Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Tak Ada Keraguan


__ADS_3

"Aku cinta kamu apa adanya," ucap Belva dengan sungguh-sungguh. 


Sebab, Belva tak menuntut apa pun kepada Sara. Di matanya Sara selalu saja menjadi wanita yang cantik. Memang, Sara memiliki wajah yang cantik, senyumannya juga indah, hanya saja memang Sara tidak suka tampil glamor layaknya istri-istri CEO yang digambarkan dalam berbagai film. 


Saat Belva menarik dagu Sara, dan pria itu melabuhkan kecupan demi kecupan di bibir Sara, dan Belva sedikit membuka bibirnya dan mulai memagut bibir Sara yang semanis madu dan hangat itu, Belva tersenyum dalam hati. Baginya Sara selalu saja mempesona. Sejak dulu, sampai sekarang Sara memiliki sesuatu yang membuatnya bisa menjadi pribadi yang hangat. 


Belva lantas menarik wajahnya sesaat dan kemudian menelisipkan rambut Sara ke belakang telinga, menatap wanitanya itu dengan penuh cinta. 


"Jadi, jangan pikirkan semua penilaian orang. Di mataku kamu yang paling cantik dan luar biasa. Semua orang memiliki penilaiannya sendiri-sendiri. Bagiku, kamu yang utama," ucap Belva dengan sungguh-sungguh. 


Sara tersenyum kemudian dia mencerukkan wajahnya di dada suaminya, dan kedua tangan yang sudah melingkari pinggang Belva itu. 


"Iya, aku yakin sama kamu, Mas … enggak ada keraguan lagi," jawabnya. 


Sebab, tidak selamanya kita harus hidup dengan berbagai penilaian orang. Alangkah jauh lebih baik untuk melepaskan semua itu, dan hidup dengan cara kita sendiri. Menerima diri sendiri apa adanya. 


Belva balas memeluk Sara dan mengusapi lengan istrinya itu. Berkali-kali juga Belva mendaratkan kecupan di kening Sara. 


"Masih ragu sama aku?" tanya Belva kali. 


Ada gelengan samar kepala Sara di sana. Wanita itu kian yakin kepada Belva, dan tak ingin mengambil pusing dengan penilaian orang-orang. 


"Aku yakin sama Mamas," jawabnya dengan menahan tawa. 


"Kamu ini, pinter banget buat aku malu. Siapa coba yang ngajarin kamu kayak gitu?" tanya Belva dengan menyentil ujung hidung Sara. 

__ADS_1


Bukan marah, nyatanya Sara justru tertawa. "Boleh enggak aku panggil Mamas?" tanya Sara pada akhirnya. 


Kali ini Belva tertawa. Aneh rasanya mendengar Sara memanggilnya 'Mamas'. Panggilan itu terasa menggelikan di telinganya. 


"Boleh aja, cuma ucapkan sekali dulu Mamas Sayang dong. Aku pengen kamu panggil Sayang juga," ucap Belva. 


"Malu Mas," jawab Sara. 


"Malu kenapa coba? Dulu manggil aku Pak Belva, sekarang Mas, terus mau ganti lagi. Panggil aku Sayang dulu dong," pinta Belva kali ini. 


Sara tertawa, beberapa kali dia memukul dada Belva. Namun, Belva tidak merasa kesakitan dengan pukulan Sara di dadanya itu. Dia justru kian gemas dengan Sara. 


"Gak usah malu sama aku, Sayang … aku saja juga membiasakan memanggilmu Sayang. Sebab, kamu itu Sayangnya aku," ucap Belva lagi. 


Sara menyadari bahwa dalam pernikahannya kembali kali ini, Belva banyak berubah dan menyesuaikan diri. Sara sangat suka dengan perubahan dalam diri Belva. Rasanya, sekarang Sara bisa bercerita apa pun kepada Belva. Suaminya juga lebih bisa mengungkapkan perasaannya dan bahkan bisa bercanda juga. 


Lagi-lagi Belva kembali tertawa, "Aku tidak menyangka bisa senyaman ini dengan seorang wanita. Banyak hal yang kulalui dalam hidup. Penantian bertahun-tahun mengharapkan seorang anak, kehilangan dalam hidup, dan semua fase lainnya. Sekarang, aku merasa lega. Beban di pundakku perlahan-lahan terangkat," balas Belva. 


