Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Gumaman Belva


__ADS_3

Di dalam kamar mandi, Sara dengan cepat melepaskan Kebaya dan kain jarik yang masih melilit pinggang hingga kakinya. Wanita itu memilih mengenakan piyama dan sekaligus mencuci mukanya. Setelahnya, Sara cepat-cepat keluar dari kamar mandi dan merebahkan dirinya di samping Evan.


“Evan, bobok di sini yah Ma …,” pintanya kali ini.


“Iya … tadi Mama pikir kamu sudah tidur,” balas Sara sembari mengusapi puncak kepala Evan.


Sementara Belva pun memilih masuk ke dalam kamar. Pria itu memilih mandi dengan air dingin dan juga mengenakan piyama tidurnya. Usai itu, Belva lantas merebahkan dirinya di samping Sara. Memeluk wanita itu dari belakang, sementara Sara memeluk Evan.


“Kamu sudah tidur?” tanya Belva dengan bergumam lirih di tepi telinga Sara.


Bahkan pria itu tampak menggerak-gerakkan hidungnya di tepi telinga Sara, tentu saja itu membuat Sara meremang.


“Belum,” jawab Sara pada akhirnya.


“Mau lanjut?” tanya Belva kali ini.


Akan tetapi, nyatanya Sara justru menggelengkan kepalanya. “Maaf, lain waktu saja,” balasnya kini.


Belva tampak menyipitkan kedua matanya dan bertanya-tanya kenapa wanita itu justru mengatakan lain waktu saja. Apakah itu karena Evan atau memang Sara yang belum ingin disentuhnya. Namun, mengingat bagaimana panasnya ciuman mereka berdua sebelum Evan datang, Belva yakin bahwa Sara tidak menolaknya.


“Aku baru berhalangan,” jawab Sara kini.


Belva lantas mencerukkan kepalanya, hingga kepala itu seolah bersandar di bahu Sara. Memang ini bukan malam pertama bagi mereka, tetapi Belva sudah sangat ingin menyentuh Sara. Terlebih, pria itu sudah puasa selama dua tahun. Sudah pasti, hasratnya begitu menggelora kali ini.

__ADS_1


Belva hanya bisa mende-sah pasrah kali ini, tetapi bukan Belva namanya jika tidak bisa bersabar. Belva adalah pria yang benar-benar sabar, dulu menjadi suami mendiang Anin saja, pria itu tidak pernah memaksakan hasratnya. Saat mendiang Anin masih menjadi model, Belva rela meringkuk sendirian di ranjangnya. Sementara saat menikahi Sara secara kontrak pun, hanya beberapa kali juga Belva menggauli Sara.


Setelah menduda pun, Belva tidak pernah ‘jajan’ di luar. Hidup pria itu begitu lurus. Tidak pernah berlaku aneh-aneh. Perihal menahan hasrat, Belva sudah terbukti.


“Ah, kenapa bertepatan sekali … tetapi, aku tidak apa-apa. Aku akan menunggumu,” gumam Belva lagi.


Tentu saja pasangan suami istri yang baru saja menikah kembali itu hanya bisa saling bergumam dengan lirih satu sama lain. Sebab, jika keduanya berbicara dengan volume suara yang keras justru bisa membangunkan Evan.


Perlahan Sara pun menoleh ke belakang untuk melihat wajah Belva di sana. Wanita itu memberanikan dirinya untuk membelai sisi wajah Belva.


“Maaf,” ucap Sara kali ini.


Memang bukan niatnya untuk menolak suaminya sendiri, pria yang sudah halal baginya. Hanya saja periode menstruasi yang datang bersamaan tidak bisa dihindari bukan. Yang bisa dilakukan adalah berpuasa terlebih dahulu.


Sara yang semula memeluk Evan, perlahan mengurai pelukannya dan sedikit mengubah posisinya dengan bersandar di head board. Belva pun mengikuti Sara. Tangan pria itu bergerak dan menggenggam tangan Sara di sana.


“Dendam karena apa?” tanya Sara.


“Siapa tahu … kamu masih takut dan dendam dengan perbuatanku di masa lalu. Kamu pasti mengira bahwa aku pria berengsek dan tidak berperasaan kan?” tanya Belva kini.


