Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Haruskah Melakukan Saran Dokter?


__ADS_3

Sepulang dari Rumah Sakit, jika biasanya Belva banyak tersenyum, tetapi kali ini pria itu justru hanya diam. Seakan pria itu tengah banyak pikiran. Selain karena usia kandungan Sara yang kian mendekati hari perkiraan persalinan. Sesungguhnya ada satu hal lagi yang menjadi pemikiran Belva kali ini yaitu apakah harus melakukan saran Dokter untuk memperlancar persalinan Sara. Lagipula, sudah sekian bulan lamanya Belva tidak menggumuli Sara. Itu karena Sara yang memintanya untuk tidak menyentuhnya. Akan tetapi, beberapa kali Belva masih memeluk dan mencium bibir wanita itu. Belva memang telah berjanji untuk tidak menggumuli Sara, tetapi bukan berarti dia juga tidak bisa menyentuh Sara.


Begitu telah sampai di rumah, dengan perlahan Belva menuntun Sara memasuki kamarnya. Pria itu lantas turut masuk ke dalam kamar Sara, duduk di samping Sara.


"Sara, boleh aku berbicara sesuatu?" izin Belva kali ini.


Ya, Belva memang sudah menjalankan apa yang Sara mau selama ini. Hanya saja, menimbang bahwa berhubungan bisa memperlancar persalinan tentu menjadi pertimbangan lain bagi Belva.


Perlahan Sara pun mengangguk, "Iya, Pak … ada apa?" tanyanya.


"Begini Sara, sebelumnya kumohon kamu jangan salah paham. Hanya saja, tadi Dokter Indri mengatakan supaya persalinan normal nanti lancar, kita harus berhubungan suami istri. Hmm, jadi bukankah sebaiknya kita melakukannya?" tanya Belva.


Bagi Belva, dia ingin tahu bagaimana pendapat Sara. Lagipula, apa pun keputusan Sara tetap itu yang akan Belva lakukan. Tidak ingin bersikap sesukanya sendiri, walaupun dia bisa memberikan alibi bahwa Sara adalah istrinya, halal baginya. Namun, Belva nyatanya tidak melakukan itu. Belva tetap melakukan apa yang dimintai Sara.


Sara hanya bisa terdiam. Apa yang disampaikan Dokter Indri memang benar, tetapi jika harus memperlancar persalinan dengan melakukan hubungan suami istri, mengapa dirinya merasa gamang saat ini.


Melihat diamnya Sara, tangan Belva pun terulur dan merangkul bahu Sara. "Tidak usah dijawab dan tidak usah dipikirkan jika kamu ragu," ucap pria itu.


Sara pun mengangguk. Pada dasarnya memang dia tidak bisa memberikan jawaban. Hanya saja dirinya begitu gamang rasanya. Hingga kemudian, Sara sedikit menoleh Belva, menatap wajah pria itu.


"Menurut Pak Belva bagaimana?" tanyanya kini.


Belva tampak diam, jawaban apa pun kelihatannya akan serba salah. Akan tetapi, pria itu lantas menatap wajah Sara, "Begini Sara … jika kamu mau melahirkan normal, kenapa kita tidak coba melakukannya? Bukan sekadar hasrat belaka, Sara … tetapi setidaknya aku ada andil untuk menolongmu bersalin nanti." Belva berbicara dengan serius.

__ADS_1


Sara kemudian menatap wajah Belva, dirinya sendiri penuh dengan kebimbangan, dan sekarang sudah jelas Sara tidak bisa memberikan jawaban yang pasti kepada Belva. Wanita itu hanya diam.


Menyadari bahwa Sara hanya diam, Belva lantas berdiri, "Ya sudah, tidak perlu dipikirkan. Sekarang kamu istirahat saja. Tidurlah, aku akan menunggumu sampai kamu tertidur," ucap pria itu.


