
"Sayang, aku lusa ada pekerjaan ke luar kota. Kamu tunggu aku pulang yah," ucap Belva kali ini kepada Sara.
Sebagai orang yang bekerja di bidang property memang terkadang membuat Belva harus melakukan survei lahan di luar kota. Kendati demikian, selama dua tahun hidup menduda, Belva memang sebisa mungkin mengurangi untuk melakukan survei lahan. Semua dia serahkan kepada Ridwan. Akan tetapi, sekarang Belva sudah memiliki Sara sehingga memang Belva mau kembali mengambil pekerjaan untuk survei lahan.
"Ke mana Mas? Berapa lama?" tanya Sara kepada suaminya itu.
"Ke Surabaya, Sayang … hanya tiga hari kok. Tidak akan lama," balas Belva.
Tampak Sara mengernyitkan keningnya dan segera memeluk suaminya itu. "Tiga hari itu lama dong Mas … kalau aku kangen bagaimana?" tanya Sara.
Seakan-akan justru Sara terlihat tidak ingin berjauhan dengan suaminya itu. Mungkin juga efek Sara yang sedang hamil, dan rasanya tidak ingin jauh-jauh dari suaminya itu.
"Aku juga kangen sama kamu, Sayang … hanya saja harus cek lahan. Sebab, ini adalah projek yang sangat penting buat Agastya Property. Hanya tiga hari, Sayang. Maaf," ucap Belva.
__ADS_1
Sebenarnya Belva sendiri juga ragu untuk meninggalkan Sara terlebih Sara dalam keadaan hamil. Hanya saja mengingat pentingnya pekerjaan ini membuat Belva harus turun tangan.
"Baiklah, janji yah … hanya tiga hari. Kalau terlalu lama, aku bisa rindu," balas Sara.
Pria itu tersenyum dan mengecup kening istrinya itu. "Aku sendiri sebenarnya tidak bisa jauh-jauh dari kamu. Aku usahakan begitu urusan survei lahan selesai, aku akan pulang lebih cepat," janji Belva kali ini kepada Sara.
"Iya Mas, gak apa-apa," balas Sara dengan kian mencerukkan wajahnya di dada suaminya itu.
Keesokan harinya …
Dengan susah payah Sara menahan air matanya supaya tidak jatuh saat Belva berpamitan kepadanya dan juga kepada Evan. Sekarang, pria itu tampak membungkukkan badannya mensejajarkan dirinya dengan Evan dan berpamitan dengan putranya itu.
"Evan, Papa bekerja ke Surabaya dulu yah. Evan di rumah dulu sama Mama. Jaga Mama ya Nak, Mama baru hamil adiknya Evan. Kalau mengajak Mama bermain boleh yang penting jangan buat Mama kecapekan yah," ucap Belva yang memberikan pesan kepada putranya.
__ADS_1
Evan yang mendengarkan berbagai pesan dari Papanya juga menganggukkan kepalanya, "Ya Pa ... Evan akan selalu menjaga Mama di rumah. Evan kan sayang sama Mama, jadi Evan akan menjaga Mama dan adik bayi," balas Evan.
Bahkan anak seusia Evan saja sudah bisa bersikap dewasa. Evan terlihat bisa menerima pesan yang diucapkan Belva dan berjanji akan menjaga Mamanya yang saat ini tengah hamil.
"Good! Makasih Evan, karena sudah mau mengerti Papa dan juga mau menjaga Mama. Jadi anak yang baik yah," balas Belva sembari memeluk putranya itu.
Kemudian Belva berdiri, menegakkan punggungnya dan kemudian segera memeluk Sara.
"Sayang, aku berangkat ke bandara sekarang yah. Hati-hati di rumah. Jangan bersedih, aku hanya kerja ... nanti kalau bisa selesai lebih cepat, aku akan usahakan pulang duluan. Hmm, Bumilku jadi cengeng kayak gini," ucap Belva yang melihat air mata akhirnya jatuh juga dari sudut mata Sara.
Dengan menahan isakan tangis supaya tidak pecah, Sara pun menganggukkan kepalanya, "Iya ... hati-hati ya Papa. Mama dan Evan akan selalu menunggu Papa pulang. Kalau sudah selesai pekerjaannya segera pulang yah."
Sara membalas dan mengatakan bahwa dia dan Evan akan selalu menunggunya kembali. Walaupun bersedih, tetapi mau tidak mau dia harus merelakan suaminya untuk melakukan pekerjaan ke luar kota.
__ADS_1