
Semalaman benar-benar dimanfaatkan Belva dan juga Sara untuk beristirahat. Terlebih saat Sara mengeluh pusing lantaran menaiki pesawat hampir 18 Jam. Belva pun sebagai suami yang baik, memberi waktu kepada Sara untuk istirahat. Efek jetlag dan juga perubahan zona waktu memang bisa membuat kepala terasa pening.
Pagi ini, Sara bangun. Wanita itu tersenyum karena dua hal. Yang pertama, melihat Belva yang memeluknya sepanjang malam. Yang kedua, melihat salju di kota London yang indah. Sungguh, perpaduan yang sempurna. Mengingat itu, Sara tersenyum dalam hati. Dulu, suaminya juga begitu dingin layaknya salju. Akan tetapi, sekarang ... Belva layaknya bola api yang begitu hangat. Namun, melihat jendela kaca besar di kamar, barulah Sara terkejut. Ya, saat dirinya bercinta dengan Belva semalam, tirai jendela belum mereka tutup. Bagaimana jika ada orang di luar sana yang melihat mereka berdua?
Memikirkan itu, Sara pun mengusap wajahnya sembari merapikan rambutnya yang menjuntai panjang. Berharap semuanya akan baik-baik saja, dan pemandangan panas itu tidak terlihat dari luar.
"Pagi Sayang," ucap Belva yang tiba-tiba menyapa Sara dengan suara seraknya khas orang baru bangun tidur dan pria itu segera duduk dan melingkarkan tangannya di pinggang Sara.
"Pagi Mas," sahut Sara dengan lesu.
Baru kali ini menyambut pagi hari, Sara merasa lesu. "Mas, ini semalam kita lupa menutup tirainya. Kalau kelihatan dari luar gimana Mas?" tanya Sara kepada suaminya.
"Tenang saja Sayang ... kaca ini tidak bisa dilihat dari luar. Hanya kita yang bisa melihat ke luar. Kenapa?" tanya Belva.
"Enggak ... kan semalam kita beraktivitas panas, takut kelihatan dari luar," balas Sara.
"Tenang saja ... enggak akan kelihatan. Ya sudah, mulai nanti malam ditutup tirainya yah. Yuk, bersiap. Bersih-bersih, turun sarapan, dan sekalian kita Tour de London. Mumpung di London, kita jalan-jalan dulu. Nanti kalau aku kurung seharian di hotel, kamu protes," ucap Belva.
Sara pun tersenyum, "Iya dong ... masak jauh-jauh sampai ke London, isinya cuma berada di dalam kamar. Dikekepin melulu. Tahu gitu mending di rumah, bisa sekalian pelukin Evan dan Elkan," jawab Sara.
Belva yang mendengarkan Sara pun hanya tertawa. Pria itu berdiri dan mengajak Sara untuk mandi bersama.
"Mandi barengan yuk ... cuma mandi aja kok, not anymore," ucapnya.
Sara menatap dengan sorot matanya yang tajam kepada suaminya itu, "Janji loh ... enggak ada kegiatan panas lainnya. Nanti, justru panas-panas melulu, gak jadi jalan-jalan," protesnya.
Lagi-lagi Belva tersenyum, "Yuk, setengah jam saja. Main cepet juga bisa," balas Belva.
__ADS_1
***
Kali ini Belva benar-benar membuktikan ucapannya. Hanya sekadar mandi bersama, dan melakukan kegiatan panas. Sementara, sekarang mereka menaiki London Bus, bus berwarna merah yang begitu ikonik itu. Lantaran, baru pertama naik, Belva mengajak Sara untuk naik ke tingkat bus. Menikmati pemandangan indah kota London sangat seru dinikmati dengan menaiki bus kota.
Menaiki bus kota dan duduk di tingkat atau dek atas bus akan mendapatkan pemandangan yang bagus. Untuk menaiki bus ini, seluruh penumpang membutuhkan kartu Oyster yang digunakan untuk membayar transportasi di kota London.
