Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Menata Masa Depan


__ADS_3

Usai menikmati sarapan, Evan memilih untuk bermain di rumah Tantenya yakni Tante Amara, karena di sana dia bisa bermain sepuasnya bersama Jerome. Sementara, Sara dan Belva kini tengah duduk di bangku taman yang menghadap ke kolam renang berdua.


“Bagaimana perasaanmu?” tanya Belva kali ini kepada Sara.


“Senang … hanya saja aku masih canggung dan bingung,” aku Sara.


Ya, pertemuan mereka kembali belumlah lama, tetapi Belva sudah menyatakan keinginannya untuk menikahinya kembali. Masa empat tahun yang begitu lama, nyatanya terasa singkat karena pernikahan mereka sekarang. Kendati demikian, keduanya telah kembali bersatu. Bukan sekadar rujuk, tetapi Belva benar-benar meminang wanita itu dengan sah di hadapan agama dan negara.


“Tidak apa-apa … dijalani dan dinikmati saja,” sahut Belva kali ini.


Sara merespons dengan memberikan anggukan kecil, wanita itu terlihat menghela nafasnya. Benar-benar tidak menyangka kini dirinya sudah resmi menjadi Nyonya Belva Agastya.


“Mas, usai ini bagaimana dengan kehidupan kita berdua? Mas tahu sendiri kan kalau Coffee Bay berada di Bogor,” ucap Sara kali ini.


Seakan Sara tengah mengajak suaminya itu berdiskusi bersama dan menata masa depan mereka berdua. Mereka yang sebelumnya memiliki kehidupan sendiri-sendiri, sekarang harus berdiskusi untuk menentukan hidup mereka bersama.


“Tidak bisakah kamu pindah ke Jakarta? Sebagai suami istri tidak baik tinggal terpisah bukan?” tanya Belva kali ini kepada Sara.


“Itu benar … tetapi, bagaimana yah? Soalnya di Bogor ini sudah menjadi pusat Coffee Bay,” jawab Sara.


Perlahan Belva pun menatap Sara, “Tenang saja … kamu bisa mengangkat pegawai yang kamu percayai untuk menjadi kepala perwakilan, sama seperti kepala-kepala cabang Coffee Bay lainnya. Lalu, kamu bisa open rekruitmen pegawai lagi untuk posisi yang kosong. Nanti aku akan bantu,” jelas Belva kali ini.

__ADS_1


Apa yang diucapkan Belva, dia bisa mengangkat kepala perwakilan layaknya cabang Coffee Bay di kota-kota lainnya. Sementara Sara tinggal mengecek laporan penjualan dan keuangan dari masing-masing tempat. Dengan demikian, semua bisa kerjakan dengan baik. Selain itu, Belva juga adalah seorang pengusaha, sehingga bisa mengkoordinar dengan baik. Agaknya kali ini Sara harus belajar dari suaminya itu.


Tangan Belva kini bergerak dan merangkul bahu Sara, membawa kepala wanita untuk bersandar di bahunya yang kokoh.


“Ah, aku lega … Sara, sekarang jadikan aku tempatmu bersandar. Jangan terlalu diam dan menentukan semuanya sendiri. Kita berdua bisa membangun keluarga baru yang utuh dan harmonis bukan?” tanya Belva kali ini. Keinginan Belva tidak muluk-muluk yaitu membangun keluarga yang utuh dan harmonis. Kendati demikian untuk menggapai tujuan itu tidak mudah, mereka harus berjuang bersama untuk mewujudkan keluarga yang mereka idamkan demikian.


“Aku terbiasa hidup seorang diri, Mas … bahkan dari belum genap usia belasan, aku sudah bertanggung jawab atas hidupku sendiri. Bersandar kepada orang terkadang justru membuatku akan bergantung sepenuhnya kepada orang tersebut. maka dari itu aku terkadang tidak ingin bergantung dengan siapapun karena aku sudah terbiasa hidup sendiri,” balas Sara kali ini.


“Namun, kamu bisa bersandar denganku … membagi semua kisah hidupmu bersamaku. Tentu dengan kisah Evan dan anak-anak kita nanti yang akan menyemarakkan masa depan kita berdua,” sahut Belva.