Sara tersenyum sembari menghela nafasnya sepenuh dada, “Tidak sepenuhnya seperti itu … hanya saja aku terluka tiap kali kamu menyentuhku dan mengakhirinya dengan ucapan terima kasih, tanpa ada ucapan cinta. Seolah aku hanya wanita yang kamu pakai dan cukup dengan ucapan terima kasih belaka,” jawab Sara kini.


Membayangkan masa lampau, memang sering kali membuat dada Sara terasa sesak. Akan tetapi, kini dia bisa memberitahu Belva yang sebenarnya bagaimana perasaannya dulu.

__ADS_1


“Maaf,” ucap Belva kali ini.


Bukannya tidak tahu, Belva sangat tahu bagaimana perasaan Sara dulu. Bahkan Belva pernah mendapati Sara memejamkan matanya dengan berlinangan air matanya. Semuanya itu seakan terlintas dan membuat Belva merasa marah dengan dirinya sendiri.


“Aku memang pria yang tidak bisa mengungkapkan perasaanku, Sara … tentu kamu juga tahu hubunganku dan mendiang Anin biasa saja. Itu karena aku memang bukan pria yang hangat. Seperti itulah diriku, hanya saja setelah memiliki Evan, aku berubah. Evan benar-benar mengubah hidupku. Terlebih selama dua tahun ini mengasuh Evan sendiri, membuatku banyak berbicara, banyak menghibur Evan, mengisi kekosongan seorang Mama di hidup Evan,” jelas Belva kali ini.


Entah dorongan dari mana, Sara kini justru memeluk Belva. Tahu rasanya menjadi Belva memang tidak mudah. Sara sepenuhnya tahu memang ada orang yang memiliki kepribadian yang dingin, salah satunya adalah Belva. Namun, pria dingin itu perlahan sudah berubah. Memiliki seorang anak benar-benar mengubah hidup Belva Agastya.


Belva memejamkan matanya dan merasakan pelukan Sara yang begitu hangat dan menenangkan tentunya. Pria itu justru mencerukkan kepalanya di dada Sara, teringat dengan kala dirinya mengalami Couvade Syndrom sewaktu Sara mengandung Evan. Kebiasaan Belva setiap malam selalu seperti itu. Hanya saja sekarang Sara tidak lagi kaku, wanita itu justru mengusapi puncak kepala Belva dengan lembut.


“Kamu sudah melewati banyak hal dengan baik … kamu adalah pria yang baik dan hebat,” gumam Sara kali ini.


“Tidak Sara … kata hebat terlampau jauh dari kamus hidupku. Aku hanya pria dingin dan tidak pernah bisa mengucapkan perasaannya. Maafkan aku,” sahut Belva kali ini.


“Jangan terus meminta maaf … tidak apa-apa,” balas Sara.


Belva pun tersenyum, pria itu lantas kini yang memeluk Sara dan membawa kepala Sara untuk mendekat ke dadanya.


“Kita mulai semua dari awal yah … aku, kamu, dan Evan. Kita akan menjadi keluarga utuh untuk Evan,” balas Belva kali ini.


“Iya … maaf juga untuk malam ini yang tertunda,” giliran Sara yang meminta maaf kali ini.


Belva pun menganggukkan kepalanya dan sedikit tertawa, “Tidak apa-apa … ke depannya akan seperti ini juga, karena kamu menikahi seorang Duda beranak satu, Sara … jadi Evan akan sering seperti ini,” balas Belva.

__ADS_1


Sara nyatanya turut tertawa, “Aku pun juga seorang Janda beranak satu Pak Belva … rasanya begitu lucu dan aneh, setelah empat tahun lalu kita bisa bersama lagi seperti ini.”


Rasanya memang aneh, Belva merasa bahwa dirinya adalah seorang Duda beranak satu, pun demikian dengan Sara yang adalah janda beranak satu. Akan tetapi, mereka berdua adalah orang tua biologis Evan. Mereka yang dulu pernah berpisah, kini bersatu kembali dalam waktu dan keadaan yang sudah sepenuhnya berbeda.


__ADS_2