Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Dua Garis Lagi


__ADS_3

Hari ini, Belva sampai memilih untuk cuti dari kantornya. Bukan tanpa sebab, tetapi karena dia ingin merawat Sara yang tengah sakit. Padahal, Sara termasuk orang yang jarang sakit. Sara memiliki ketahanan tubuh yang baik. Oleh karena itu, kali ini Belva cukup bingung dengan istrinya yang tiba-tiba sakit.


“Kamu enggak ke kantor Mas?” tanya Sara kepada suaminya.


“Enggak, aku kerja dari rumah saja hari ini … kamu yang penting sehat dulu,” balas Belva.


“Aku sudah enggak apa-apa kok. Sudah lebih baik daripada kemarin,” jawab Sara. Sebab, Sara juga merasa tidak enak jika suaminya sampai harus mengambil cuti hanya karenanya dirinya yang sedang tidak enak badan.


“Aku bekerja dari rumah … sudah, tenang saja, yang penting … kamu cepat sehat,” balas Belva.


Belva tidak ingin membuat istrinya itu kepikiran, yang penting Belva bisa menemani Sara dan berharap istrinya itu akan segera pulih dan juga sehat.


Sara memilih untuk diam, wanita itu duduk dengan bersandar di sandara sofa, sembari menikmati sinar matahari yang masuk perlahan-lahan dari kaca jendela di kamarnya.


“Elkan mana Mas?” tanya Sara yang kini mencari sosok Elkan.


“Itu main sama Bibi Tini. Mau makan sesuatu? Aku belikan makanan yang kamu mau,” tawar Belva kepada istrinya.


Akan tetapi, Sara segera menggelengkan kepalanya, “Aku enggak lapar … aku gak pengen makan apa-apa,” balasnya.


“Ya enggak gitu juga Sayang … harus makan. Kalau kamu gak makan, bagaimana kamu mau sembuh coba?” tanya Belva.


Keduanya pun kemudian sama-sama diam, kali ini kemudian Belva menanyakan sesuatu kepada Sara. “Kamu kapan terakhir kali menstruasi Sayang? Kelihatannya sejak sebelum kita berangkat ke London dan Paris kan?” tanya Belva kepada istrinya itu.


Sara kemudian mengambil handphone miliknya, mengecek dari aplikasi penghitung masa subur berwarna pink di ponsel pintarnya. Matanya membelalak, melihat beberapa minggu yang terlewatkan. Jika semalam dia merasa demam, kali ini justru Sara menjadi berkeringat dingin karenanya.


“Ya Tuhan, masak terlambat sebulan lebih sih,” ucap Sara dengan panik.


“Berapa lama Sayang?” tanya Belva lagi.

__ADS_1


“Ini kan sudah sebulan berlalu sejak liburan kita ke Paris,” jawab Sara.


Bukan panik, Belva justru tersenyum dan menggenggam tangan istrinya itu, “Jadi, our baby is coming?” tanyanya.


“Entahlah … masak secepat ini?” balas Sara dengan menunjukkan wajah yang tidak yakin.


“Besok pagi coba test pack ya Sayang … siapa tahu sudah ada dedek bayi di sini,” balas Belva.


Sara menganggukkan kepalanya, walaupun tidak yakin, tetapi ini sudah sebulan lebih. Sehingga memang dirinya perlu melakukan tes prediksi kehamilan. Jika tidak salah, usia kehamilannya bisa 8 minggu jika dihitung dari hari terakhir menstruasi.


Keesokan paginya ....


Sara dan Belva terbangun pagi-pagi buta ini dengan perasaan harap-harap cemas. Belva sudah membeli dua buah testpack untuk istrinya itu. Juga sebuah gelas takar untuk menampung urine. Belva memang sengaja membangunkan Sara dan meminta kepada istrinya itu untuk melakukan tes mempredisksi kehamilan terlebih dahulu.


"Ayo Sayang ... dites dulu, biar kita mendapatkan kepastian," ucap Belva kali ini.