Perlahan Sara mengangkat wajahnya, menatap pria yang kini tengah merangkulnya itu. “Kita saja baru saja menikah, Mas … sudah membahas tentang adik-adik buat Evan,” sahut Sara kali ini.


Belva lantas melirik ke arah Sara yang terlihat tengah menimbang sesuatu, “Tenang saja … walaupun aku ingin memiliki banyak anak, tetapi keinginanmu yang akan terjadi. Aku tidak akan pernah akan memaksamu, dan kali ini tidak ada lagi cerita rahim sewaan. Yang ada adalah rahimmu sepenuhnya milikku untuk menyemikan benih buah cinta kita berdua,” ucap Belva lagi.


Mama menghela nafas, terkadang mengingat masa lalu begitu ironis, dia memberikan rahimnya bahkan mahkotanya untuk pria yang kini duduk di sampingnya itu.


“Mas, maaf untuk salahku di masa lalu yah,” ucap Sara kali ini.


“Kenapa? Kamu tidak bersalah menurutku,” balas Belva.


“Mas percaya tidak, peristiwa talak malam itu sebenarnya aku begitu mengharapkan Mas Belva. Hanya saja aku tidak ingin merusak rumah tanggamu bersama mendiang Kak Anin. Jadi, lebih baik aku yang memohon kepadamu untuk melepasku,” balas Sara. Terasa pilu dan sesak sebenarnya, hanya saja Sara tidak ingin mengharapkan Belva dan pengakuan cintanya di saat pria itu masih menjadi milik mendiang Anin. Setelah Belva benar-benar menjadi seorang duda dan hidup sendiri, nyatanya Sara tidak keberatan untuk menerima suaminya itu lagi.

__ADS_1


Helaan nafas juga terdengar dari hidung Belva, pria itu lantas turut menatap Sara. “Bukan kamu yang salah … tetapi, aku yang salah. Maaf, jika dulu aku tidak pernah bisa memberimu kepastian dan itu semua pasti melukaimu. Maafkan aku,” balas Belva.


Wajah Belva sedikit menunduk, dan pria itu meraih dagu Sara. Dengan segera, Belva melabuhkan bibirnya tepat di dua belah lipatan bibir Sara. Memagutnya dengan lembut. Ciuman berbalut lu-matan yang dilakukan Belva kali ini. Bahkan Belva tidak segan-segan untuk menghisap lipatan bibir bawah Sara. Rasa manis berpadu hangat bisa dirasakan keduanya satu sama lain.


Tubuh Sara seakan membeku, tidak mengira di tempat terbuka seperti ini, Belva justru terang-terangan menciumnya. Tangan Sara bergerak dan hendak mendorong dada Belva. Akan tetapi, rupanya Belva sudah terlebih dahulu melepas pagutannya. Pria itu tersenyum menatap wajah Sara yang memerah.


“Cukup segini dulu … cepat selesai, biar aku bisa buka puasa,” ucap Belva dengan berbisik lirih di sisi telinga Sara.


Sara pun menunduk malu, tidak mengira bahwa suaminya akan mengatakan hal demikian kepadanya. Tentu saja, Sara menjadi malu.


“Kamu mau bulan madu ke mana Sara? Mau ke Korea Selatan lagi?” tanya Belva kali ini.


Sara kemudian menggelengkan kepalanya, “Terserah kamu saja, aku hanya ngikut,” balas Sara.


Belva kemudian tertawa, sembari mengusapi puncak kepala Sara, “Baiklah … aku akan memilih tempat romantis untuk kita berdua berbulan madu,” balasnya.


“Lalu, Evan?” tanya Sara.


“Biarkan Evan bersama dengan Amara dulu. Satu minggu cukup kan?” tanya Belva sembari mengerlingkan matanya kepada Sara.


Sara hanya bisa menggelengkan kepalanya, pria itu lama-lama memang terasa nakal dan juga sangat berbeda dengan Belva yang dingin empat tahun yang lalu. Sara hanya bisa menghela nafas dengan setiap perkataan dari suaminya itu. Bisakah Evan berpisah dari Mama dan Papanya selama satu minggu? Bagaimana jika Evan justru tantrum saat mereka berdua meninggalkannya?

__ADS_1


__ADS_2