Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Menyusul Evan


__ADS_3

Usai melakukan panggilan video dengan Belva, Sara berusah membaringkan dirinya. Mencoba miring ke kiri, tetapi Sara merasa tidak bisa tidur. Mencoba miring ke kanan, tetapi juga Sara tidak bisa tertidur. Tidak ada sosok Belva di sampingnya memang membuat Sara kesepian. Terlebih rasa rindu yang mendominasi membuat Sara justru membuat Sara kian terjaga. Teringat pada sosok Belva, merindukan pelukannya, merindukan aroma parfum kombinasi Sandal Wood dan Peppermint yang segar dari tubuh suaminya itu, dan juga merindukan semua perhatian yang selalu Belva berikan kepadanya.


Untuk itu, Sara kemudian beranjak dari ranjangnya, kemudian berjalan menuju kamar Evan. Wanita itu akhirnya memilih tidur di samping Evan. Tampak Sara memandangi wajah Evan yang terlelap. Sekilas seolah Sara tengah menatap wajah suaminya. Sara berlinangan air mata dan kemudian memeluk Evan.


"Kamu mirip banget sih, Nak sama Papa. Mama kangen Papa, jadi malam ini Mama akan bobok di sini sama kamu yah," gumam Sara dengan lirih.


Tidak membutuhkan waktu lama, Sara kemudian dengan cepat memejamkan matanya. Tidur di samping Evan membuatnya dengan cepat terlelap. Seolah-olah dia tengah memeluk Belva versi kecil. Setidaknya rindu yang menggebu di hatinya sedikit terobati dengan memeluk Evan sepanjang malam ini.


Hingga akhirnya peraduan malam membuat Sara terlelap. Pagi hari, Sara terbangun dengan tersenyum menatap Evan yang masih tertidur. Dengan perlahan, Sara turun dari tempat tidur Evan, kemudian menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Kemudian Sara menuju ke dapur.


“Pagi Bi,” sapa Sara ketika telah tiba di dapur.


“Pagi Mbak Sara … apa semalam Mbak Sara menangis? Kok wajahnya sembab gitu,” tanya Bibi Wati secara langsung.


“Sedikit Bi … kangen Mas Belva,” sahut Sara.


Memang Sara semalam begitu rindu, bahkan saat sekadar melakukan panggilan video saja, Sara terisak-isak. Untung saja semalam Sara memilih untuk menyusul Evan, dan tidur dengan putranya itu sehingga dirinya bisa tertidur. Jika tidak, sepanjang malam pastilah Sara akan terjaga.


“Oalah … Mbak Sara. Mungkin bawaan hamil, jadinya ditinggal suami sebentar saja, sudah kangen. Sabar ya Mbak Sara … besok kan Pak Belva juga sudah pulang,” respons Bibi Wati. “Mau saya bikinkan Teh hangat Mbak Sara?” tawar Bibi Wati kepada Sara kemudian.


“Nanti saja, Bi … Sara mau bikin susu untuk Ibu hamil dulu, rasanya kok ingin minum susu,” balas Sara.

__ADS_1


Tanpa merepotkan Bibi Wati, Sara kemudian membuat sendiri susu untuk ibu hamil. Menuangkan segelas air hangat ke dalam gelas, kemudian memasukkan tiga sendok makan susu dengan rasa cokelat itu perlahan-lahan ke dalam gelas, dan mengaduknya perlahan supaya asam folatnya tidak pecah.


Setelahnya, kemudian meminum perlahan susu yang dibuatnya sendiri itu, tetapi baru meminum seteguk, Sara mengernyitkan keningnya kenapa susu buatannya itu tidak seenak susu buatan Belva. Padahal dia membuatnya dengan takaran yang pas dan cara yang benar. Sara hanya berdiri di kitchen island dan menghela nafas. Apakah memang hamil membuat dirinya seakan-akan tergantung penuh pada Belva. Padahal dulu saat hamil Evan, Sara juga sering membuat susu sendiri, dan rasanya sama enaknya. Namun, kenapa sekarang berbeda.


“Kenapa enggak diminum Mbak Sara?” tanya Bibi Wati. Sebab, tanpa sepengetahuan Sara, rupanya Bibi Wati memperhatikan Sara yang hanya memandangi gelas berisi susu khusus ibu hamil yang tinggi asam folat itu.


