Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Semua Orang Memiliki Masa Lalu


__ADS_3

Usai acara ulang tahun yang benar-benar meriah, kini Belva dan Sara beristirahat di kamar mereka. Lagipula Evan dan Elkan sudah terlelap, mungkin efek terlalu senang bermain bersama anak-anak di pesta ulang tahun tadi, Hingga belum ada jam 20.00 malam, keduanya sudah tertidur.


“Ya ampun, enak banget ya Mas … jam segini anak-anak sudah tidur. Jadi bisa me time dan istirahat sebentar,” ucap Sara.


“Benar banget Sayang … itu kadonya Elkan banyak banget. Undangannya 100, tetapi yang datang lebih dari 100 deh,” ucap Belva dengan menunjuk tumpukan kado yang terlihat di sisi kamar Evan dan juga Elkan.


“Banyak banget Mas … padahal enggak dikasih hadiah tidak apa-apa. Kan ya, mainan Elkan dan Evan juga sudah banyak. Yang mereka butuhkan sebenarnya bukan mainannya, tetapi kehadiran dan kasih sayang dari Mama dan Papanya,” jelas Sara.


Ya, bagi Sara sebagus dan semahal apa pun mainan, tidak begitu dibutuhkan anak. Sebab, yang mereka butuhkan adalah kasih sayang, perhatian, dan keberadaan orang tua yang membersamai dalam tumbuh kembangnya setiap hari. Bahkan tanpa mainan yang banyak. Evan dan Elkan juga begitu bahagia dengan mainan seadanya.


“Benar Sayang … aku bangga banget sama kamu. Bisa jadi Mama yang hebat buat Dua Kiddos,” balas Belva.


“Ya enggak … aku biasa saja sih Mas. Hanya saja kan pola pengasuhan itu terus berkembang. Pola pengasuhan juga harus disesuaikan dengan usia dan juga karakter anak. Walau Evan dan Elkan saudara kandung, tetapi kebutuhan mereka kan beda, karakter mereka juga beda, jadi ya orang tua harus pintar-pintar mengakomodasi keperluan mereka,” jelas Sara.


Belva pun tersenyum, wanitanya itu memang hebat. Hebat mengurus dan mengasuh anak, hebat mengelola bisnis, dan hebat juga melayani suaminya. Paket komplit spesial deh pokoknya.


“Itu tadi kamu akan pakai istrinya Abraham untuk BA Coffee Bay ya Sayang?” tanya Belva kemudian.


“Iya Mas … sudah saat rebranding. Tidak mungkin menggunakan cara lama untuk promosi. Perlu penyegaran saja sih untuk promosi,” balas Sara.


Belva menatap istrinya itu. “Kamu tahu dulu istrinya Abraham itu siapa?” tanya Belva kemudian.

__ADS_1


“Iya, yang booming di televisi dan media sosial hampir setahun yang lalu. Semua orang pasti tahu Mas … hanya saja kan semua orang punya masa lalunya sendiri-sendiri. Sama seperti aku dengan semua masa laluku,” balas Sara.


Belva pun merespons dengan menganggukkan kepalanya, “Benar Sayang … cuma rasanya aneh saja, dulu dia digunjingkan yang selingkuh dari suaminya, tetapi katanya mantan suaminya di penjara karena suaminya duluan yang selingkuh dan punya penyimpangan seksual. Dulu, ada temen aku yang kenal sama aktor itu, katanya kalau menye-tubuhi istrinya pasti harus melukai istrinya hingga istrinya mengalami memar hingga pendarahan. Bukti visum dari istrinya itu yang bikin dia di penjara,” ucap Belva.


Mendengarkan cerita Belva, Sara pun bergidik ngeri. Tidak mengira bahwa para pengusaha juga mendengar kabar dari dunia hiburan tanah ait. Sara merasa bersimpati pada Marsha untuk luka yang dia dapatkan saat masih menjadi istri aktor kenamaan itu.


“Semacam sadisme ya Mas?” tanya Sara kemudian.


“Mungkin saja, Sayang … aku dengar pas temenku tiba-tiba berbicara tentang aktor itu.” Belva menjawab dengan mengedikkan bahunya.


“Gimana menurutmu kalau aku mau memakai Marsha untuk BA?” tanya Sara kali ini.


“Pakai saja, tidak apa-apa. Libatkan Abraham juga untuk memotret, sekaligus desain ulang gelas cup, dan sebagainya. Peremajaan Coffee Bay kan tidak masalah, nanti biar aku yang keluar uang,” balas Belva.


