Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Rumah Penuh Kebahagiaan


__ADS_3

Perjalanan dari Rumah Sakit menuju ke kediaman Belva ditempuh oleh kecepatan sedang. Pengalaman pertama bagi Belva yang membawa Sara dan bayi kecilnya. Rasanya pria itu takut jika menyetir terlalu cepat justru membuat sang bayi merasa tidak nyaman.


“Maaf, aku bawa mobilnya pelan-pelan ya Sara, aku takut jika Evan justru menangis jika mobilnya terlalu cepat melaju,” ucap pria itu sembari mengemudikan mobilnya.


Sara pun kemudian mengangguk, “Iya Pak … tidak apa-apa,” sahutnya.


Sehingga kurang lebih setengah jam berlalu, barulah mereka tiba di kediaman Belva Agastya. Di rumah, rupanya Anin sudah mempersiapkan kejutan kecil untuk menyambut Baby Evan di rumah. Sebuah dekorasi bertuliskan Welcome Baby Boy dengan berbagai ornamen berwarna biru yang siap menyambut kedatangan bayi kecil itu.


“Ayo Sara … pelan-pelan saja jalannya,” ucap Belva yang tampak membantu Sara untuk turun dari mobilnya.


Sara menghela nafas sejenak, saat turun dari mobil karena merasa kurang nyaman dengan bekas jahitannya. Wanita itu berhenti sejenak, barulah mengikuti Belva untuk memasuki rumah itu.


“Welcome Home Baby Evan dan Sara …,” sambut Anin ketika ketiganya memasuki rumah itu.


Betapa bahagianya situasi siang itu, sedikit ornamen dan penyambutan kecil benar-benar membuat kediaman Belva Agastya terasa begitu semarak. Sara pun berkaca-kaca saat melihat Anin yang menyambutnya dan juga Baby Evan.


“Masuklah Sara … ayo,” ucapnya.


Dengan cepat Anin menggandeng tangan Sara dan membawa wanita itu untuk masuk ke dalam rumahnya. Saat hendak menaiki anak tangga Sara merasa ragu, ya dia merasa ragu pasalnya tangga di rumah Belva cukup tinggi, sementara dirinya sendiri pasca mendapatkan jahitan di jalan lahirnya. Sehingga Sara pun merasa ragu apakah dia bisa menaiki anak tangga itu.


“Kenapa justru diam di sini Sara?” tanya Anin perlahan.


“Anak tangganya Kak … aku hanya takut, karena usai dijahit,” ungkapnya.


Barulah Anin sadar, bahwa memang Sara pasca menerima jahitan usai melahirkan untuk Anin kemudian, membawa Sara untuk duduk terlebih dahulu di sofa.


“Kita duduk di sini dulu saja, Sara … mau minum sesuatu? Aku akan membuatkannya untukmu,” ucap Anin.

__ADS_1


Dengan cepat Sara pun menggelengkan kepalanya, “Ah, tidak Kak … tidak usah. Nanti aku bisa mengambil minum sendiri,” sahut Sara.


“Kenapa tidak masuk ke kamar Sara?” tanya Belva yang baru saja masuk lagi ke dalam rumah dengan membawa koper-koper milik Sara.


“Anak tangganya tinggi, Sara ragu soalnya dia abis mendapatkan jahitan kan,” jawab Anin sembara menoleh kepada Belva.


Pria itu akhirnya pun mengangguk, “Ah, iya … benar. Coba, kemarikan Evan. Aku akan menaruhnya di kamar kamu terlebih dahulu. Usai itu, aku akan menggendongmu naik ke atas,” ucap Belva.


Akhirnya, Sara memberikan Baby Evan dalam gendongan Belva. Pria itu menerima dengan hati-hati dan membawa Baby Evan untuk menempati sebuah box bayi yang berada di kamar Sara.


Setelahnya, Belva kembali turun dan kemudian akan menggendong Sara untuk masuk ke kamarnya.


“Ayo Sara …,” ucap Belva yang hendak membopong Sara ala bridal style memasuki kamarnya.


Sara sebenarnya merasa ragu, karena Anin juga duduk bersama dengannya. Takut jika dia terlalu manja dan mencari perhatian seorang Belva. Hingga akhirnya, