
“Sayang … lihat nih siapa yang datang,” teriak Belva begitu memasuki rumahnya.
Pria itu membuka pintu rumah dan seakan mencari keberadaan Sara dan mengatakan bahwa ada kejutan untuk istrinya itu. Sara yang sedang berada di rumah bermain dengan Elkan pun, berjalan dan melihat siapa yang sebenarnya datang. Terlebih sekarang ini masih siang, belum waktunya bagi suaminya itu pulang dari perusahaannya.
"Lihat nih siapa yang datang," ucap Belva dengan menggandeng tangan Sara dan mengajaknya ke pintu.
Sara membelalakkan matanya, tidak mengira dengan apa yang dia lihat sekarang ini. Rupanya, Mama dan Papa mertuanya yang datang dari Singapura. Sungguh mengejutkan, tidak memberi kabar, tetapi Mama dan Papa mertunya sudah berada di Jakarta.
"Ya ampun, Mama dan Papa ... mau datang kok enggak ngasih kabar dulu sih," sambut Sara dengan memeluk Mama dan Papa mertuanya itu bergantian.
"Namanya juga kejutan, Sara ... gimana sehat?" tanya Sara yang sudah berkaca-kaca matanya karena melihat mertuanya yang kembali datang ke Jakarta.
"Sehat ... Mama dan Papa kamu sehat," balas Mama Diana.
Tentu saja Sara merasa senang sekali bisa kembali bertemu dengan mertuanya. Sebab, jarak yang jauh antara Jakarta dan Singapura membuat Sara hanya bisa menghubungi mertuanya melalui panggilan telepon dan beberapa kali melakukan panggilan video saja. Kali ini, bisa bertemu langsung tentunya Sara sangat senang.
"Dari Singapura penerbangan jam berapa Ma?" tanya Sara kepada Mama Diana.
"Pagi tadi ... kami memang sengaja bilang sama Belva supaya tidak memberitahu kamu, biar jadi kejutan," balas Mama Diana.
Sara pun menggelengkan kepalanya, rupanya suaminya itu sudah tahu terlebih dahulu jika Mama dan Papa akan datang dari Singapura. Akan tetapi, memang Sara sengaja tidak dikasih tahu.
"Silakan duduk, Mama ... Papa, Sara bikinkan minum dulu," ucapnya.
Wanita yang sedang hamil itu, tampak ke dapur dan membuatkan minum untuk mertuanya. Teh hangat di cangkir keramik dan aneka kue kering, Sara hidangkan kepada Mama dan Papa mertuanya.
__ADS_1
"Silakan Mama dan Papa," ucap Sara mempersilakan mertuanya untuk menikmati teh dan aneka kering itu.
"Ini Mama tadi di Changi beli sedikit oleh-oleh buat kalian ... dan ini roti lapis (sandwich) buat Evan dan Elkan," ucap Mama Diana menyerahkan sandwich yang sering kali wara-wiri di Drama Korea itu.
"Yah, Sara juga pengen sandwichnya, Ma ... mana sering lihat itu di Drama Korea," balasnya dengan jujur dan terus terang.
Kemudian Mama Diana mengeluarkan kantong lainnya dan menyerahkannya kepada Sara, "Sudah pasti Mama belikan juga buat kamu. Ini Sandwich kesukaan kamu yang dipesan oleh suami kamu tuh, minta Mama untuk belikan khusus untuk Sara. Terus ini Teh Tarek," ucap Mama Diana.
Wah, mendapatkan oleh-oleh juga dari Mama dan Papanya tentu membuat Sara sangat senang. Terlebih saat Mama Diana bilang bahwa Belva yang memesankannya secara langsung, rasanya Sara begitu bahagia. Suaminya memang sepeduli itu dengannya.
"Makasih Papa ... love u," balas Sara yang tersenyum cerah melihat suaminya yang turut duduk di ruang tamu.
"Sama-sama Bumilku," balas Belva.
Beberapa saat lamanya mereka mengobrol bersama, sampai Mama Diana mulai berbicara lagi kepada Sara.
"Iya Ma ... dua minggu lagi perkiraannya," balas Sara.