"Seru kan?" tanya Belva kepada istrinya itu.
"Iya, cuma dingin," balas Sara.
Mendengar bahwa istrinya merasa dingin, Belva membawa satu tangan Sara dalam genggamannya dan mengusapinya hingga menimbulkan sedikit rasa hangat.
"Rute kita ke mana saja Mas?" tanya Sara.
"Ini kita ambil rute RV1 nanti melewati Tower Hill terus ke Menara London, dan berakhir di Covent Garden. Rute ini yang menghubungkan Tower of London dengan London Bridge," jelas Belva kepada istrinya.
"Itu Tower of London, Sayang. Bangunannya kokoh dan menghadap langsung ke Sungai Thames," jelas Belva.
"Kayak mimpi ya Mas ... biasa lihat di internet dan sekarang bisa ke sini langsung," balas Sara.
"Kita bisa keliling dunia Sayang ... dulu kamu bilang mau ke Turki kan? Kapan-kapan, aku ajakin ke sana," balas Belva.
"Emang kamu pernah ke Turki, Mas?" tanya Sara.
Belva menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Belum ... cuma kan bisa nanti sama kamu," balas Belva.
"Itu Menara Putih, Sayang ... di dalam ada kapel St. John. Masih di area Tower of London, dan nanti kita melintasi London Bridge," jelas Belva lagi.
__ADS_1
Sara tiba-tiba saja tersenyum, teringat dengan lagu anak-anak kesukaan Elkan. "Kayak lagu kesukaannya Elkan ... London Bridge is falling down," balas Sara.
"Iya Sayang. Seru kan?" tanya Belva lagi.
"Seru, jalan-jalan sama kamu, aku kayak punya pemandu wisata," balas Sara.
Usai turun dari bus. Belva mengajak Sara menuju ke Big Ben. Kali ini, keduanya datang dari arah Tower Hill. Menikmati beberapa pemandangan yang sungguh indah, dan London Eye yang terlihat pula dari sana.
"Ini Big Ben yang sangat ikonik itu," ucap Belva dengan menunjuk jam raksasa yang menjadi ikon kota London itu.
"Oh, seperti ini pemandangannya dari dekat ya Mas? Kelihatannya kalau foto bagus dari seberang sungai ya Mas, jadi pemandangannya lebih bagus," balas Sara.
"Bener ... ini ya Big Ben dari dekat. Senang kan, kamu sudah sampai di sini. Big Ben ini berdiri di samping Gedung Parlemen, Sayang," jelas Belva lagi.
Kemudian mereka berjalan-jalan tepat di bawah Big Ben. Angin musim dingin yang memang tidak dingin, tidak menjadi masalah, karena ada tangan Belva yang hangat dan siap menghangat Sara.
"Foto yuk Mas, buat kenang-kenangan," ajak Sara.
"Boleh," balasnya.
Keduanya berjalan agak sedikit menjauh supaya mendapatkan angle terbaik untuk memotret Big Ben, kemudian mereka melakukan selfie berdua. Sara tersenyum melihat ke kamera dengan Big Ben yang menjulang tinggi di belakangnya.
Tidak cukup dengan kamera ponsel saja, Belva juga meminta tolong kepada pejalan kaki di tempat itu untuk mengambilkan fotonya bersama Sara.
"Lihat Sayang, bagus kan?" ucap Belva dengan menunjukkan hasil jepretan di kamera DSLRnya itu.
"Bagus banget Mas," balasnya.
__ADS_1
Sungguh ini adalah hari yang indah bagi Sara. Hari di mana, dia bisa mengelilingi kota London. Merasakan petualangan baru dengan menaiki bus kota London berwarna merah yang begitu ikonik. Melihat Tower of London, melihat Sungai Thames dari dekat, melihat London Eye, dan juga Big Ben. Mengisi hari dengan berjalan-jalan, mencoba petualangan baru, dan mengisi waktu berkualitas dengan suami tercinta.