
Selang beberapa pekan berlalu, perut Sara yang semula masih rata, kini kian menyembul. Perut itu kian membuncit. Kendati demikian, sudah beberapa pekan berlalu dan Sara masih menjaga jarak dengan Belva. Rasanya memang aneh, tetapi bagi Sara menjaga jarak dengan Belva jauh lebih baik.
Selain hatinya lebih merasa baik-baik saja, Sara juga tidak merasa bersalah karena melibatkan perasaannya. Tidak masalah jika memang dirinya seolah tidak ada suami yang mengurusinya saat hamil. Sara sudah ikhlas, dan juga kembali ke posisi mereka sebelumnya bahwa tidak melibatkan perasaan dalam hubungan kerja sama ini.
"Sara, kapan kamu akan periksa kehamilanmu?" tanya Belva saat keduanya tengah sarapan bersama.
"Nanti sore, Pak," jawabnya.
Belva lantas menganggukkan kepalanya, "Baiklah, nanti sore aku akan menjemputmu. Kita akan ke Dokter Kandungan bersama-sama," ucap Belva.
Sara pun mengangguk, "Baik, Pak," jawabnya dan kemudian melanjutkan sarapannya.
...🌸🌸🌸...
Sore Harinya ...
Begitu pulang dari kantor, Belva segera pulang ke rumah. Tujuannya adalah untuk mengantarkan Sara memeriksakan kandungannya. Akan tetapi, kali ini Belva memilih mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Sebatas mengganti dengan pakaian yang casual, supaya lebih aman untuk menunggu di Rumah Sakit.
Setelah bergantian pakaian, Belva kemudian menuju kamar Sara.
"Ayo, Sara ... kita berangkat," ucapnya sembari mengetuk pintu kamar Sara.
Sejak Sara bersikap dingin dan menjaga jarak darinya, Belva bahkan tidak memasuki kamar Sara dengan suka hati. Dia selalu menunggu hingga Sara membukakan pintu baginya. Lagipula memang itulah yang diinginkan Sara, sehingga Belva pun hanya berusaha mengikuti kemauan Sara.
"Ya, Pak ... tunggu sebentar," jawab Sara sembari sedikit berteriak dari dalam kamarnya.
Hampir lima menit, barulah Sara keluar dari kamarnya. Wanita hamil itu mengenakan sebuah dress bermotif floral yang manis, kemudian menggerai rambutnya begitu saja.
"Ayo, Pak ... kita berangkat," ucap Sara.
"Iya, ayo kita berangkat. Buku catatan pemeriksaannya sudah kamu bawa kan?" tanya Belva sembari berjalan di samping Sara.
__ADS_1
Wanita hamil itu pun mengangguk, "Iya, sudah, Pak," jawabnya.
Kemudian Belva pun mulai melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit tempat Sara akan melakukan pemeriksaan kehamilan. Sekali pun di dalam mobil, Belva hanya diam, tetapi pria itu terlihat beberapa kali melirik ke arah Sara yang hanya terdiam.
Begitu sampai di Rumah Sakit, menunggu di ruang tunggu pun Sara dan Belva masih sama-sama diam. Jikalau sebelumnya mereka berdua tidak secanggung ini, sekarang justru setelah menjaga jarak, dirinya justru merasa begitu canggung.
Lantaran berjalan tak terlalu fokus, Sara hampir menabrak brankar dorong, dengan sigap Belva menahan tubuh Sara, "Awas, Sara hati-hati," ucapnya dengan merengkuh pinggang Sara.
Terkesiap, wanita itu pun tampak terkejut saat kakinya nyaris saja menabrak sebuah brankar yang tengah didorong oleh perawat. Sara lantas menunduk, menatap kedua tangan Belva yang melingkari pinggangnya.
"Aku tidak apa-apa, Pak," ucapnya kali ini.
Mengerjap, Belva pun lantas mengurai kedua tangannya di pinggang Sara. "Ah, iya ... maaf. Aku hanya mengkhawatirkan kamu," jawab Belva.
Setelahnya, keduanya sama-sama duduk menunggu di ruang tunggu. Hasrat hati, rasanya Sara begitu iri melihat pasangan yang begitu akur dan romantis saat menunggu di ruang tunggu. Sementara dirinya dan Belva justru saling menghindar. Akan tetapi, Sara meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja.
Hingga akhirnya, kini tibalah giliran Sara untuk menjalani pemeriksaan. Wanita itu berdiri dan berjalan lebih dahulu memasuki ruangan Dokter Indri itu.
"Malam, Dokter," sapa Sara kepada Dokter Indri.
