
“Selalu ada yang tertinggal dari setiap perjalanan, walaupun hanya sedetik.”
Malam ini di dalam kamarnya, Sara sedang membaca sebuah novel di platform digital. Menyadari sebuah kalimat yang dituliskan oleh author itu, Sara mempercayai satu hal bahwa masa lalu itu ibarat sebuah perjalan yang sudah dilalui dan tertinggal di belakang, tetapi ada saja momen yang tertinggal dan membekas di hati walaupun hanya sedetik.
Meresapi tulisan yang ditulis oleh author itu, sampai Sara tidak menyadari bahwa Belva sudah bergabung dengannya di ranjang dan bersandar di headboard. Sampai Belva bersuara, dan mengusapi sisi wajah Sara dengan telapak tangannya yang hangat.
“Baru ngapain Sayangku? Kok bengong sih,” tanya Belva kepada istrinya itu.
“Baru baca novel nih Mas, seru deh ceritanya … cuma banyak mengandung bawang. Sampai aku nangis tadi,” jawab Sara dengan menunjukkan layar di tabletnya yang masih menyala.
“Hidup kamu sudah banyak bawangnya, Sayang … kenapa malahan baca novel yang sedih-sedih coba?” tanya Belva.
Tentu itu hanya candaan karena sepenuhnya Belva tahu karena hidup Sara memang sejauh ini sudah banyak kepedihannya. Sehingga Belva mengatakan candaan seperti itu kepada istrinya.
“Siapa sih penulisnya?” tanya Belva.
“Ini Mas, Kirana Pramudya yang nulis ceritanya nyesek deh … jadi pengen kalau punya anak cewek dikasih nama Kirana,” ucap Sara dengan tiba-tiba.
Mendengar apa yang disampaikan Sara, tiba-tiba senyuman nakal terbit dari wajah Belva, “Boleh sih Kirana … cuma nama depannya E yah. Masak iya habis Evan, Elkan, terus Kirana … nanti kalau disingkat jadi E.E.K dong. Gak keren,” sahut Belva dengan tertawa.
Sara pun ikut tertawa, tidak mengira bahwa suaminya itu memiliki sense of humors yang nyeleneng seperti itu.
“Issh, jelek banget sih Mas … lalu, kalau punya baby lagi namanya apa Mas?” tanya Sara.
__ADS_1
“Ya nanti aku pikirkan … nanti kalau udah bersedia tambah baby lagi, aku yang cari namanya yah … berawalan E … biar kita punya Trio E,” sahut Belva.
Sara menganggukkan kepalanya, sepenuhnya menyerahkan kepada suaminya. Lagipula kalau untuk sekarang ini, dia memang belum siap. Baru saja melahirkan, Sara masih butuh waktu.
“Mas, boleh aku bertanya?” tanya Sara kali ini.
“Boleh dong … mau tanya apa saja juga boleh. Mamas kamu ini siap menjawab,” jawab Belva dengan sedikit bercanda.
“Tanya tentang rumah tangga kamu dan mendiang Kak Anin dulu boleh?” tanya Sara pada akhirnya.
“Boleh … hanya saja aku tidak mau kamu terluka dengan jawaban yang kamu terima,” balas Belva.
Setidaknya Belva sudah mewanti-wanti terlebih dahulu kepada Sara bahwa dirinya tidak mau Sara merasa terluka dengan jawaban atau pun cerita yang akan dia berikan.
Belva diam, menghela nafas terlebih dahulu, kemudian barulah perlahan dia akan mulai berbicara dan menjawab pertanyaan Sara itu.
“Bukan begitu … aku memperlakukannya dengan baik. Awal pernikahan kami pun sangat manis. Ya, kamu tahu sendiri orang yang saling jatuh cinta sampai akhirnya menikah tentu bahagia. Semuanya indah, penuh nektar cinta, itu tepat adanya. Sampai akhirnya kami masing-masing saling sibuk dan tidak ada penerus untuk waktu yang sangat lama. Di saat itulah, hubungan kami renggang. Walau aku tidak komplain secara langsung. Aku menerima saja semua jadwal pemotretannya. Aku terbiasa hidup sendiri dan mengurus diriku sendiri. Namun, saat sudah ada Evan dan kamu pergi dari antara kami, aku dan dia berusaha memulai lagi dari awal, membangkitkan kembali api rumah tangga kami, dan … itu berhasil. Sayangnya, semua hanya berjalan beberapa bulan saja sebelum akhirnya dia berpulang kepada Allah,” cerita Belva.
