
Malam hari di Meja Makan …
Belva, Anin, dan Sara tengah sama-sama menikmati makan malam mereka. Sekali pun sikap pasangan suami istri terasa begitu dingin, tetapi sudah sekian bulan berlalu, Sara lebih bisa beradaptasi dengan sikap dingin Belva dan Anin. Jikalau dulu, dirinya merasa canggung dan tidak enak hati. Sekarang, Sara bisa lebih membawa diri dan mengikuti pola di dalam kediaman Belva.
Akan tetapi, ada yang berbeda kali ini yaitu wajah Anin yang terlihat lebih banyak tersenyum dan juga tampak wanita itu terlihat banyak berbicara.
“Sara, kapan-kapan kita ke kafe milik temanmu tadi ya? Rasanya Cappucino buatannya sangat enak,” ucap Anin dengan tiba-tiba.
Sara kemudian mengangguk, “Iya Kak,” jawabnya.
Akan tetapi, berbeda dengan Belva yang sekali pun tidak terlihat ingin turut terlibat pada obrolan Sara dan Anin, tetapi pria itu tampak mengernyitkan keningnya.
“Siapa nama temanmu tadi, Sara? Aku lupa,” tanya Anin lagi kepada Sara.
Mengingat kehadiran Belva di sini, agaknya Sara harus rela jika pria itu kembali menyemprotkan hand sanitizer bukan hanya ke telapak tangannya, tetapi buka ke badannya. Sara tampak meneguk salivanya barulah menjawab, “Zaid … namanya Zaid, Kak,” jawab Sara sembari melirik Belva.
“Ah, iya … Zaid,” sahut Anin dengan cepat.
Beberapa saat berlalu, barulah Belva mulai mengeluarkan suaranya, “Jadi kalian tadi ke kafe?” tanyanya tanpa menatap Anin maupun Sara, mata pria itu tampak mengamati pada makanannya yang ada di piring.
“Iya, usai terapi tadi, aku mengajak Sara mampir ke sebuah kafe. Sebatas mengisi waktu luang,” jawab Anin dengan tersenyum.
Akan tetapi, Belva tetap menunjukkan wajahnya yang datar. Tampak tidak tertarik, tetapi pria itu bertanya kepada mereka. Sungguh, pria yang aneh.
“Di kafe kamu minum Cappucino juga Sara? Kamu tahu kan kalau ibu hamil itu tidak boleh minum kopi dalam jumlah yang terlalu banyak karena bisa berbahaya untuk kesehatan ibu dan janinnya," ucap Belva dengan panjang lebar.
Sontak saja, Sara menghentikan kegiatan tangannya yang tengah memegang sendok dan garpu. Bahkan Sara kesusahan menelan makanan yang masih berada di dalam mulutnya. Rasanya Belva tengah marah padanya. Ya, Sara yakin jika Belva marah atau tidak suka karena Zaid, bukan karena Cappucino.
Akan tetapi, saat Sara hendak menjawab dan bersuara. Rupanya Belva kembali bersuara, “Kuharap kamu tidak minum kopi lagi Sara, pikirkan kesehatan bayi itu,” ucap Belva.
Sekali pun suara Belva terdengar seperti biasanya, tetapi nyatanya kedua mata Sara tampak berkaca-kaca. Rasanya dia seperti seorang pencuri yang dipermalukan di khalayak ramai. Ditambah juga, Sara belum memberikan penjelasan sama sekali dan Belva sudah menunjukkan ketidaksukaannya.
Sara lantas mengambil gelas berisi air putih di sisi piringnya dan kemudian menenggaknya separuh.
“Aku duluan Kak Anin dan Pak Belva,” ucapnya.
__ADS_1
Wanita itu kemudian berlalu pergi ke kamarnya. Rasanya sakit saja saat Sara sama sekali belum memberikan jawaban, tetapi Belva seolah-olah sudah menghakiminya.
Sepeninggal Sara, Anin tampak menghela nafasnya. Wanita itu kini menatap Belva dengan sorot matanya yang tajam, “Seharusnya kamu dengar jawaban dia terlebih dahulu. Aku yang meminum Cappucino, bukan Sara. Di sana Sara memesan Jus Alpukat karena kamu pernah berkata bahwa Alpukat itu baik untuk ibu hamil. Aku tahu, bayi itu sangat penting untukmu, tetapi jangan seperti itu. Kasihan Sara,” ucap Anin.
Seolah penjelasan Anin barusan menyadarkan Belva bahwa dia tidak memberikan waktu untuk Sara. Pria itu terlalu mengomel hingga tidak mendengar jawaban yang diberikan Sara.
“Tenangkan dia, kasihan Sara itu sedang mengandung anakmu … tega kamu memperlakukannya seperti itu,” ucap Anin dan wanita itu pun pergi meninggalkan Belva seorang diri di meja makan itu.
Belva menghela nafasnya sembari mengusap kasar wajahnya, kemudian dia melihat pada tempat duduk yang kosong dengan piring yang masih penuh dengan nasi dan sayuran. Belva merasa bersalah karena pasti perut Sara masih kelaparan karena wanita itu baru makan sedikit.
