
Usai pulang melakukan pemeriksaan, wajah Belva pun terlihat begitu berseri-seri. Pria itu benar-benar merasakan betapa bahagianya bisa merasakan momen mendengar detak jantung bayinya untuk kali pertama, melihat jenis kelamin bayinya juga, semua itu terasa begitu menyenangkan. Kemudian, Belva menatap pada perut Sara yang memang terlihat membuncit di sana.
"Maafkan aku, Sara," ucap Belva dengan tiba-tiba.
Sara yang tengah berjalan dan mengikuti Belva pun tampak mengerjap, wanita itu menatap wajah Belva, "Kenapa Pak?" tanyanya.
"Maaf, aku belum bisa memberikan perhatian lebih kepadamu. Seharusnya aku lebih memperhatikanmu. Terlebih saat ini kamu sedang mengandung anakku. Jadi, tolong maafkan aku," ucap Belva kali ini.
Ya, Belva sadar bahwa dirinya memang bukan suami yang baik. Hanya hal yang terlewatkan begitu saja. Akan tetapi, Belva pun segera meminta maaf kepada Sara dan berharap bahwa wanita itu akan memaafkannya.
"Tidak masalah, Pak ... aku baik-baik saja," jawab Sara.
Mendengar bahwa Sara mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, justru kian membuat Belva merasa bersalah. Pria itu kemudian menghentikan langkah kakinya, saat mereka kini hendak menuju ke parkiran mobil.
"Sara, aku tahu bagaimana kamu memikirku selama ini. Bagimu mungkin aku tidak ada bedanya dengan Anthony. Aku membeli tubuhmu, aku menyewa rahimmu dengan uangku. Akan tetapi, sekali pun aku tidak pernah melecehkanku. Ku harap, jangan menjaga jarak denganku. Ayo, kita nikmati bersama masa pernikahan kita ini. Aku ingin bersikap baik kepadamu, aku bisa menjaga dan merawat seorang wanita yang sudah berbaik hati mengandung anakku," pinta Belva kali ini dengan begitu serius.
Sara tampak diam, menimbang-nimbang dalam hatinya bahwa Belva memang membeli tubuh dan rahimnya, tak ayal posisi Sara sekaligus menjadi donor ovum bagi Belva. Akan tetapi, selama ini memang Belva tidak pernah melecehkannya. Perasaan Sara mendadak menjadi gamang. Seakan hatinya menjadi kembali goyah mendengar ucapan Belva.
"Dengarkan aku, Sara... aku akan benar-benar menjadi pria yang paling tidak tahu malu sedunia jika aku tidak bisa membalas kebaikanmu. Biarkan aku merawatmu, mempedulikanmu, memastikan kamu nyaman, sebagai ... suamimu," ucap Belva kali ini.
Rasanya Sara benar-benar tertegun, pria itu meminta kepadanya untuk bisa membalas kebaikannya sebagai seorang suami. Untuk itu, bisakah Sara menerima Belva sebagai suaminya? Menganggap seorang pria sebagai suami tanpa melibatkan perasaan rasanya sangat tidak mungkin.
"Tidak perlu, Pak Belva," ucap Sara kali ini.
Wanita itu lantas memilih kembali berjalan dan memasuki mobil Belva terlebih dahulu. Menunggu di dalam mobil hingga Belva turut memasuki mobil itu.
__ADS_1
"Beri aku alasan, kenapa kamu bersikap seperti ini, Sara?" tanya Belva yang mulai menghidupkan mesin mobilnya.
"Tidak ada alasan sama sekali, Pak," ucap Sara.
"Aku yakin pasti kamu memiliki alasan tersendiri," sahut Belva.
Ya, Belva tidak serta-merta mempercayai ucapan Sara. Pria itu terlampau yakin bahwa Sara pasti memiliki alasan tersendiri.
"Tidak ada alasan apa pun. Sebaiknya kita pulang, Pak. Hari sudah semakin malam," pinta Sara kali ini.
Hingga akhirnya Sara pun menghela nafasnya, jika terus menerus berdebat dengan Belva sepanjang malam bisa-bisa dirinya akan tetap berada di Rumah Sakit. Untuk itu, Sara bertekad membuka pintu mobilnya. Rasanya kembali pulang dengan naik taksi jauh lebih baik sekarang ini.