Dari apa yang Belva ceritakan, setidaknya Sara menangkap satu hal bahwa keputusannya untuk memilih pergi adalah keputusan yang tepat. Walau dia harus meninggalkan Evan, tetapi setidaknya Sara tidak menjadi orang ketiga dalam pernikahan Belva dan Sara. Sara percaya bahwa Anin meninggalkan pesan yang manis dan tentunya indah dalam hidup Belva, terlebih di saat terakhirnya. Terbukti dengan usaha keduanya untuk membangkitkan kembali api rumah tangga yang nyaris padam.
Ada sedikit kelegaan di dalam hati Sara karena memilih pergi. Setidaknya dia memberikan peluang bagi Belva dan mendiang Anin untuk berusaha dan mengobarkan lagi api cinta mereka berdua. Jika, dulu Sara menerima penawaran Anin untuk menjadi yang kedua dan membesarkan Evan bersama-sama. Sudah pasti tidak ada jalinan kasih dan kisah indah yang tersisa dari Belva dan Anin.
“Oh, begitu ….”
__ADS_1
Sara menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
“Cara kita bersikap manis memang beda, Sayang. Dulu aku yang introvert dan tertutup, rasanya sebatas menggandeng tangan sudah manis. Namun, setelah menjadi Ayah tunggal, sorry maksudku karena aku mengasuh dan membesarkan Evan sendiri dalam kurun dua tahun lamanya, aku tahu bahwa anak membutuhkan tindakan kasih sayang yang nyata dari orang tuanya. Aku berusaha memenuhi apa yang Evan harapkan, dan … beginilah aku sekarang. Aku belajar menjadi figur Papa, dan Evan yang menguatkan aku untuk bertumbuh setiap harinya menjadi Papa yang penuh cinta, sehingga dia tidak harus berlari keluar rumah untuk mencari cinta itu sendiri,” jelas Belva.
Kini Sara mengulurkannya dan menggenggam erat tangan suaminya itu, memberi usapan di punggung tangan suaminya dengan gerakan yang begitu lembut.
“Makasih Papa … kamu benar-benar best Daddy buat Evan. Aku yakin semua yang sudah kamu lakukan akan Evan ingat sampai dia besar nanti,” balas Sara.
“Semoga saja Sayang … masih mau tanya-tanya lagi?” tanya Belva kemudian.
“Tidak … sudah cukup. Sejauh ini aku percaya porsi kita memperlakukan pasangan kita memang beda-beda, perubahan suasana, kondisi, dan bahkan karakter bisa mempengaruhi cara kita memperlakukan pasangan kita. Hanya saja, aku pun percaya bahwa kamu dan almarhumah sudah melakukan yang terbaik. Dia meninggalkan kesan yang manis dan indah buatmu, pun untukmu akan akan mengingat momen manis yang sudah kalian lalui terlebih di akhir usia almarhumah,” balas Sara.
“Makasih Sayang … makasih untuk pengertiannya,” balas Belva kini.
Belva kemudian membawa Sara dalam pelukannya, memeluknya dengan begitu hangat, dan juga mendaratkan beberapa kecupan di keningnya istrinya itu.
“Jangan terpengaruh dengan apa yang disampaikan orang lain. Percaya aku. Jika ada sesuatu yang mengganjal di hati kamu, lebih baik sampaikan dan ucapkan kepadaku. Sebab, aku akan menjawabnya seperti ini,” jawab Belva.
“Iya Mamas … aku cuma pengen tahu kok. Cuma kepikirannya author itu tadi yang bilang bahwa dalam setiap perjalan selalu ada sesuatu yang tertinggal, walau hanya sedetik saja. Masa lalu mengajariku cara untuk memahami, mengikhlaskan, dan melaju menuju masa depan. Aku yakin masa depan itu ada aku, kamu, dan kedua putra kita,” balas Sara.
“Benar Sayang … tanpa masa lalu itu, tidak mungkin kita aku memiliki masa depan seperti ini. Itu cerita masa laluku, dan setidaknya kamu tahu bagaimana kehidupan rumah tanggaku dulu, saat kamu di sini dan hamil Evan. Begitu dingin, tetapi kami saling sayang dan menghargai satu sama lain. Tidak pernah aku mengungkapkan perasaanku yang menyakiti Anin, karena aku tahu bahwa Anin lemah secara fisik dan tidak stabil secara mental. Aku memendam dan memilih diam. Di akhir hidupnya, kami menemukan kasih mula-mula kami. Dia bersemangat untuk melakukan prgram hamil dan berniat memiliki anak kandung sendiri. Namun, apa yang direncanakan manusia berbeda dengan apa yang digariskan Tuhan,” ucap Belva.
Yang sudah manusia rencanakan dari jauh-jauh hari belum tentu terlaksana, karena tidak ada ridho dari Allah. Sementara yang Allah ridhoi sudah pasti terlaksana. Itulah suratan takdir yang hanya bisa dijalani oleh manusia.
__ADS_1