
Hari telah berganti. Tidak terasa hanya menghitung beberapa hari menjelang Hari Perkiraan Lahir (HPL) bagi Sara. Kian hari rasanya, Sara semakin merasa sakit di pinggangnya yang terasa kencang, tiap malam tidak bisa tidur karena harus berkali-kali ke kamar mandi lantaran semakin sering buang air kecil. Kendati demikian, Sara sama sekali tidak mengeluh.
“Bagaimana kehamilanmu, Sara?” tanya Anin kali ini.
Sara hanya menggeleng dan tersenyum, “Tidak ada apa-apa Kak, hanya menunggu dia dilahirkan nanti,” jawab Sara.
“Dia laki-laki atau perempuan?” tanya Anin kemudian.
“Berdasarkan hasil USG dia cowok Kak,” jawabnya lagi. Wanita hamil tampak tersenyum dan mengusapi perutnya yang sudah sedemikian besarnya.
Anin pun turut tersenyum, “Belva pasti akan sangat menyayanginya. Dia putranya Belva,” ucap Anin.
Mendengar apa yang diucapkan Anin, Sara pun mengangguk. Tidak dipungkiri bahwa putranya itu adalah anaknya Belva. darah daging Belva. Hanya saja, Sara merasa sedih karena tidak lama lagi dia akan menyerahkan putranya kepada Belva dan Anin.
Wanita itu kemudian menatap wajah Anin, “Kak, nanti asuhlah baby ini ya Kak … besarkan dia dengan penuh kasih sayang,” ucap Sara. Seakan-akan wanita itu memberikan sebuah wasiat kepada Anin.
Benar, Sara adalah ibu kandungnya, tetapi ibu yang akan merawat dan membesarkan putranya nanti adalah Anin. Oleh karena itu, Sara menitipkan pesan itu. Anin kemudian tersenyum, “Bagaimanapun, kamu Ibu Kandungnya, Sara … tetapi, aku juga akan merawat dan menyayanginya,” jawab wanita itu.
Bukannya merasa sedih, Anin justru merasa bahagia. Dia memiliki kesempatan untuk mengasuh seorang putra, merasa menjadi seorang ibu sekalipun bukan dirinya yang mengandung.
“Kapan HPLnya, Sara?” tanya Anin kini.
“Tujuh hari lagi, Kak … hanya bisa maju dan mundur. Namun, Dokter bilang sudah bisa melahirkan kapan pun, menunggu gelombang cinta dari bayinya saja,” jelas Sara kepada Anin.
Setelah itu, Sara berpamitan dengan Anin, dia hendak masuk ke dalam kamarnya, mempersiapkan sebuah tas yang dibutuhkan untuk bersalin nanti. Dia membuka sebuah koper dan memasuki berbagai pakaian bayi, sabun bayi, shampo bayi, minyak telon, kain untuk membedong, juga perlengkapannya sendiri. Pikir Sara, saat dirinya merasa kontraksi nanti, tinggal mengangkat tas ini saja dan memasukkannya ke dalam mobilnya.
Baru saja Sara menata-nata perlengkapan dalam tas dengan lengkap. Sara tiba-tiba merasakan perutnya yang sakit, pinggangnya terasa kencang. Wanita itu mendesis seakan menahan tangisannya.
“Ssshhss, sakit banget,” gumamnya dengan satu tangan memeganginya pinggangnya yang terasa begitu kencang. Rasanya begitu perit dan begitu melilit, Sara mencoba menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Beberapa kali mencoba merelaksasi diri dan tangannya bergerak mengusapi perutnya.
__ADS_1
“Kamu mau lahir kapan, Nak? Apa kamu mau lahir hari ini?” tanya Sara kepada bayinya itu. Mata Sara pun kemudian berkaca-kaca, “Jika memang kamu mau lahir hari ini, berikan gelombang cinta buat Bunda ya Sayang … kita berjuang bersama-sama yah,” ucapnya. Wanita itu masih berusaha tersenyum sembari menahan rasa sakit di perut dan juga pinggangnya.
Rasa sakit di area bawah perut dan pinggang yang terkadang datang, tetapi terkadang hilang dengan sendirinya membuat Sara melihat aplikasi pendeteksi kontraksi secara digital di handphonenya. Wanita hamil itu juga masih berusaha berjalan-jalan di dalam kamarnya. Saat rasa sakit itu datang, Khaira mengambil nafas dalam-dalam, dan mengeluarkan nafas perlahan melalui mulutnya. Tangannya masih saja bergerak untuk mengelusi perutnya yang terasa mulas.
“Nak, kalau memang kamu mau lahir hari ini, berikan Bunda gelombang cinta yang lebih sering yah … kalau gelombang cinta dari kamu sudah sering, nanti Bunda akan telepon Papa kamu,” ucapnya kini.