"Urusan Evan dan Elkan, serahkan sama Mama dan Papa. Kamu bisa bersalin nanti dengan tenang. Akhirnya, Mama akan mendapatkan cucu perempuan. Setelah Evan, Elkan, dan Jerome," ucap Mama Diana.
Ya, bayi ketiga Sara dan Belva ini berjenis kelamin perempuan. Sehingga Oma dan Opanya juga menantikannya. Bayi perempuan pertama untuk keluarga Agastya. Mendengar apa yang disampaikan Mama Diana membuat Sara terharu. Kasih sayang dari mertuanya yang besar, sampai mereka menyempatkan waktu terbang dari Singapura ke Jakarta untuk menemaninya bersalin. Tentu saja, hal ini sangat membahagiakan untuk Sara. Benar yang dikatakan Mama Diana, ada Oma dan Opanya di rumah, sehingga untuk pengasuhan Evan dan Elkan, Sara tidak perlu merasa cemas dan bisa bersalin dengan tenang.
"Terima kasih Mama dan Papa," balas Sara dengan menundukkan kepalanya.
"Sama-sama," sahut Mama Diana dan Papa Agastya bergantian.
__ADS_1
Sungguh, hari ini adalah kejutan yang indah untuk Sara. Dia mendapatkan buah tangan dari Singapura, selain itu ada bala bantuan yang membantunya sampai dirinya melahirkan nanti.
"Berapa lama di sini Ma?" tanya Sara lagi.
"Dua bulan yah ... ya, nanti kami mau ke Bogor juga. Kangen dengan Amara dan Rizal, menyempatkan diri wisata ke Villa miliknya Belva di sana," balas Mama Diana.
"Wah, kalau Sara tidak menjelang persalinan, Sara ikut ke Villa. Healing di sana. Cuma sudah waktunya persalinan, bisa datang kapan saja, jadi ya udah stay di Jakarta dulu," balas Sara.
"Kamu mau melahirkan normal atau Caesar?" tanya Mama Diana.
"Sebenarnya pengen normal, Ma ... cuma kemarin si Elkan kan Caesar. Jadi, ya baby girl ini kemungkinan besar Caesar juga. Mas Belva juga minta Caesar saja yang tidak terlalu sakit," balas Sara.
Walau sebenarnya Sara ingin melahirkan secara normal, tetapi Belva yang meminta kepada Sara untuk memilih persalinan Caesar dan metode ERACS yang disarankan Belva lagi kepada istrinya. Sebab, mengingat Elkan yang lahir Caesar, membuat Sara tidak merintih kesakitan seperti waktu melahirkan Evan dulu. Sehingga Belva lebih memilih supaya istrinya melahirkan secara Caesar saja.
"Kasihan Sara, Ma ... mengandung 9 bulan itu rasanya sudah luar biasa, masih menjalani pembukaan demi pembukaan. Belva yang melihat Sara berjuang melahirkan Evan dulu saja, dada Belva sesek banget," akunya kali ini.
"Ya, seperti itu perjuangan seorang ibu. Dia rela kesakitan dan menderita setengah mati untuk melahirkan anaknya. Tak jarang wanita yang meregang nyawa usai melahirkan," balas Mama Diana.
Belva menghela nafas panjang, "Makanya itu, Caesar saja. Belva tidak sampai hati melihat Sara kesakitan lagi," jawab Belva dengan yakin.
"Papa juga setuju ... Caesar saja," sahut Papa Agastya.
"Kenapa kok Papa setuju?" tanya Mama Diana.
"Ya, sama seperti Belva. Dulu menemani Mama melahirkan Belva, Papa rasanya setengah mati. Mual dan pening, tetapi Papa bertahan menyambut Belva. Untuk itu, waktu melahirkan Amara, Papa minta Mama melakukan Caesar saja," jawab Papa Agastya.
__ADS_1
Mendengar cerita dari suaminya, Mama Diana pun tertawa, "Oh, karena itu yah ... memang benar. Melahirkan itu sakit sekali. Hanya saja setelah melihat dan mendengar tangisan pertama si bayi, semua rasa sakit itu hilang. Sakit yang berubah menjadi kebahagiaan," balas Mama Diana.