Sebab, pada intinya ketika kita menemukan tempat kenyamanan, yang ada adalah kita bisa bersandar. Melepaskan beban hidup yang berat di pundak kita. Sama halnya dengan Belva yang merasakan kenyamanannya bersama Sara. 


Kali ini Sara mengurai pelukannya dan menatap wajah suaminya. 


"Benar Mas, aku juga nyaman denganmu. Sekian tahun hidup sendiri, kali ini aku benar-benar memiliki tempat untuk bersandar. Ada kamu, Evan, dan calon baby kita ini yang menjadi keluargaku sekarang," balas Sara. 


Belva kini menggenggam tangan Sara, "Bersandarlah kepadaku seumur hidupmu. Sayang, besok temeni aku ke pestanya temenku," ajak Belva kali ini. 

__ADS_1


"Kemana Mas? Di Bali?" tanya Sara kepada suaminya itu. 


"Iya, private party… di Seminyak juga. Teman pengusaha dia adalah CEO perusahaan start up di Singapura," balas Belva. 


"Malu tuh Mas," jawab Sara lagi. 


Belva kemudian melirik istrinya itu, "Besok sudah akan datang desainer yang aku pesan, MUA, dan stylist. Kamu harus tampil cantik. Dampingi suamimu ini yah," pinta Belva kali ini. 


Ada rasa tidak percaya diri. Terkait dengan pesta relasi yang pernah Sara hadiri untuk kali pertama dalam hidupnya, di mana semua orang tampil begitu glamor. Terbersit dalam benak Sara, bahwa seperti itu bukan tempatnya. Namun, kali ini Sara akan melawan rasa insecure di dalam dirinya. Dia akan datang dan mendampingi Belva. Saatnya mengalahkan rasa ketidakpercayaan diri, lagipula Sara sadar ada Belva yang selalu di sisinya dan menemaninya. Sara tidak perlu ragu lagi. Sara akan membiarkan mata-mata yang menatapnya tajam dan berganti dengan menggenggam tangan suaminya.


"Temanku itu orang Indonesia juga Sayang, cuma perusahaannya ada di Singapura. Istrinya juga sangat baik, dia desainer yang terkenal di Asia Tenggara. Kisah cinta mereka juga keren. Kamu bisa berteman nanti dengan Aliya, dia adalah seorang yang baik," jelas Belva kali ini. 


"Lalu, pesta dalam rangka apa Mas?" tanya Sara lagi. 


Sebab, setelah mendengar cerita dari suaminya, rasanya Sara menjadi tertarik dengan teman suaminya yang bernama Aryan dan Aliya itu. Sebaik apa mereka, sampai suaminya mengatakan bahwa Aryan dan Aliya adalah temannya.


"Dalam rangka pembukaan cabang butik milik istrinya di Bali," balas Belva. "Mumpung di Bali, nanti kita ke butiknya. Aku mau belikan beberapa dress buat kamu di sana," lanjut Belva. 


Sara akhirnya menganggukkan kepalanya, dan mengikuti saja rencana suaminya itu. 


"Nama temen kamu siapa, Mas?" tanya Sara kepada suaminya. 


"Aryan … namanya Aryan Kiandra Harentama, pengusaha di bidang Kecerdasan Buatan. Istrinya bernama Aliya Kinanthi Satchita, seorang designer yang mengusung konsep tradisional batik di setiap karyanya," jawab Belva. 


"Baik, besok aku akan ikut. Terus Evan kita ajak juga?" tanya Sara. Sebab, private party biasanya dilakukan pada malam hari. Oleh karena itulah, Sara menanyakan apakah akan mengajak Evan serta?

__ADS_1


Belva kemudian mengedipkan satu matanya kepada Sara. "Hanya kita berdua saja Sayang, besok akan ada bala bantuan yang datang. Nikmati waktu bersamaku. Just you and me," balas Belva. Pria itu terlihat genit sekarang ini, tidak ada lagi Pak Belva yang dingin. Yang ada sekarang adalah Mas Belva yang hangat.


Ya Tuhan, sebatas mendengar ucapan Belva saja sudah membuat Sara berdebar-debar rasanya. Suaminya itu sudah menyusun rencana dan tidak memberitahunya sama sekali. 


__ADS_2