Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Bounding dengan Evan


__ADS_3

Setelah Belva pergi, Sara kembali fokus dengan Evan kali ini. Rasanya sungguh menyenangkan bisa berdua dengan Evan. Apalagi saat Belva mengatakan bahwa dia berniat untuk menitipkan Evan hampir seharian karena dirinya yang tengah rapat. Tentu saja Sara tidak keberatan, justru Sara bersyukur dilibatkan Belva seperti ini.


“Mama … Mama pintar memasak yah? Crofflee buatan Mama enak loh,” ucap Evan sembari masih mengunyah Crofflee buatan Sara.


“Kalau pintar sih enggak, Evan … Mama hanya bisa memasak beberapa menu saja,” jawab Sara yang sembari mengambil tissue dan membersihkan bibir Evan yang belepotan karena Crofflee yang diisi dengan selain cokelat itu.


“Oh … tapi ini saja enak. Pasti kalau memasak yang lainnya juga enak,” balas Evan lagi.


“Kamu kok bisa pandai kayak gini sih, Van … bicara kamu juga sangat lancar. Mama senang bisa berbicara banyak hal dengan kamu,” ucap Sara yang tersenyum dan juga terharu melihat buah hatinya itu.


Memang banyak waktu yang terlewatkan dan Sara tidak mengetahui perkembangan Evan di usia emasnya. Di mana seorang anak yang mencapai setiap milestone dalam hidupnya. Berkembang kemampuannya setiap hari. Jika membayangkan itu semua, tentu saja hati Sara terasa begitu perih. Akan tetapi, sekarang rasanya Tuhan sisipkan kebahagiaan setelah empat tahun berlalu.


“Mama dan Papa yang mengasuhku, Ma … Papa dan Mama dari aku bayi sudah membacakan buku dari Bunda tuh, judulnya Aku Sayang Ibu,” cerita Evan kini kepada Sara.


Kali ini Sara merasa lega, kado yang dia berikan untuk Evan saat putranya itu berusia satu tahun ternyata diterima dengan baik bahkan dibacakan untuk Evan. Mendengar bahwa barang pemberiannya diterima dan dibacakan untuk Evan, rasanya Sara benar-benar bahagia.


“Evan setelah ini mau jalan-jalan sama Mama?” tanya Sara kemudian.


“Iya, mau … mau kemana Ma?” tanya Evan kepada Mamanya itu.


“Evan pengen kemana? Mama akan ajak Evan kemana saja Evan mau,” balas Sara.


Tampak Evan mulai berpikir, tempat mana yang ingin dikunjunginya. Setelah beberapa saat diam, akhirnya Evan pun mulai bersuara.


“Ke toko buku yuk Ma?” ajak Evan dengan tiba-tiba.


“Evan suka buku yah? Evan suka membaca?” tanya Sara lagi.


Tampak Evan menganggukkan kepalanya, “Ya, aku suka membaca, Ma … bukuku di rumah banyak,” jawaban Evan kini.


Sara pun tersenyum menatap putranya itu. Bahkan di usia yang masih dini, Evan sudah begitu menyukai buku. Dalam hatinya, Sara justru merasa senang berarti keputusannya dulu untuk menyerahkan Evan sepenuhnya kepada Belva dan Anin adalah sebuah keputusan yang tepat. Buktinya sekarang di hadapannya, Evan tumbuh menjadi anak yang sehat, bahagia, dan juga pintar.

__ADS_1


“Oke, Mama akan mengajak kamu ke Toko Buku, tapi tunggu Tante Nina dan karyawan Mama yang lain datang dulu ya Sayang … abis itu ke Toko Buku sama Mama,” jawab Sara.


“Yeay, hore … Evan senang. Hari ini Evan sangat senang,” teriaknya kini.


Kebahagiaan bagi seorang anak kecil itu memang begitu sederhana, terkadang hanya sebatas dipeluk atau disayang oleh orang tuanya saja anak-anak sudah merasa begitu bahagia. Kebahagiaan anak kecil tidak melulu dengan barang-barang mewah, tetapi hal-hal yang bisa menyentuh hatinya.


Akhirnya, tidak berselang lama Nina dan karyawan yang lainnya tiba. Para karyawan cukup kaget melihat anak laki-laki kecil yang kemarin datang ke Coffee Shop rupanya hari ini datang lagi. Bahkan sepagi ini, anak kecil itu sudah duduk dengan Sara dan menikmati segelas cokelat susu hangat dan Crofflee.


