Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Cinta Akan Berlabuh


__ADS_3

Makan malam kali ini bukan sekadar makan malam, tetapi juga menjadi ajang menjalin relasi. Lagipula, Pak Jaya Wardhana terkenal sebagai seorang pimpinan yang sangat baik, dan sekaligus Pak Jaya menceritakan bahwa Kanaya adalah putri angkatnya saja. Sebab, Belva dan rekan bisnis lainnya pasti sudah tahu mengenai putranya yang saat ini mendekam di balik jeruji besi. Untuk itu, setidaknya Pak Jaya menceritakan sedikit mengenai siapa Kanaya dan mengapa bisa Kanaya yang menjadi CEO dan bukan anak kandungnya sendiri.


“Jadi, Kanaya ini putri angkat saya … pasti Belva sudah tahu dengan apa yang terjadi dengan putra sulung saya yang saat ini mendekam di penjara. Itu murni kesalahannya, dan saya ingin dia bisa meresapi kesalahannya. Dulu, Kanaya adalah menantu saya, istrinya putra saya. Namun, hanya dua bulan pernikahan bertahan, dan hampir dua tahun Kanaya bertemu dengan Bisma. Dari segi kualitas dan kemampuan, Kanaya bisa menghandle Jaya Corp, dia sebelumnya menjadi Direktur Keuangan sekian tahun lamanya. Jadi, ya sekarang saya ingin menikmati hari tua,” jelas Pak Jaya.


Jika Belva bersikap biasa dan bisa menerima, tetapi Sara merasa bersimpati dengan Bu Kanaya. Rasanya pasti berat. Tidak mengira bahwa Dokter Bisma menjadi pria di pernikahan keduanya. Begitu acara selesai, rupanya Kanaya dan Sara masih menyempatkan diri untuk mengobrol. Banyak yang mereka ceritakan termasuk dengan anak-anak mereka.


“Ya, itulah saya Bu Sara … bukan wanita sempurna seperti yang Ibu kenal,” cerita Kanaya.


“Saya salut dengan Bu Kanaya … baik, cantik, pintar, dan sekarang menjadi seorang CEO,” puji Sara.


Kanaya pun tersenyum, “Mungkin … di lain kali, kita bisa berteman Bu Sara. Baru kali ini, saya bisa nyambung dengan seseorang,” aku Kanaya.


“Tentu boleh Bu Kanaya … saya senang bisa dekat dan mengenal Bu Kanaya juga,” balas Sara.


Sampai akhirnya keduanya bertukar nomor handphone dan Kanaya juga ingin playdate lain kali dengan anak-anak mereka.


“Putranya namanya siapa Bu Kanaya?” tanya Sara lagi.


“Aksara dan Airlangga, selisih mereka tujuh tahun. Jadi, Masnya sudah SD, adiknya masih bayi,” jawab Kanaya. “Kalau Bu Sara namanya siapa nih Kiddosnya?” tanya Kanaya.


“Evan dan Elkan, Bu. Selisih empat tahun sih,” balas Sara.


Hingga akhirnya, acara makan malam itu selesai, dan Belva menggandeng Sara untuk turun dan memasuki mobil mereka.


“Kamu hebat, Sayang … kamu bisa membaur dengan mereka,” balas Belva begitu memasuki mobil.


“Sopan enggak aku Mas? Ya, walaupun masih takut salah,” jawab Sara.

__ADS_1


“Enggak … keren kok. Sudah benar-benar cocok jadi istrinya Mr. CEO,” balas Belva dengan tertawa.


Sara pun menyipitkan matanya dan memukul lengan suaminya itu. “Perjalanan cintanya Bu Kanaya keren ya Mas … dari wanita biasa, terluka di pernikahan pertama, bahagia bersama Dokter Bisma, dan sekarang jadi CEO perusahaan raksasa,” cerita Sara kepada suaminya.


“Iya … makanya dulu waktu ada gonjang-ganjing kepada bukan anak kandung yang mewarisi Jaya Corp, dan diberikan kepada mantan menantu yang diangkat menjadi anak,” balas Belva.


Memang seperti itulah kabar di antara para pebisnis. Kabar sekecil apa pun bisa diketahui dengan begitu mudah. Pun dengan gonjang-ganjing di Jaya Corps.


“Cuma aku salut sih, cinta itu akan berlabuh. Kalau tidak tepat ya usai, kalau tepat sama seperti Bu Kanaya tadi cintanya berlabuh ke Dokter Bisma. Aku seneng banget,” balas Sara.


