Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Bentuk Perhatian


__ADS_3

Sekalipun terlambat, tetapi Belva benar-benar membuktikan ucapannya untuk memperlakukan Sara dengan baik. Seolah-olah pria itu tersadar, terkadang yang dia perhatikan hanya janin dalam rahim Sara. Sementara, untuk Sara sendiri, Belva mengakui bahwa dirinya memang kurang perhatian.


Rasanya memang bersalah, tetapi setidaknya Belva telah berjanji untuk menebus kesalahannya. Dia tidak akan mengecewakan Sara kali ini.


Pagi hari, Belva terlihat sudah turun ke dapur terlebih dahulu. Sesuatu yang aneh bagi seorang Belva Agastya, biasanya pria itu akan turun ke dapur tepat saat jam sarapan. Akan tetapi, kini pria itu tampak sudah berdiri di dapur. Penampakan yang langka ini membuat Bibi Wati kaget setengah mati.


"Pak Belva, ngapain di dapur sepagi ini? Jika ada sesuatu yang dibutuhkan biar saya bantu dan buatkan," ucap Bibi Wati yang perlahan mendekat ke Belva.


"Ah, tidak usah Bi ... ini aku hanya baru membuatkan susu untuk Sara. Katanya kalau yang membuatkan suaminya, rasa susunya akan lebih enak," sahut Belva dengan mengaduk perlahan susu itu.


Bibi Wati pun tertawa mendengar ucapan Belva. Tidak menyangka bahwa majikannya yang jarang menyambangi dapur, kini justru tengah membuatkan susu untuk Sara. Bibi Wati pun menerka, pastilah Sara adalah wanita spesial bagi majikannya.


"Benar Pak Belva, baiklah ada yang bisa saya bantu?" tanya Bi Wati lagi.


"Tidak Bi, ini sudah jadi kok. Saya naik dulu," jawabnya.


Belva pun segera naik ke kamar Sara dengan membawa segelas susu khusus ibu hamil itu. Perlahan, pria memasuki kamar Sara.


"Sara, aku masuk yah," ucapnya.


Belva melihat Sara yang tengah menguncir rambutnya di depan meja rias. Pria itu lantas berjalan mendekat, tangan menyerahkan segelas susu rasa stroberi itu kepada Sara.


"Ini, minumlah ... aku membuatkannya untukmu," ucapnya.


Ada rasa bahagia menyelimuti hati pria itu saat bisa membuatkan segelas susu ibu hamil pertama kalinya bagi Sara.


Sementara, Sara tampak mengerjap. Kelopak matanya bergerak-gerak. Wanita itu seakan tak percaya melihat pagi-pagi Belva sudah berada di kamarnya dengan membawakan segelas susu hangat. Akan tetapi, tangan Sara pun terulur menerimanya.


"Makasih Pak Belva," sahut Sara mengucapkan terima kasih kepada Belva. "Malahan membuat Pak Belva repot," ucapnya lagi.


"Tidak repot kok. Lagipula, aku sudah berjanji bahwa aku akan lebih memperhatikanmu. Jadi, biarkan aku melakukan apa yang aku bisa untukmu," ucapnya.


Hati Sara sebenarnya menghangat mendengarkan ucapan Belva kali ini. Rasanya diperhatikan memang menyenangkan, tetapi tetap saja pada kenyataannya Sara harus diperhadapkan dengan realita bahwa hubungan keduanya hanya sekadar kerja sama.


"Kamu ingin apa lagi? Biar aku akan membuatkannya," tanya Belva kali ini.


"Tidak, Pak Belva ... sudah, terima kasih," sahutnya.


"Yakin?" tanya Belva lagi.

__ADS_1


Sara pun kemudian mengangguk, "Iya," jawabnya.


"Baiklah, tetapi minumlah dulu. Aku akan menunggu sampai susu itu habis kamu minum," ucap Belva dan kemudian pria itu memilih duduk di tepi ranjang. Mengamati Sara yang tengah meminum susu itu.


Hingga setelah Sara selesai meminum susunya, Belva meminta gelas itu. Tangannya bergerak mengusap puncak kepala Sara, "Sehat selalu ya Bumil," ucapanya dengan begitu lembut.


Ya Tuhan, pagi-pagi diperlakukan manis oleh Belva rasanya membuat hati Sara meleleh. Wanita itu pun berandai-andai yang tidak-tidak dalam hatinya.


Andai, aku memiliki suami yang baik dan perhatian ...


Andai, hubungan ini bukan sekadar kerja sama ...


Jika tidak ada 'andai' dalam hubungan ini, sudah pasti aku akan sangat bahagia.


Wanita itu berkata-kata dalam hati, dan menatap punggung Belva yang perlahan menjauh, keluar dari kamarnya.


***


Beberapa hari kemudian ...


Sepulang dari kantornya, Belva tampak pulang dengan membawa paper bag. Pria itu segera menuju kamar Sara.


"Sara, ini aku Belva," ucapnya.


"Ya Pak, ada apa?" tanyanya.


"Ini terimalah," ucapnya.


