
Kurang lebih hampir 30 Menit berlalu, Belva dan Sara masih menunggu di dalam Studio foto itu. Mereka menunggu foto yang dicetak oleh Bram. Hingga akhirnya, Bram memanggil Belva.
"Pak Bos, ini fotonya sudah jadi," ucapnya.
Belva kemudian berdiri, dia berjalan ke arah Bram dan menerima setiap fotonya dengan Sara yang baru saja dicetak oleh Bram. Sekali pun hanya berwajah datar dan mengeluarkan kesan yang dingin, tetapi dalam hatinya sekarang ini, Belva justru tersenyum.
"Oke, thanks. Ya sudah, kami pamit ya. Makasih sudah difotoin," pamit Belva.
Bram pun mengangguk, "Oke Pak Bos, kalau nanti mau foto-foto lagi ke saya aja. Mungkin nanti Mbaknya kalau usai melahirkan mau difoto babynya, saya bisa fotokan," ucap Bram.
Sara pun mengangguk, "Iya Mas, makasih," jawabnya.
Kemudian keduanya berjalan keluar dari studio foto itu dan memasuki mobil Belva yang terparkir tidak jauh dari depan studio foto. Belva membukakan pintu di sisi kursi kemudi bagi Sara, tetapi Sara sendiri nyatanya justru terlebih dahulu membuka pintu belakang.
"Duduklah di depan, Sara," ucap Belva kali ini.
"Tapi, Pak ...," sahutnya.
Lantas Belva menatap Sara dengan satu tangan yang masih membuka pintu mobilnya, "Ayo, duduklah di depan," pintanya lagi.
Tidak ingin berdebat, Sara mengangguk kemudian dia memasuki mobil dan duduk dengan tenang di sisi kursi kemudi itu. Belva pun menutup pintu mobil itu dan berjalan mengitari mobilnya, barulah dia duduk di kursi kemudi.
"Ingin mampir ke suatu tempat?" tanya Belva.
Dengan cepat, Sara menggelengkan kepalanya, "Tidak Pak ... mau mampir ke mana dengan pakaian formal seperti ini," sahutnya.
Belva justru melepas jas yang semula dipakainya, dia juga melepas dasi yang terpasang di lehernya. Lantas menggulung kemeja putihnya hingga ke siku.
"Nih, sudah tidak lagi formal. Apa kamu ingin aku belikan pakaian yang casual?" tanya Belva.
Dengan cepat Sara menggelengkan kepalanya, "Tidak Pak, tidak perlu," jawab Sara.
__ADS_1
Belva pun mengangguk, "Ikut aku ke suatu tempat dulu ya Sara, ada proyek yang harus aku lihat. Sebentar saja," ucap Belva.
Sara pun mengangguk, "Baiklah, Pak," sahutnya.
Merasa bahwa Sara sudah menyetujui kemudian Belva mulai melajukan mobilnya. Tujuan pertama tentu dia akan mengecek lahan yang akan dibangunin menjadi beberapa ruko dan perumahan di kawasan Jakarta Utara. Setibanya di sana, Belva pun turun terlebih dahulu.
"Aku turun sebentar, Sara ... kamu tunggu di sini dulu saja," ucapnya.
Sara menganggukkan kepala, ya dia memang lebih baik menunggu di dalam mobil. Lagipula di luar juga terlihat sangat panas.
Hingga kurang lebih 15 menit kemudian, Belva telah kembali. Pria itu kembali memasuki mobilnya dan tersenyum menatap Sara. "Aku tidak lama kan?" tanyanya.
"Tidak Pak, tidak lama kok," jawab Sara.
Kemudian Belva menyorot tajam pada Sara, "Kamu tadi memanggil Bram aja bisa Mas, masak manggil aku Pak sih. Cobalah panggil aku Mas," pintanya kali ini.
"Kan panggilan Mas itu wajar juga bagi pria, Pak. Gak bermakna apa-apa," sahut Sara.
