin membacakan setiap kata yang tertulis dalam kartu ucapan itu. Sekalipun Evan belum memahaminya, tetapi Anin tetap membacakannya untuk Evan. Bahkan Belva pun turut mendengarkan apa yang baru saja dibacakan Anin.
Anin tersenyum menatap semua hadiah yang diberikan Sara. Terlebih saat mengambil board book untuk Evan yang berjudul Aku Sayang Ibu itu, rasanya Anin memahami bahwa Sara begitu menyayangi dan merindukan Evan, putranya.
"Besok usai mandi, baju-baju dari Bunda dipakai ya, Van … nanti Mama juga akan membacakan buku dari Bunda Sara. Evan pasti senang kan dapat hadiah istimewa dari Bunda Sara," ucap Anin.
“Nda … Nda …,” celoteh Evan dengan sendirinya.
Anin dan Belva pun sama-sama heran karena Evan seolah tengah memanggil Bundanya, yaitu Sara.
“Iya Evan … kamu itu spesial karena kamu memiliki Mama dan Bunda,” jelas Anin.
__ADS_1
Bagi Anin, Evan memang begitu spesial. Sekalipun Evan bukan darah dagingnya, tetapi Anin sangat menyayangi putranya itu. Anin pun mencurahkan semua waktu dan kasih sayangnya secara penuh dan utuh. Bahkan, saat kata pertama Evan ternyata adalah ‘Bunda’, Anin pun justru berbahagia. Itu semua karena Anin tahu bahwa ikatan hati dan batin antara seorang anak dan Bundanya tidak akan pernah terputus. Bahkan sebenarnya Anin pun tidak ingin memutuskan hubungan antara Evan dan Sara.
Cukuplah bagi Anin untuk mengasuh Evan dan merasakan rasanya menjadi seorang Mama untuk putranya itu. Bagaimanapun Evan, tetaplah dia adalah seorang putra yang sangat disayangi dan dikasihi.