Sara pun mengangguk, "Alhamdulillah, sehat, Dokter," jawabnya seraya tersenyum.
"Ada keluhan sejauh ini Bu Sara?" tanya Dokter Indri lagi.
Sara kemudian menggelengkan kepalanya, "Tidak ada Dokter, saya dan bayinya sehat," jawab Sara.
"Alhamdulillah, kalau tidak ada keluhan, kita lakukan pemeriksaan dengan USG ya Bu," balas Dokter Indri.
Kemudian seorang perawat menolong Sara untuk menaiki brankar. Kemudian USG Gell segera dioleskan di permukaan perut Sara. Dokter Indri pun telah bersiap dengan transducer di tangannya.
"Perutnya sudah kelihatan menyembul sedikit ya Bu," ucapnya dengan tersenyum.
__ADS_1
Sara kemudian menganggukkan kepalanya, "Iya Dokter, sudah sedikit buncit."
Mendengar Dokter Indri dan Sara yang membicarakan perihal perut Sara kian menyembul pun, Belva seolah tak menyadarinya. Pria itu lantas menyalahkan dirinya sendiri, mungkinkah Belva terlalu cuek dan tidak mempedulikan Sara hingga banyak hal yang dilewatkannya.
"Selamat datang di kehamilan 16/17 Weeks ya Bu Sara dan Pak Belva. Janin Ibu sekarang besarnya kira-kira seukuran lobak dengan berat kurang lebih 150 gram dan panjangnya kira-kira 12 centimeter. Di kehamilan ini, tempurung bayi berkembang dengan baik ya Bu. Tulang rawan dan tempurungnya kian mengeras. Selain itu, plasentanya berkembang pesat. Plasenta janin sudah berkembang pesat dengan ribuan pembuluh darah yang dapat membantu mengoptimalkan fungsinya untuk menyalurkan nutrisi dan oksigen ke janin dan membuat zat sisa janin. Tali pusatnya pun sudah menjadi lebih kuat dan tebal." Dokter Indri menjelaskan semua itu dengan begitu detail kepada Sara.
Setelah itu, Dokter Indri sedikit menekan transducer di tangannya dan mengajak Sara untuk mendengarkan detak jantung bayinya.
"Kita dengarkan detak jantung bayinya ya, Bu," ucap Dokter Indri.
Mulailah terdengar suara...
Deg ... Deg ... Deg ...
Ya Tuhan, kali pertama mendengar detak jantung bayinya, Sara tak kuasa menahan air matanya. Wanita itu justru menangis di sana.
"Akhirnya, aku bisa mendengarkan detak jantungmu, Nak," gumam Sara lirih.
Pun sama halnya dengan Belva tak kuasa meneteskan air matanya mendengar detak jantung bayinya. Pria itu merasakan bahwa semua yang bisa dia rasakan ini sungguh luar biasa.
"Mau sekalian mengetahui jenis kelamin babynya tidak Bu?" tanya Dokter Indri.
Sara berusaha menyeka buliran air mata di wajahnya, wanita itu lantas berbicara lirih, "Mau melihat jenis kelamin babynya tidak, Pak?" tanya Sara.
Rupanya Belva pun mengangguk, ya dia ingin merasakan semua kebahagiaan yang kali ini bisa dia rasakan. Bertahun-tahun menunggu, akhirnya Belva bisa mendengar detak jantung bayinya, dan kali ini dia juga akan bisa mengetahui jenis kelamin babynya nanti. Perasaan pria itu melimpah dengan kebahagiaan.
"Iya, Dok ... babynya berjenis kelamin apa?" tanya Belva kini.
Kembali Dokter Indri menekan-nekan transducer di perut Sara, mengarahkannya ke posisi jenis kelamin bayi. Sedikit berputar, sedikit menekan, hingga terlihatlah tampilan di layar monitor yang saat itu juga direkam oleh Belva dengan handphonenya.
"Selamat ya Bapak dan Ibu ... wah, babynya ada Monas nya ya ini. Jadi baby Bapak dan Ibu adalah laki-laki. Selamat," ucap Dokter Indri.
__ADS_1
Lagi, Belva dan Sara sama-sama meneteskan air mata. Tidak mengira bahwa jenis kelamin baby mereka adalah laki-laki. Padahal memang sebelumnya, Belva tidak mempermasalahkan jenis kelamin bayinya. Yang penting dia bisa memiliki keturunan.
Kini, saat mendengar bahwa jenis kelamin babynya adalah laki-laki, Belva pun bahagia. Tuhan rupanya menganugerahkan lebih dari apa yang dia minta. Rasanya, hati Belva melimpah dengan kebahagiaan dan itu semua karena Sara.