"Aku takut," balas Sara. Walau sudah dua kali hamil dan melahirkan, tetap saja kali ini Sara merasa takut.


Sebuah pemikiran logis bahwa kesehatan reproduksi wanita itu sangat riskan. Jika, dalam dua bulan tidak haid dan juga tidak positif, tentu mereka harus memeriksakan kondisi reproduksi Sara.


"Yuk Sayang, aku temenin," ucap Belva dengan menggandeng tangan Sara menuju ke kamar mandi.


Sara pun menganggukkan kepalanya dan segera menuju ke kamar mandi. Dia melakukan instruksi dari suaminya dengan menampung sedikit urine di gelas takar, kemudian memasukkan testpack ke dalam gelas takar itu. Beberapa menit Sara menunggu dengan cemas. Hingga testpack itu berubah, tercetak jelas dua garis merah di sana.


Seketika keringat dingin muncul di kening Sara. Rasanya dia begitu kaget dengan kenyataan usai melihat dua garis merah di sana. Wanita itu lantas mengusapi perutnya yang masih rata.


"Ada kehidupan baru di dalam perutku ya Tuhan ... sejak kapan? Ya ampun, aku sungguh tidak mengira," gumam Sara dengan mata yang berkaca-kaca.


Lantas, Sara mencuci terlebih dahulu testpack itu, kemudian segera keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Mas ...."


Sara memanggil suaminya dengan bibir yang bergetar. Rasanya sudah ingin menangis saja.


"Bagaimana Sayang? Jangan dipikirkan hasilnya. Apa pun itu, aku tidak masalah. Lagipula, kemarin kan kita sudah mendiskusikan bersama," balas Belva. Pria itu juga menunggu dan ingin tahu apa hasil dari testpack yang baru saja dilakukan oleh Sara.


Sampai pada akhirnya, Sara mengeluarkan sebuah testpack dari dalam saku celananya, dan menyerahkannya kepada Belva.


"Dua garis merah, Mas," ucap Sara kali ini.


Sara segera menghambur ke dalam pelukan suaminya. Kejutan di pagi hari buta yang membuatnya seakan begitu haru, sampai air matanya pun berderai begitu saja.


"Alhamdulillah ya Allah ... akhirnya kami dipercaya lagi kali ini," ucap Belva dengan perasaan yang begitu membuncah di dada. Perasaan yang penuh dengan kebahagiaan.


Keduanya saling berpelukan dan menikmati momen bahagia dan penuh haru itu untuk beberapa saat lamanya.


Kemudian Belva membantu Sara untuk duduk di tepian ranjang, "Tebakanku benar kan ... untuk semalam aku tidak memberikanmu obat demam. Cukup skin to skin karena Ibu hamil gak boleh minum sembarangan obat tanpa pengawasan Dokter," jelas Belva.


"Iya Mas ... untung saja. Kamu senang enggak Mas?" tanya Sara kepada suaminya itu.


"Senang pake banget ... kenapa kamu tidak senang?" tanya Belva.


"Ya senang ... cuma kita berdua harus memberitahu Duo E kalau sudah ada baby di perut Mamanya," balas Sara.


"Nanti kita beritahu Evan dan Elkan bersama-sama yah. Tenang saja, Evan dan Elkan pun pasti senang banget memiliki adik bayi," jawab Belva.


Belva sangat yakin bahwa Evan dan Elkan juga sangat senang bisa menjadi seorang kakak. Keinginan Belva pun terkabul, karena dia ingin memiliki anak yang banyak dengan Sara.


"Baby kita made in Paris nih," ucap Belva dengan terkekeh geli dan mengecup kening istrinya itu.

__ADS_1


Ada-ada saja si Papa muda itu, di saat Sara berusaha tenang dan mengurai fakta yang ada, Belva justru berkelakar dan bangga waktu tabur benih di Paris akhirnya bersemi juga.


__ADS_2