Belva tersenyum, pria itu lantas menggenggam tangan Sara, membawa tangan itu mendekat ke wajahnya dan mendaratkan sebuah kecupan di punggung tangannya.


Chup!


“ … dan cintaku berlabuh di kamu,” balas Belva dengan menatap Sara.


Ya Tuhan, sebatas diperlakukan begitu manis oleh Belva saja membuat jantung Sara berdebar-debar. Wanita itu tersipu malu dengan wajah yang merona-rona. Sementara Belva justru senang melihat Sara yang malu-malu seperti ini. Justru kian gemas dengan Sara.


“Sudah tidur semua Sara … sekarang kamu juga istirahat,” ucap Mama Diana yang baru saja keluar dari kamar.


“Makasih banyak Ma,” balas Sara.


“Iya … Mama istirahat dulu yah,” ucap Mama Diana yang akhirnya memilih untuk istirahat di dalam kamarnya.


Memasuki kamar, ada Belva yang tengah mencoba mengendurkan dasinya, pria itu tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada istrinya.


“Sini Sayang,” ucap Belva.

__ADS_1


Sara menganggukkan kepalanya, dia menerima uluran tangan dari suaminya itu. Duduk di pinggir tempat tidur, dan Belva membawa Sara duduk di pangkuannya. Tangan Belva mulai menelisipkan rambut Sara di belakang telinga, matanya menatap seolah penuh damba kepada istrinya itu.


“Kamu sudah selesai belum Sayang?” tanya Belva kemudian.


Sara tersenyum, wanita itu dengan sengaja justru mengecup bibir Belva.


Chup!


“Rahasia,” balasnya.


Belva kembali tersenyum, pria itu kemudian menatap Sara dengan tangan yang melingkari tubuh Sara. Hanya memangku Sara dengan satu kakinya, dan bisa memandangi istrinya itu dari dekat.


“Kalau hitunganku sih sudah … Elkan saja sudah 2 bulan,” balas Belva.


Sara tersenyum, tentu dia tahu ke mana arah pembicaraan suaminya itu. Memang sejauh ini, sejak Sara melahirkan sampai sekarang Belva tidak meminta haknya. Pria itu juga terlihat santai saja, tetapi malam ini mungkin karena melihat Sara dalam busana yang cantik justru membangkitkan hasrat yang berdesir di dalam hati Belva.


“Cintaku berlabuh padamu Sayang … tapi, mau tidak mengarungi samudera kenikmatan bersamaku?” tanya Belva kali ini kepada Sara.


Dengan menatap Belva, Sara hanya tersenyum. Bola mata yang menatap intens, dengan bulu mata lentik yang bergerak-gerak di sana.


“Jadi … bolehkah Istriku?” tanya Belva dengan menatap Sara. Seakan harap-harap cemas dengan keputusan yang diberikan istrinya itu.


“Sekarang?” tanya Sara.


Belva menghela nafas, dan kemudian menganggukkan kepalanya, “Kalau boleh dan kalau kamu sudah selesai … kalau belum jangan, aku sepenuhnya sembuh dan selesai dulu saja,” balas Belva.


Sebagai pria Belva pun tidak akan memaksakan kehendaknya. Dipuaskan dengan cara lain pun, Belva tidak mau. Baginya kehidupan se’ksual suami istri itu adalah dua sisi, bukan mencari dan mengejar kenikmatan sendiri. Lebih baik berpuasa, dan hanya sekadar mimpi saja. Tidak perlu melakukan yang aneh-aneh. Itu adalah prinsip dari seorang Belva Agastya.

__ADS_1


“Jawab saja Sayang … apa pun jawabannya tidak masalah kok. Penting kamu dulu, aku masih bisa nahan. Aku juga tidak akan marah. Aku tidak ingat, aku bisa puasa kok sampai dua tahun,” balas Belva kali ini.


Sungguh, Belva terlihat mendamba, tetapi di satu sisi dia juga mengatakan sebuah fakta bahwa dirinya tak akan memaksa Sara. Biarkan semuanya terjadi dengan alamiah. Sebab, hubungan suami istri bukan sekadar kenikmatan di atas ranjang bagi Belva. Memiliki Sara dalam hidupnya dengan dua putra-putra mereka adalah kehidupan rumah tangga yang lebih indah.


__ADS_2