Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Penjelasan Belva kepada Orang Tuanya


__ADS_3

“Apa pentingnya masa lalu dan latar belakang seseorang, jika yang Belva butuhkan hanyalah Sara seorang?” tanya Belva kini kepada Mamanya.


Wanita paruh baya itu lantas menatap Sara. Memperhatikan penampilan wanita yang tangannya masih digenggam oleh putranya itu, dari ujung kepala sampai ujung kaki, semuanya diperhatikan oleh Mama Diana.


Sungguh, diperhatikan seperti ini membuat Sara begitu risih. Akan tetapi, Sara memilih menunduk. Sekadar berkontak mata dengan Mama Belva saja membuat Sara begitu takut rasanya.


“Ma, biarkan Kakak duduk dulu,” sela Amara kali ini.


Mama Diana akhirnya menganggukkan kepalanya, dan mempersilkan Belva dan Sara untuk duduk terlebih dahulu. “Duduklah dulu,” ucap Mama Diana pada akhirnya.


Belva lantas mengajak Sara untuk duduk, ada remasan di tangan Sara kali ini. Seolah Belva ingin berkata bahwa semuanya akan baik-baik dan meminta Sara untuk percaya kepadanya. Sebab, Belva tak akan pernah melepaskan genggaman tangannya kali ini.


“Siapa nama lengkapmu?” tanya Mama Diana kepada Sara kali ini.


“Sara … Sara Valeria,” sahut Sara dengan lidah yang begitu kelu. Akan tetapi, Sara tetap berusaha untuk menjawab pertanyaan Mama mertuanya itu.


“Pekerjaan orang tuamu apa?” tanya Mama Diana lagi.


“Kedua orang tua Sara sudah meninggal sejak Sara masih berusia belasan tahun,” jawab Sara.


Sebenarnya, hati Sara begitu sesak setiap kali ada orang yang menanyakan perihal kedua orang tuanya. Akan tetapi, karena sekarang yang bertanya adalah orang tua Belva sehingga mau tidak mau, dia harus menjawabnya.


“Kamu lulusan apa?” tanya Mama Diana.


“Ma, sudah Ma … Mama apa-apa menanyakan pertanyaan seperti ini kepada Sara,” sergah Belva kali ini.

__ADS_1


Akan tetapi, Mama Diana mengangkat tangannya dan meminta Belva untuk diam saja, karena sekarang dia ingin bertanya kepada Sara.


“SMA,” sahut Sara.


Saat Sara menjawab bahwa dirinya hanyalah lulusan SMA, Mama Diana tampak terkejut. Sungguh, tak menyangka bahwa istri putranya itu hanyalah seorang lulusan SMA. Seorang CEO sekelas Belva memilih menikahi wanita yang tidak berpendidikan tinggi.


“Mengapa kamu mau dinikahi oleh putra saya?” tanya Mama Diana.


Sara menghela nafas sesaat, kemudian memejamkan matanya sekilas, barulah Sara mulai menjawab pertanyaan mertuanya itu, “Saya … saya mencintai Mas Belva,” balas Sara kini.


Di hadapan kedua orang tua Belva, di hadapan Amara dan Rizal, Sara mengatakan dengan jelas bahwa dia menerima pinangan dari Belva tentu karena Sara mencintai Belva. Cinta yang telah tertahan sejak lama.


Tidak ingin Sara terus-menerus diberikan pertanyaan, perlahan Belva pun mengangkat wajahnya dan mulai menatap wajah Mama dan Papanya yang duduk di hadapannya.


“Mama … Papa, tolong restui kami berdua. Belva sangat mencintai Sara … kami saling mencintai. Pernikahan kami berdua murni karena cinta. Belva ingin Sara menjadi wanita terakhir yang akan menemani seumur hidup Belva,” ucap Belva kali ini dengan sungguh-sungguh.


“Cinta itu tidak bisa dipaksakan Ma … Belva hanya mencintai Sara. Belva tidak bisa mencintai wanita lainnya,” balas Belva.


“Apakah mungkin pria seusiamu yang menduda bisa kembali jatuh cinta? Lagipula, belum tentu dia bisa menerima masa lalu dan juga putramu,” sahut Mama Diana kini.


Belva yang sedari tadi mencoba menahan diri, perlahan pun mulai membuka suaranya. “Mama harus merestui kami berdua karena Sara adalah ibu kandung, Evan, Ma … ya, Sara adalah Ibu kandungnya, Evan.”