Usai mengatakan itu, Sara masih berusaha melakukan jongkok dan berdiri di dalam kamarnya untuk menambah pembukaan. Namun, saat kontraksi itu datang lagi, Sara memilih duduk dan menyandarkan punggungnya di sofa. Rasa sakit yang datang dan menekan bawah perutnya terasa lebih sering, hingga badannya pun mengeluarkan keringat dingin setiap kali kontraksi itu datang.
Melihat catatan penghitung kontraksi di handphone nya yang lebih sering, Sara memilih untuk segera berganti baju. Betapa terkejutnya dia saat hendak berganti baju, dia mendapati bercak darah di pakaian dalamnya. Sara masih mencoba tenang, ya wanita itu memilih tenang dan mengganti pakaiannya, setelahnya dia akan segera menelpon Belva.
Pak Belva
Memanggil
“Halo Pak Belva,” sapa Sara sembari menahan nafas karena saat itu rasanya gelombang kontraksi itu datang lagi.
“Iya, halo … ada apa Sara? Kamu membutuhkan sesuatu?” tanya Belva melalui sambungan teleponnya.
Sebenarnya ada Anin dan sopir di rumah yang bisa mengantarkan Sara, hanya saja saat ini pikiran Sara hanya fokus kepada Belva. Melibatkan Papa dari bayinya itu untuk turut berjuang bersama dengannya.
“Kamu mau melahirkan?” tanya Belva di sana. Pria itu terlihat panik seketika.
Walaupun Sara mengatakan dengan tenang, nyatanya di kantornya sana Belva tetap saja merasa panik dan juga cemas. Belva lantas mematikan Personal Computer di meja kerjanya, dan dia berlarian keluar dari ruangannya menuju ke tempat parkir mobilnya. Sekretarisnya pun hingga bingung dengan Belva yang berlari-larian di kantornya.
“Tahan dulu Sara … aku pulang, tunggu aku,” ucap pria itu dengan begitu panik.
Perjalanan dari kantor menuju ke kediamannya pun ditempuh dengan waktu yang singkat, karena Belva benar-benar mengebut dan ingin segera menemui Sara di rumahnya. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada Sara.
Begitu sudah tiba di rumah, Sara sudah bersiap dengan tas-tas miliknya. Wanita itu menunggu dengan duduk di sofa di kamarnya.
__ADS_1
“Sara, gimana?” tanya Belva begitu tiba di rumah dan mendatangi Sara di kamarnya.
Wanita yang tengah kesakitan merasakan momen menjelang bersalin itu, masih berusaha tersenyum, “Masih bisa nahan kok, Pak … ke Rumah Sakit sekarang yuk Pak?” ajaknya.
“Iya, ayo … tadi aku sudah menghubungi Dokter Indri juga, aku bilang kalau kamu sudah ada tanda-tanda mau melahirkan,” ucap Belva. Pria itu menuruni anak tangga dengan merangkul pinggang Sara.
“Bisa tidak?” tanya Belva.
Sara mengangguk, “Iya bisa,” jawabnya dengan yakin.
Di bawah Bibi Wati yang tengah berkutat di dapur pun menghentikan keduanya, “Maaf … Mbak Sara ada apa?” tanyanya.
“Kelihatannya sudah waktunya bersalin, Bi,” jawab Sara.
Tidak menyangka Bibi Wati pun segera memeluk Sara. Wanita yang berprofesi sebagai ART itu mengusapi punggung Sara, “Mbak Sara … Bibi doakan melahirkannya lancar yah. Selamat, sehat, Mbak Sara dan bayinya baik-baik saja,” ucap Bibi Wati dengan tulus.
Mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari Bibi Wati membuat Sara benar-benar menangis, wanita itu terisak, “Makasih Bi … doakan Sara yah,” balasnya.
“Tolong sampaikan kepada Anin, saya akan mendampingi Sara di Rumah Sakit ya Bi,” pesan Belva kepada Bibi Wati.
“Iya, baik Pak … nanti saya sampaikan kepada Bu Anin,” sahut Bibi Wati.
Setelahnya, Belva membawa Sara untuk segera memasuki mobilnya, tidak lupa memasukkan tas-tas yang sudah Sara persiapkan sebelumnya. Pria itu menjalankan mobilnya dengan sesekali melirik Sara.
“Gimana Sara, sakit banget yah?” tanya Belva kemudian.
Sara tersenyum, “Ah, iya … sakit banget,” jawabnya.
Baru selesai Sara berbicara, gelombang cinta dari babynya kembali datang membuat Sara menahan nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Tangannya mengusapi perutnya dengan lembut. Wajah Sara hingga memerah karena menahan rasa sakita yang datang begitu kuat.
__ADS_1
“Sabar ya Sara … sebentar lagi kita akan tiba di Rumah Sakit,” ucap Belva. Satu tangan pria itu juga turut mengusap-usapi perut Sara.
Belva berharap bahwa Sara bisa sedikit menahan hingga keduanya tiba di Rumah Sakit nanti. Sekali pun panik, tetapi Belva berjanji bahwa dia akan menemani Sara untuk melahirkan.