Sara tersenyum hambar dan kemudian berbalik menatap Bibi Wati, “Rasanya tidak seenak buatan suami, Bi,” jawab Sara dengan jujur.


Mendengar jawaban Sara nyatanya justru membuat Bibi Wati tertawa, “Mbak Sara ini kelihatannya cinta banget sama Pak Belva. Saya senang melihat pasangan suami istri yang masih muda dan saling mencintai. Kalau terlalu cinta, nanti bayinya bisa mirip Pak Belva loh Mbak Sara,” celoteh Bibi Wati sekarang ini.


“Mirip Mas Belva tidak apa-apa, Bi … biar seperti Evan,” sahut Sara.


Itu memang di mata Sara, Evan begitu mirip dengan suaminya. Walaupun ada fitur wajahnya di wajah Evan, tetapi tetaplah wajah Belva lah yang mendominasi.


Malam harinya …


Saat Sara hendak menidurkan Evan, rupanya kali ini Evan menanyakan keberadaan Papanya. Rupanya bukan hanya Sara yang kangen dengan Belva, tetapi Evan pun sudah merasa kangen dengan Papanya itu.


“Mama, Papa masih lama tidak bekerjanya di Surabaya?” tanya Evan.


“Tidak Van … besok Papa sudah pulang kok. Kenapa, Evan sudah kangen Papa yah?” tanya Sara kepada putranya itu.

__ADS_1


Tampak Evan menganggukkan kepalanya perlahan, “Iya Ma … sudah kangen Papa. Nanti kalau Papa sudah pulang, Evan pengen main bola sama Papa. Kalau sama Mama mainnya begini dulu ya Ma … kan Evan harus menjaga Mama,” ucap Evan.


Memang jika hanya bersama dengan Sara, Evan hanya bermain permainan seperti Lego, Hotwheels, Action Figure, atau membaca buku. Sementara jika bersama dengan Papanya, Evan bisa bermain bola, lari-larian, dan berbagai kegiatan yang menggunakan aktivitas fisik.


“Iya, Nak … sekarang mainnya sama Mama begini dulu yah. Sabar yah,” balas Sara.


“Iya Ma … nanti malam Mama bobok sama Evan saja. Mama pasti tidak bisa tidur kan kalau tidak ada Papa?” tanya Evan kepada Mamanya itu.


Sara tersenyum dan mengusapi puncak kepala Evan, “Iya … semalam saja, Mama menyusul kamu kok, Van. Mama tidak bisa tidur. Mama kangen sama Papa,” cerita Sara kali ini kepada Belva.


“Oh, pantas … kemarin waktu Evan terjaga, kok ada Mama yang tidur di samping Evan.” Evan bercerita rupanya saat dirinya terjaga, ada Mamanya yang tidur di sampingnya.


“Iya, semalam Mama menyusul kamu kok, Van … Mama kangen Papa, makanya Mama susulin kamu soalnya kamu kan mirip banget sama Papa,” jawab Sara sembari tertawa.


Evan pun tertawa, “Evan kayak Papa ya Ma? Evan cakep dong Ma?” tanya Evan kepada Mamanya itu.


“Iya dong … anak Mama ini cakep dong. Putranya Papa Belva Agastya yang cakep. Buat Mama dan Papa, kamu tercakep, Van … cuma kalau orang lain menilai berbeda jangan dimasukkan hati. Sebab, semua orang bebas menilai orang lain menurut kacamatanya,” balas Sara.


Dengan cepat Evan tertawa dan memeluk Mamanya itu. Rasanya memiliki Mama yang selalu ada buatnya, menemaninya bermain, mengasuhnya setiap hari, mendengarkan ceritanya membuat Evan benar-benar senang dan bahagia.


"Makasih Mama ... Evan sayang Mama. Sekarang main Lego lagi yuk Ma ... kita susun Legonya bersama-sama ya Ma," ajak Evan kali ini kepada Mamanya.

__ADS_1


Dengan mengikuti instruksi dari Evan, kemudian Sara turut menyusun Lego. Bermain dengan Evan. Sebab, dengan membersamai tumbuh kembang Evan yang seperti ini akan sangat bagus untuk tumbuh kembang anak. Mengetahui perasaannya, emosinya, dan mendengarkannya. Bukti nyata kasih sayang seorang Ibu yang tulus dan hangat untuk putranya.


__ADS_2