Belva kemudian berdiri, membuat segelas yogurt dengan rasa stroberi yang diperuntukkan bagi ibu hamil. Dia ingin mendatangi kamar Sara tanpa tangan kosong, tetapi dengan membawa sesuatu untuk Sara. Setelah yogurt dingin itu sudah jadi, Belva kemudian berjalan menaiki anak tangga dan mendatangi kamar Sara.
“Sara, aku masuk ya,” ucapnya sembari membuka daun pintu kamar Sara yang memang tidak terkunci.
Sorot mata Belva tampak mencari-cari Sara, hingga akhirnya pria itu melihat Sara yang tengah berbaring meringkuk di atas kasur. Hatinya tiba–tiba diselimuti rasa bersalah. Belva mendengkus dan menaruh segelas yogurt itu di atas nakas, dan kemudian merangkak menaiki ranjang Sara. Pria itu berusaha membuka tangan Sara yang sedang menutupi wajahnya.
“Hei, kamu kenapa?” tanyanya perlahan.
Akan tetapi, Sara hanya diam. Tidak ingin memberi jawaban kepada pria menyebalkan itu.
Ya, rasanya memang Belva merasa sangat bersalah kepada Sara. Di meja makan tadi dirinya telah banyak berbicara, dan sekarang Belva harus meluruskan semuanya dan meminta maaf kepada Sara.
Belva kemudian mencoba meraih tubuh Sara dengan memeluknya, tetapi Sara menghindar. Wanita mengubah posisinya dan kini memunggungi Belva.
“Maafkan aku,” ucap Belva lagi kali ini.
Satu tangan pria itu tampak bergerak dan mengusapi rambut Sara, membelainya dengan lembut.
“Aku hanya khawatir dengan kesehatanmu dan bayi itu, jangan minum kopi. Akan tetapi, caraku salah … aku minta maaf kepadamu,” ucap Belva dengan sungguh-sungguh.
Melihat Sara yang hanya diam, Belva tidak masalah karena memang kali ini dirinya lah yang salah. Oleh karena itu, Belva kemudian menyibak rambut Sara. Memperlihat sisi wajah wanita itu yang basah lantaran berlinangan air mata. Belva yang berada di belakang Sara, memajukan tubuhnya, menundukkan wajahnya dan mengecup sisi wajah Sara.
Cup.
Cup.
__ADS_1
Cup.
Sentuhan bibir yang menempel di wajah Sara membuat Sara meremang, tetapi wanita itu masih enggan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
“Buka tanganmu itu, atau aku akan terus menciumimu,” ucap Belva dengan sungguh-sungguh.
Merasa takut dengan ancaman Belva, Sara kemudian menurunkan telapak tangannya dari wajahnya. Wanita itu memilih duduk dan memalingkan wajahnya dari Belva.
Belva turut beringsut, dan pria itu duduk di hadapan Sara, tangannya bergerak untuk membawa wajah Sara dan menatapnya.
“Lihat aku, Sara … aku minta maaf. Ucapanku tadi menyakitimu. Aku buru-buru berbicara tanpa mendengar jawabanmu terlebih dahulu,” ucapnya. “Pasti itu yang membuatmu marah kan?” tanya Belva.
Lagi, mata Sara tampak berkaca-kaca dan wanita itu tampak menatap Belva dengan hati yang pilu. Hingga akhirnya Sara mulai bersuara.
“Aku hanya malu dan tidak suka kamu memarahiku di depan Kak Anin. Aku malu, Pak … lagipula, aku tidak minum kopi di sana,” ucapnya dengan terbata-bata lantaran menahan isakan tangis.
Belva kemudian mengangguk, “Iya, aku tahu. Kamu minum jus alpukat di sana?” tanyanya perlahan.
“Iya,” sahut Sara.
Kemudian Belva mengulurkan tangannya di depan Sara, “Maafkan aku,” ucapnya lagi.
Sara mengangguk dan mengulurkan tangannya menjabat tangan pria itu, “Ii … iya,” sahutnya.
Tanpa berpikir lama, Belva lantas merengkuh tubuh Sara dalam pelukannya. Membiarkan sejenak waktu berlalu, asalkan pria itu bisa merengkuh hangatnya tubuh Sara.
Setelahnya, Belva mengurai pelukannya, tangannya bergerak menyerahkan yogurt stroberi untuk Sara, “Ini, minumlah … kamu pasti masih lapar kan?” tanyanya perlahan.
“Tidak aku tidak lapar,” sahut Sara dengan cepat.
“Baiklah, kalau begitu minumlah yogurt,” ucap Belva.
Tangan Sara terulur dan menerima yogurt itu lantas meminumnya perlahan. Namun, saat dirinya tengah meminum yogurt itu, Sara terkesiap karena tangan Belva kini yang terlihat tengah mengelusi perutnya yang telah membuncit.
“Sehat-sehat buat kamu dan My Little One,” ucap Belva dengan lembut. Pria itu lantas menunduk dan memberikan kecupan di perut Sara.
__ADS_1
Sara pun termangu, wanita itu kembali berdesir dalam hatinya. Andai saja dirinya tidak terikat kontrak sebatas sewa menyewa rahim, rasanya pasti menyenangkan memiliki suami sepengertian Belva.