Sara tampak terkejut menerima beberapa paper bag dari Belva itu. Kemudian dia membuka satu dari tiga paper bag itu. "Celana?" tanyanya.


Belva pun mengangguk, "Iya, celana untuk Ibu Hamil. Di bagian perutnya menggunakan karet, tidak menggunakan pengait dan resleting. Mulai sekarang, jika keluar jangan mengenakan celana jeans, gunakan celana itu. Ada baju-baju untuk Ibu hamil juga, pakailah ya," ucapnya.


"Ini terlalu banyak Pak Belva, toh aku juga tidak keluar dari rumah ini," sahut Sara.


Mendengar ucapan Sara, Belva sadar. Sehari-hari memang hanya dihabiskan Sara di dalam rumah. Wanita itu memang wanita rumahan, bahkan Sara hanya keluar untuk ke mini market di depan perumahan saja, dan saat memeriksakan kehamilan. Selebihnya, Sara selalu berada di rumah.


Belva kemudian menatap Sara, "Tidak apa-apa, pakailah yah ... katakan padaku apakah sizenya pas atau bagaimana? Apa kamu mau jalan-jalan ke Mall bersamaku?" tanyanya lagi.


Akan tetapi, Sara segera menggelengkan kepalanya, "Tidak, Pak ... ini sudah pasti pas kok. Makasih, Pak," sahutnya.

__ADS_1


Belva kemudian mengangguk, "Sama-sama, boleh aku singgah di kamarmu sebentar?" tanyanya.


Rupanya sebelum Sara mempersilakan Belva untuk masuk, pria itu sudah terlebih dahulu masuk. "Sini, Sara ... duduklah denganku," pintanya kali ini.


Menurut. Sara kemudian duduk di samping Belva, "Ada apa, Pak?" tanya Sara.


"Tidak apa-apa, Sara. Hanya saja hubungan kita terlalu kaku. Apakah kita tidak bisa lebih akrab dari saat ini? Jangan memanggilku Pak, itu membuatku terlihat lebih tua," keluh Belva saat ini.


Nyatanya kali ini Sara justru tersenyum, "Pak Belva kan memang lebih tua dari saya," sahutnya.


Menyadari bahwa mungkin saja ucapannya keterlaluan, Sara lantas menutup mulutnya. Akan tetapi, Belva justru tertawa.


"Tidak apa-apa. Aku memang lebih tua darimu, jadi gimana masih mau memanggilku Pak?" tanyanya lagi.


"Iya, aku nyaman memanggil Pak Belva saja," ucapnya.


Setelahnya, Sara menatap sejenak pria yang tengah tersenyum dan duduk di sampingnya itu. Kali ini, Sara ingin meminta satu hal kepada Belva.


"Pak, kalau saya menginginkan sesuatu mungkinkah Pak Belva mengabulkannya?" tanya Sara kali ini.


Belva lantas beringsut dan menatap Sara, "Kamu menginginkan apa? Bukan keinginan yang aneh-aneh kan?" tanyanya.


"Bukanlah," sahut Sara dengan cepat.


"Apa keinginanmu?" tanya Belva lagi.


"Boleh tidak aku mengikuti pelatihan barista, Pak? Aku suka membuat minuman terutama Frappuccino. Jadi, rasanya aku ingin bisa meracik minuman. Lagipula, kegiatanku sehari-hari monoton," keluhnya kali ini.


Sekian bulan hidup bersama Belva dan hanya berdiam di dalam rumah. Kali ini, agaknya Sara merasa sedikit bosan.


Sementara Belva pun tampak menimbang keinginan Sara itu. Ya, sejujurnya Belva tahu bahwa Sara seolah terkurung di dalam kediamannya, sekali pun sebenarnya dia tidak berniat mengurungnya. Selain itu, Belva juga tahu bahwa Frappuccino buatan Sara memang enak. Lantas yang menjadi pertimbangan Belva sekarang adalah kehamilan Sara.


"Kamu yakin mau mengikuti training meracik minuman di saat hamil seperti ini?" tanya ini.


Sara kemudian mengangguk, "Iya, Pak. Boleh tidak Pak? Lagipula, aku bisa membayarnya sendiri," jawabnya.


"Bukan masalah membayarnya, Sara. Hanya saja kamu sedang hamil saat ini? Apakah kamu tidak kecapekan nantinya?" tanya Belva yang ingin memastikan bahwa Sara tidak akan kecapekan.


"Tidak, Pak ... kan training tidak setiap hari juga. Boleh ya Pak?" punya Sara kali ini.

__ADS_1


Melihat Sara yang baru meminta untuk kali pertama, akhirnya Belva pun luluh juga. "Oke, baiklah. Akan tetapi, jangan sampai membahayakan kehamilanmu," ucap Belva kali ini.


Setidaknya Belva akan menuruti apa yang Sara mau. Lagipula Sara juga tidak akan setiap hari keluar dari rumah, hanya di saat tertentu saja. Setidaknya Sara memiliki kegiatan pengalih kesepian dan kebosanannya.


__ADS_2