Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Cerita Belva


__ADS_3

Malam hari, Sara dan Belva sudah sama-sama berada di hotel. Bukan seperti pasangan bulan madu yang memilih menghabiskan waktu bersama memadu cinta di hotel. Seharian justru Belva dan Sara memilih mengunjungi Namsan Tower dan Sungai Han. Selain itu, beberapa ke depan Belva juga akan mengajak Sara berjalan-jalan di Seoul. Bagi Belva, mungkin kali ini dia bisa menyenangkan Sara terlebih dahulu sebelum wanita itu kelak akan mengandung buah hatinya.


“Sara, boleh aku bertanya?” tanya Belva pada akhirnya kepada Sara.


Sara yang sejak tadi hanya duduk di sofa dan melihat siaran televisi dengan bahasa Korea itu pun mengangguk dan mulai mematikan televisinya. “Ya, Pak … ada apa?” tanya Sara kepada Belva.


“Kenapa namamu Sara dan bukan Sarah saja?” tanya Belva kali ini.


Ya, memang ada beberapa orang yang sempat bertanya kenapa namanya bukan Sarah, tetapi Sara. Perlahan Sara tampak berpikir, “Entah Pak, mungkin orang tua saya memilihnya begitu. Apa aneh Pak?” tanyanya kepada Belva.

__ADS_1


Belva mengangguk, “Iya, bukankah lebih bagus jika namamu Sarah?” sahut Belva. Menurut Belva, nama Sarah jauh lebih bagus.


“Jika memang bagus Sarah … panggil Sarah saja, Pak,” balasnya yang juga tidak keberatan jika Belva memanggilnya Sarah. Lagipula, bukan mengganti nama, hanya menambahkan konsonan H di akhir namanya.


“Boleh aku memanggilmu, Sarah?” tanyanya lagi.


Sarah mengangguk, “Ya, boleh, Pak.”


“Pak Belva, kenapa Anda ingin sekali punya anak?” tanya Sarah dengan tiba-tiba. Dia hanya mendengar dari sisi Anin, tetapi dari Belva belum.

__ADS_1


Belva pun menghela nafasnya, sebelum menjawab Sarah. Hingga akhirnya pria itu pun bersuara, “Dalam setiap pernikahan pasti menginginkan buah hati. Lagipula, pernikahanku dengan Anin sudah cukup lama. Awalnya aku mengira apakah yang salah diriku, apakah aku tidak bisa memiliki keturunan, rupanya setelah melakukan pengecekan medis rupanya aku sehat dan subur untuk bisa memiliki anak. Sebagai seorang pria, aku berharap bisa memiliki seorang anak dari darah dagingku sendiri. Mungkin aku bisa mengadopsi anak, tetapi aku sangat sehat dan subur, aku ingin walau pun hanya satu saja, aku ingin memiliki anak,” cerita Belva kali ini.


Rupanya memang dalam tahun awal pernikahan, hanya berdua rasanya menyenangkan. Pengantin baru masih ingin merenda kasih berdua. Akan tetapi, seiring dengan tahun-tahun yang berlalu, ada rasa sepi di dalam hati dan juga ada rasa untuk bisa mendengarkan tangisan seorang bayi di dalam rumah mewah mereka. Terlebih, tanpa sepengetahuan Anin, dia juga sudah memeriksakan dirinya sendiri bahwa dirinya adalah pria yang sehat dan juga subur untuk bisa memiliki seorang keturunan.


Sarah pun mendengarkan cerita Belva itu. Di sisi Anin, mungkin endometriosis yang diidap Anin membuatnya kehilangan harapan untuk memiliki anak, tetapi tidak untuk Belva. Sebab, Belva adalah pria sehat dan bisa memiliki keturunan. Kali ini Sara mencoba melihat dari dua sudut pandang yang berbeda.


“Jika, bayi tabung Pak?” tanya Sarah lagi kepada Belva.


“Pada awal pernikahan kami, itu sudah kami lakukan tetapi selalu gagal,” jawab Belva lagi. “Oleh karena itulah, saat aku bertemu denganmu. Mendengar Anthony yang ingin melecehkanmu. Aku ingin melindungimu dan ingin menyewa rahimmu. Mungkin kamu pikir aku pria gila yang hanya ingin menabur benihku di dalam rahim gadis yang tidak kukenal dengan baik. Akan tetapi, aku juga tidak tahu, saat itu yang kuinginkan adalah ingin memiliki seorang anak. Usiaku kian bertambah, akan menjadi tua pada akhirnya. Aku ingin memiliki anak di masa aku masih muda, sehingga jika Tuhan berkehendak dan memberikanku usia yang panjang, aku bisa melihat anak dan cucuku hidup bahagia,” cerita sang CEO itu lagi-lagi dengan panjang lebar kepada Sara.

__ADS_1


Sebuah pemikiran yang logis dari Belva, tujuannya ingin memiliki buah hati adalah untuk bisa melihat keturunannya hingga usianya senja nanti. Dalam hatinya, Sara pun mendengarkan cerita Belva itu, Sara bisa merasakan betapa Belva memang menantikan untuk bisa segera memiliki seorang anak. Bahkan pria itu rela menggelontorkan milyaran rupiah hanya untuk mendapatkan seorang anak dengan menyewa rahim Sara.


__ADS_2