Sara mengangguk, kemudian dia membaringkan dirinya ke atas tempat tidur. Nyatanya sudah berupaya memejamkan matanya, Sara justru tidak bisa tertidur. Sementara Belva pun hanya berbaring dan melingkarkan tangannya di pinggang Sara. Menyadari bahwa Sara yang masih gelisah dan seolah kepikiran dengan sesuatu, Belva kemudian mengelus lengan Sara perlahan.


"Kamu kenapa? Tidak bisa tidur?" tanyanya.


Wanita hamil itu kemudian mengangguk, "Iya ... aku berusaha memejamkan mataku, tetapi sama sekali tidak bisa tertidur," jawabnya.


Belva lantas tersenyum, "Kamu kepikiran dengan pesan dari Dokter Indri tadi?" tanyanya dengan tiba-tiba.


Dengan cepat Sara pun menggelengkan kepalanya, "Ah, tidak ... aku sama sekali tidak memikirkannya. Lagipula untuk apa aku memikirkan semuanya itu," kilahnya kali ini.


"Sudah, tidurlah ... aku akan memelukmu," ucap pria itu dengan lembut.


Lantas Sara mengangguk, dia berusaha untuk kembali memejamkan matanya. Berharap dirinya benar-benar bisa terlelap, tetapi nyatanya sia-sia, hingga nyaris tengah malam barulah Sara bisa tertidur.


***


Keesokan harinya ...


Sara bangun dengan mata yang sayu, mungkin karena memang kurang tidur. Sebenarnya masih terlalu pagi, tetapi Sara memilih untuk segera membersihkan dirinya dan dia ingin meminum susu stroberi khusus untuk ibu hamil miliknya.

__ADS_1


Akan tetapi, saat Sara selesai mandi, nyatanya Sara justru terasa begitu mengantuk sehingga dia kembali tidur dengan menyandarkan kepalanya di sofa. Matanya terasa begitu berat, hingga tiba-tiba saja matanya terpejam.


Menjelang waktunya sarapan, Belva tampak mencari sosok Sara di meja makan itu. Biasanya Sara akan terlebih dahulu tiba di meja makan, tetapi pagi ini berbeda karena Sara tidak ada di tempat itu.


"Sara di mana Bi?" tanya Belva kepada Bibi Wati.


"Belum turun itu, Pak Belva. Apa perlu saya panggilkan di kamarnya?" tanya Bibi Wati.


Dengan cepat Belva pun menggelengkan kepalanya, "Tidak ... tidak perlu, Bi ... nanti saya yang akan ke kamar Sara saja. Saya mau bawa sarapan ke kamar Sara saja, Bi," ucapnya.


Hingga akhirnya Belva sendiri membawa sebuah nampan berisikan menu sarapan yang cukup untuk dirinya dan Sara. Setelah itu dia memasuki kamar Sara yang memang tidak dikunci.


Belva terkejut melihat Sara yang terlelap di sofa. Pria itu lantas mendekati Sara. Menyibak untaian rambut yang menutupi separuh wajahnya, mendengar dengkuran halus dari Sara.


"Kamu kelelahan dan kurang tidur ya Sara?" ucapnya lirih. Tanpa permisi, Belva mendaratkan sebuah kecupan di kening Sara.


Cup!


“Aku tahu bahwa semalaman kamu tidak bisa tidur. Terlebih perutmu kian membesar, pasti tidak nyaman sekali buatmu. Engap dan pinggang yang terasa sakit, tetapi selama ini kamu justru tidak pernah mengeluh. Terima kasih banyak Sara,” ucap Belva.


Kemudian Belva dengan segera mengangkat badan Sara, dan menidurkan wanita itu di atas tempat tidurnya. Setelahnya, Belva turut bergabung dengan Sara. Memeluk wanita hamil itu dan memeluk Sara dengan begitu eratnya.


“Sekarang tidurlah dulu, karena ini hari libur biarkan aku menemanimu di sini,” ucap Belva sembari memeluk tubuh Sara yang hangat. Bibirnya beberapa kali menciumi puncak kepala Sara, dan tangannya mengelus perut Sara yang sudah begitu besar.

__ADS_1


__ADS_2