“Kamu kalau mau merambah bisnis yang lain tidak apa-apa kok Sayang … untuk modal jangan khawatir. Aku bisa menjadi investor kamu,” sahut Belva.


Sungguh, melihat kepiawaian Sara dalam mengelola waralabanya, justru Belva akan mendukung istrinya itu untuk merambah ke bisnis lainnya. Untuk dana, tidak usah memikirkannya karena Belva siap membuka pundi-pundi Rupiahnya dan menjadi investor pribadi Sara.


“Mau beli klub sepakbola,” balas Sara dengan terkekeh geli.


“Boleh … aku bisa belikan klub dari liga satu juga bisa,” balas Belva dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


Sara pun terkekeh geli dan menggelengkan kepalanya, “Enggak … aku cuma bercanda saja kok Mas. Lagian aku gak tahu sepakbola. Sepakbola nasional juga rusuh, jadi enggak usah deh. Kalau pun pengen, malahan aku mau nyoba bisnis skincare. Cuma sebentar, harus persiapan dan mendapat dermatolog yang mau bekerja sama,” balas Sara.


Mengingat kian menjanjikannya bisnis skincare, justru Sara untuk merambah ke bisnis kosmetik itu. Siapa tahu, dia bisa melebarkan sayap bisnisnya ke sana.


“Coba saja Sayang … jangan ragu. Aku akan selalu mendukung kamu. Siapa sangka kamu bisa bisa menjadi pebisnis hebat seperti ini,” balas Belva.


Jujur, Belva kagum dengan istrinya dan juga siap mendukung apa pun yang diimpikan istrinya itu. Menjadi orang yang berada di balik layar dan siap mengantarkan istrinya menuju kesuksesan yang gilang-gemilang. Justru, Belva akan sangat bangga bisa mengantarkan Sara mencapai kesuksesannya sebagai seorang pebisnis muda.


“Jadi, aku mau memakai Marsha untuk brand ambassador ya Mas?” tanya Sara sekali lagi untuk meyakinkan.


“Iya, tentu boleh Sayang … aku juga percaya kepada Abraham. Beberapa kali aku juga meminta tolong padanya untuk memotret keperluan perusahaan. Jadi, bisa libatkan keduanya. Marsha tentu akan merasa nyaman bisa bekerja sama dengan suaminya. Begitu juga sebaliknya,” balas Belva.


Sara merespons dengan menganggukkan kepalanya, “Iya Mas … aku mikirnya sih juga begitu. Aku tidak peduli dengan masa lalu Marsha. Toh, semuanya adalah masa lalu, dan aku yakin kok Marsha itu baik. Mungkin dulu, netizen, media, dan pihak-pihak yang menggoreng masalah mereka, jadinya Marsha yang digunjingkan publik. Padahal suaminya juga pasti bersalah,” ucap Sara lagi.


Belva pun tersenyum, “Benar Sayang … kadang masalah rumah tangga itu ya cukup suami dan istri saja yang tahu. Jangan libatkan orang lain. Sebab, masalah kita bisa makin keruh karena digoreng dan dibumbui sana-sini. Jangan libatkan mertua juga. Sebisa mungkin, kalau kita berkonflik ya kita selesaikan bersama. Mencari solusi bersama. Pasti bisa kok,” sahut Belva.


Memang tepat apa yang disampaikan Belva. Sebisa mungkin masalah keluarga tidak perlu untuk diungkapkan kepada orang lain, termasuk kepada mertua sekalipun. Jika ada masalah, lebih baik duduk bersama, mencari solusi bersama, dan mengingat kembali kisah-kisah manis yang sudah terurai indah selama ini. Sebab, omongan orang atau sudut pandang dari mertua pun terkadang justru bisa memperkeruh suasana.


“Benar Mas … sama seperti kita yang lebih banyak diskusi dan ngobrol bersama. Intinya, kalau aku salah ya aku meminta maaf. Tegur aku. Sama halnya dengan kamu. Ingat perjalanan cinta kita selama ini, dan terus berpartner untuk menjadi orang tua yang baik untuk Duo E,” balas Sara.


“Tepat sekali Mrs. CEO … aku cinta banget sama kamu. Dulu, apa aku pernah menyelamatkan negara, sampai Tuhan menganugerahkan aku wanita sepertimu?” balas Belva.

__ADS_1


“Gombal!”


Sara menyahut dengan memukul dada suaminya itu.


__ADS_2