Akan tetapi, Belva segera mengunci pintu mobilnya dan menghalau pergelangan tangan Sara. Pria itu rasanya serba salah.
"Please, Sara ... jangan bersikap seperti ini. Kita bisa menjalani semuanya bukan? Berikan waktu berjalan dengan sendirinya. Aku akan memperlakukan kamu dengan baik," ucap Belva kali ini.
Belva akhirnya mengangguk, "Baiklah, jika itu maumu. Aku tidak akan menggumulimu," ucapnya kali ini.
Setelah itu, barulah Belva segera melajukan mobilnya. Membawa Sara untuk kembali pulang ke kediamannya.
Begitu sudah sampai di rumah, rupanya Belva terlebih dahulu mandi, kemudian pria itu turun ke dapur melihat video cara membuat susu untuk ibu hamil. Rasanya kali ini, Belva benar-benar harus memperlakukan Sara dengan baik dimulai dengan membuatkan susu bagi Sara.
Setelah mengikuti cara membuat susu ibu hamil yang benar, Belva kemudian membawa susu itu dan memberikannya ke dalam kamarnya.
"Sara, tolong bukakan pintunya. Ini aku, Belva," ucapnya.
__ADS_1
Pria itu lantas tersenyum saat Sara membukakan pintu kamarnya. "Aku masuk ke dalam ya Sara," ucap Belva lagi.
Kemudian dia menghampiri Sara yang tengah duduk di sofa, "Aku membuatkan susu untukmu, minumlah," ucapnya.
Saat Sara mengulurkan tangannya untuk menerima segelas susu itu, nyatanya Belva tidak memberikannya. Pria itu justru membantu Sara untuk minum dengan memegangi gelas itu dan membawanya dekat ke bibir Sara.
"Sekarang, kamu akan meminum susu dari tanganku sendiri dan aku yang akan membuatkannya bagimu," ucap Belva.
Sementara Sara hanya diam, sama sekali tidak merespons ucapan Belva. Setelahnya, Belva bahkan menyeka jejak susu di bibir Sara dengan ibujarinya.
"Pak, tidak perlu," ucap Sara.
"Aku tidak berkata tidak akan menggumulimu, bukan berarti aku tidak boleh menyentuhmu Sara," sahut Belva kali ini.
Menunggu selama sepuluh menit, kemudian Belva mengambilkan multivitamin dan kalsium untuk Sara. "Ayo, buka mulutmu, minum obatnya sekarang," perintahnya kali ini.
Sara memutar bola matanya malas. Tidak mengira bahwa baru dibaiki saja, Belva sudah berlebihan seperti ini. Jika tahu akan seperti ini, lebih baik tetap saling menjaga jarak saja.
Usai meminum obat, Belva kemudian menyuruh Sara untuk segera berbaring di tempat tidurnya.
"Sekarang tidur, Sara ... Ibu Hamil tidak boleh tidur terlalu malam," perintahnya kali ini.
"Pak Belva kok jadi memerintah aku seperti ini sih?" keluhnya dengan memincingkan matanya menatap Belva.
Nyatanya pria itu tak terusik, Belva justru tersenyum, dia turut menaiki tempat tidur Sara dan segera memeluk tubuh Sara.
__ADS_1
"Aku akan memastikan kehamilanmu berjalan lancar. Yang harus kuperhatikan bukan hanya babyku, Ibunya pun akan aku perhatikan. Terima kasih banyak Sara. Kamu memberiku keajaiban. Semua pengalaman pertama bisa mendengar detak jantung si baby, melihat jenis kelamannya benar-benar membuatku bahagia," ucapnya kali ini dengan bersungguh-sungguh.
Dalam hatinya, Belva berjanji bahwa dirinya akan benar-benar memperlakukan Sara dengan sangat baik. Ya, Belva akan bersikap baik kepada Sara dan bayinya. Tidak akan mengabaikan keduanya. Belva berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan memperlakukan Sara dan bayinya dengan baik dan tulus. Tidak akan melewatkan setiap momen kehamilan Sara kali ini, untuk itu Belva akan lebih memperhatikan Sara.