Rahasia yang selama ini disimpan Belva dengan rapat-rapat, tanpa pernah diceritakan kepada kedua orang tuanya sekalipun kali ini, rahasia itu terungkap juga.


“Maksud kamu apa Belva?” tanya Papa Agastya Wijaya kepada putranya itu.

__ADS_1


“Sara memang Ibu kandungnya Evan karena selama menikah dengan Belva, mendiang Anin mengidap endometriosis yang membuatnya dia tidak memiliki keturunan. Di masa lalu, Belva pernah menikahi Sara secara siri untuk mendapatkan Evan. Pernikahan yang berlangsung selama 12 bulan. Setelah itu, Sara dengan sukarela menyerahkan Evan kepada Belva dan mendiang Anin. Seorang Ibu yang rela menyerahkan anaknya sendiri, bagaimana mungkin Mama meragukan Sara,” jelas Belva kali ini.


Pengakuan Belva membuat semua yang ada di situ begitu tercengang. Tidak mengira bahwa kebenaran asal-usul Evan pun akhirnya terungkap. Evan adalah putra kandung Belva bersama Sara, bukan bersama mendiang Anin. Kali ini, tidak ada hal lain lagi yang ditutup-tutupi Belva.


“Seorang gadis yang rela Belva nikahi secara sirih untuk mendapatkan keturunan. Begitu bayinya lahir, Sara menyerahkannya kepada Belva dan Anin. Saat kami berdua meminta Sara untuk tinggal karena mendiang Anin mengizinkan Belva untuk berpoligami, tetapi Sara menolaknya dengan alasan menghargai perasaan Anin. Tidak hanya sampai di situ, Sara pergi dari rumah Belva, tetapi setiap dua minggu dia mengirimkan puluhan kantong ASIP untuk Evan. Dari jauh naluri keibuannya tetap bergerak. Seorang Ibu yang mau putranya mendapatkan nutrisi dari ASIP yang selalu dia kirimkan secara rutin. Bagaimana Mama dan Papa bisa menolak seorang gadis yang telah berkorban sedemikian banyak untuk Belva?” tanya Belva kali ini.


Mendengar semua cerita Belva, tidak menyangka Mama Diana meneteskan air matanya. Sungguh, dia tidak tahu menahu dengan kehidupan rumah tangga putranya karena Belva adalah sosok yang tertutup dan tidak pernah berbicara perihal rumah tangganya kepada orang lain termasuk orang tuanya sendiri. Belva lebih suka menyimpan segala sesuatu di dalam hatinya.


Sara pun meneteskan air matanya kali ini, tidak mengira bahwa kebenaran masa lalunya bersama Belva akan tersingkap kali ini. Wanita itu begitu malu sebenarnya, tetapi masa lalunya akan tetap tersingkap kapan pun terlebih di hadapan keluarga suaminya.


“Maafkan Mama, Belva … Mama tidak tahu dengan penderitaanmu,” ucap Mama Diana kini.


Perempuan paruh baya itu, perlahan membuka tangannya dan memanggil nama Sara.


“Sara … kemarilah Nak,” ucap Mama Diana dengan terisak.


Sara menatap sekilas ke arah Belva, saat suaminya itu memberikan anggukan, perlahan Sara pun beranjak dari tempatnya dan mendekat ke arah Mama Diana.


Rupanya, Mama Diana segera merengkuh tubuh Sara dan memeluknya dengan erat. “Maafkan Mamamu ini, Sara … maafkan Mama,” ucap Mama Diana kini.


Sara menganggukkan kepalanya dengan berlinangan air mata, “Tidak perlu meminta maaf, Ma,” balas Sara.


“Mama menerimamu, Nak … terima kasih sudah mencintai putra Mama dengan begitu besarnya,” ucap Mama Diana kini kepada Sara.


“Terima kasih Ma,” ucap Sara dengan terisak.

__ADS_1


Belva benar-benar lega karena restu dari kedua orang tuanya sudah dia dapatkan. Sekalipun di awal seolah-olah Mama Diana tampak tidak menyukai Sara, tetapi sekarang Mama Diana sudah bisa menerima Sara. Inilah yang Belva inginkan. Melihat orang tuanya bisa menerima Sara dengan tulus.


__ADS_2