Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Semua Butuh Waktu


__ADS_3

Rasanya Belva pun merasa lega karena Sara lebih banyak bertanya kepadanya. Setidaknya Belva pun juga berharap bahwa Sara tidak akan canggung padanya. Semuanya butuh waktu. Untuk itu, Belva tidak akan buru-buru untuk menghamili Sara. Dia akan membuat Sara nyaman terlebih dahulu dengannya. 


Kali ini keduanya sama-sama telah membersihkan diri dan siap untuk tidur usai perjalanan panjang dari Jakarta menuju Seoul. Sara tampaknya masih berdiri di depan kaca jendela kamar hotelnya dengan view Namsan Seoul Tower itu. Memandangi tempat itu rasanya tidak membosankan bagi Sara. 


"Seinginnya itu kamu ke sana? Kamu bisa mendatanginya," ucap Belva lagi sembari mengamati Sara. 


Sara kemudian menggelengkan kepalanya, "Enggak, rasanya masih seperti mimpi saja. Seperti aku mendapatkan sebuah jackpot bisa mendatangi tempat ini." 


"Besok kita akan ke sana, agaknya kamu sudah ingin sekali ke sana," ucap Belva lagi yang menebak bahwa Sara sudah ingin mengunjungi Namsan Tower itu. 


Sara pun mengangguk, "Makasih, Pak," sahutnya mengucapkan terima kasih. 


"No problem," jawabnya kepada Kanaya. "Jika hanya ke Namsan Tower, aku akan mengajakmu ke sana." ucap Belva lagi kali ini kepada Sara.

__ADS_1


Merasa bahwa dirinya telah lelah, Belva berbaring terlebih dahulu di tempat tidur itu. Mungkin pria itu juga merasakan jetlag, sehingga belum ada jam sembilan malam, tetapi dia sudah begitu mengantuk. Matanya terasa begitu berat dan rasanya ingin segera terpejam. 


"Kamu tidak tidur? Tidak capek?" lagi Belva bertanya kepada Sara yang masih saja berdiri di depan kaca besar itu. 


"Sebentar," sahutnya dengan lirih. 


"Kamu masih canggung padaku?" tanya Belva lagi kepada Sara. 


Sara pun mengangguk, "Iya, maaf," jawabnya dengan lirih. 


Ya, pria itu sudah memutuskan bahwa dirinya tidak akan menyerang Sara dan berharap Sara segera hamil. Jika pun lebih dari satu tahun, mungkin Belva bisa menawarkan kesepakatan baru dengan Sara. 


"Tapi, Pak …" ucap Sara kini dengan terbata-bata. 

__ADS_1


Belva justru mengubah posisinya, dari berbaring menjadi duduk, pria itu menepuk-nepuk bagian ranjang sebelahnya yang kosong. 


"Sini, berbaringlah di sini. Kita istirahat dulu. Perjalanan udara sebelas jam, ditambah perbedaan waktu membuat mataku terasa berat," ucapnya yang kali ini sembari menguap. Rasa kantuk begitu menyiksanya. Yang ingin dia lakukan adalah segera membaringkan dirinya dan menutup matanya. Akan tetapi, Belva tidak akan bisa tidur apabila Sara masih berdiri di sana. 


"Kemarilah, percayai ucapanku. Kita hanya tidur bersama. Just slepping," ucapnya lagi. 


Hingga Sara pun menghela nafasnya, dan wanita itu terlebih dahulu menutup tirai jendela kamarnya. Dia melangkahkan kakinya menuju ranjang, tempat di mana Belva sudah terlebih dahulu berada di sana. 


Sara mendudukkan dirinya di ranjang itu, dan mulai menarik selimut. Hingga akhirnya, dia melirik ke arah Belva sejenak. 


"Aku akan tidur dulu," ucapnya dan kemudian dia berbaring memunggungi Belva. 


"Tidurlah," sahut Belva. 

__ADS_1


Dengan memejamkan matanya, Belva tersenyum. Sara yang jinak-jinak merpati memang harus didekati dengan cara yang sabar. Untuk itu pun, Belva tak akan terburu-buru. Semua membutuhkan waktu bukan? Semua itu akan Belva lakukan asalkan Sara merasa nyaman terlebih dahulu dengannya. 


__ADS_2