“Pagi Kak Sara … Kak, sudah terima order sejak pagi yah?” tanya Nina yang berjalan mendekati ke tempat duduk yang ditempati Sara dan Evan.


“Enggak … aku belum terima order,” jawab Sara.


“Oh, aku pikir sudah mulai terima order Kak,” sambung Nina lagi.


“Belum … aku cuma buatkan Crofflee buat Evan saja kok. Oh, iya Nina … dia Evan, putraku,” ucap Sara dengan tiba-tiba.


Mendengar ucapan Sara, sontak Nina pun merasa kaget. Sebab, pikirnya bahwa Sara masih lajang. Lagipula selama ini yang Nina lihat adalah Zaid yang wira-wiri mendatangi Sara ke Coffee Bay. Nina benar-benar tidak mengira bahwa Bosnya itu sudah memiliki seorang putra.


“Aku anaknya Mama, Tante,” ucap Evan dengan tiba-tiba.


Sara kemudian tersenyum, “Iya, Nina … dia putraku,” balas Sara.


Tidak perlu memberitahu secara detail bagaimana masa lalunya dulu. Sekarang Sara hanya ingin beberapa orang terdekatnya tahu bahwa Evan adalah putranya. Seolah Sara ingin menunjukkan kepada orang-orang yang ada di sekitarnya bahwa Evan sangat berharga untuknya.


“Oh, iya Nina … aku hari ini, keluar dulu yah,” pamit Sara.


“Siap Kak … tenang. Coffee Bay pasti aman,” balas Nina.


Tidak berselang lama Sara lantas mengajak Evan menuju sebuah toko buku yang berada di pusat perbelanjaan. Rupanya dari sekian banyak jenis buku, Evan justru tertarik dengan berbagai jenis ensiklopedia anak junior.


“Evan suka buku Ensiklopedia?” tanya Sara.

__ADS_1


“Iya Ma … suka sekali. Ada beberapa judul yang belum aku miliki,” balas Evan.


“Ya sudah, kamu beli saja semua judul yang belum kamu punya. Namun, Evan harus janji sama Mama kalau buku-buku yang Mama belikan harus dibaca yah,” ucap Sara.


“Oke Ma,” balas Evan dengan semangat.


Serasa mendapat lampu hijau dari Mamanya, Evan sampai memilih lima judul buku Ensiklopedia anak junior mulai dari Antariksa, Kota di Dunia, Laut, Gunung, dan Anak-Anak di Dunia.


Sara pun mengamati buku apa saja yang diambil Evan itu. Tidak menyangka bahwa Evan nyatanya justru menyukai bacaan yang kaya informasi dan ilmu pengetahuan seperti Ensiklopedia.


“Sini, biar Mama bawakan Sayang … pasti berat kan?” tanya Sara.


“Mama bawa empat, Evan bawa satu yah,” balasnya.


Setelah Evan selesai dengan pilihannya, Sara segera membayar buku-buku itu ke kasir. Kemudian Sara mengajak Evan ke toko mainan, pikirnya dia juga ingin membelikan mainan untuk Evan.


“Evan mau mainan? Pilih saja Sayang, Mama juga mau belikan buat kamu,” ucap Sara.


“Satu saja Ma … mainan Evan sudah banyak. Belikan action figure Captain America ya Ma,” pinta Evan.


Mendengar permintaan Evan, Sara lantas membelikan action figure yang diinginkan putranya itu. Setelah jalan-jalan dan makan siang di Mall tersebut, Sara kali ini mengajak Evan pulang ke rumahnya untuk beristirahat.


Setibanya di rumah, diajak Sara masuk ke dalam kamarnya dan meminta putranya itu untuk tidur siang terlebih dahulu.


“Evan terbiasa tidur siang enggak?” tanya Sara.


“Enggak Ma,” jawabnya.


“Sekarang Evan tidur siang dulu yuk … Mama temenin Evan tidur, mau?” tawar Sara kali ini.


“Oke deh, mau deh … Evan juga mengantuk Ma,” balasnya.

__ADS_1


Sara segera mengajak putranya itu untuk berisitirahat siang terlebih dahulu. Dalam hidupnya baru kali ini Sara bisa melakukan bonding dengan Evan. Hatinya benar-benar bahagia. Sara akan mengingat satu hari ini sebagai hari yang spesial untuknya, hari di mana dia bisa menciptakan banyak momen indah bersama dengan Evan.


__ADS_2