Belva kemudian mengangguk, "Iya, aku tahu ... cuma sekali aja panggil aku, Mas," pintanya lagi.
Bukan marah, nyatanya Belva justru tertawa. "Aku baru 30an tahun dan kamu sudah mengataiku Bapak-Bapak, bisa-bisanya kamu," balas Belva.
Kemudian Belva melajukan mobilnya, ada sebuah Eco Park yang ingin datangi kali ini bersama Sara. Hanya beberapa menit berkendara dan sekarang mereka telah tiba di Eco Park itu.
"Ayo, kita jalan-jalan sebentar," ucap Belva.
Sara mengangguk, kemudian turun dari mobil dan mengikuti Belva berjalan. Sedikit berjalan di belakang pria yang berpostur tinggi, tegap, dan juga gagah itu.
"Jangan terlalu di belakang, Sara ... nanti kamu bisa ketinggalan," ucapnya.
Belva lantas mengulurkan tangannya dan meraih tangan Sara, menggenggamnya. Membawa wanita itu untuk berjalan di sisinya, memastikan supaya Sara tidak tertinggal jauh di belakangnya.
__ADS_1
Setelahnya dia mengajak Sara di duduk di sebuah kursi di sebuah taman yang teduh. Terdapat sebuah kolam dengan air yang jernih di hadapannya.
Sara pun tersenyum, rasanya indah. Sudah lama juga sejak kelas di Kopi Lab berakhir, dan dirinya tidak lagi keluar rumah. Jika pun keluar hanya sebatas mengantarkan Anin terapi.
Belva lantas menyerahkan sebuah foto kepada Sara, "Ini Sara simpanlah," ucapnya.
Rupanya foto yang tadi mereka ambil saat di studio foto. Sebuah foto di mana Sara sedang duduk dan Belva berdiri di belakangnya. Foto yang manis.
Akan tetapinya, dalam hatinya Sara justru tersenyum getir, "Makasih Pak," jawabnya.
Belva kemudian mengangguk, "Di lain waktu aku akan cetakkan foto itu dengan ukuran yang lebih besar untukmu," ucap Belva.
Akan tetapi, Sara segera menggelengkan kepalanya, "Tidak Pak tidak perlu ... ini saja sudah cukup," jawabnya.
Belva lantas menatap foto yang berada di dalam genggaman Sara, jari telunjuk pria itu menunjuk pada foto itu, "Menurutku itu foto yang bagus ... simpanlah," ucap Belva lagi.
Mata Sara berkaca-kaca di sana, tetapi dia membesarkan hatinya. Ini hanya sebuah foto tidak bermakna apa-apa. Sara lantas menghela nafasnya, "Baik, aku akan menyimpannya," balas Sara.
Berusaha menahan supaya air matanya jangan sampai jatuh, Sara kemudian memasukkan foto itu di dalam sling bag miliknya.
Aku bukan hanya menyimpannya, Pak...
Aku akan menyimpan foto ini di dalam hatiku...
Aku juga akan menyimpan semua kenangan kita.
Wanita itu berkata dengan hatinya sendiri secara lirih. Setelahnya Sara tampak menghela nafasnya, "Foto yang lainnya mana Pak?" tanyanya.
"Ada di mobil. Apa kamu menyimpannya juga?" tanya Belva kemudian.
Dengan cepat Sara menggelengkan kepalanya, "Tidak Pak, aku cuma pengen lihat," jawabnya.
__ADS_1
Belva kemudian mengangguk, "O ... kupikir kamu mau menyimpannya juga," sahut Belva.
Pria itu kemudian tersenyum dan membawa satu tangannya untuk merangkul bahu Sara. Padahal jika Sara ingin mengambil dan menyimpan semua foto yang dia cetak tadi, tidak menjadi masalah bagi Belva. Justru dia akan menyukainya.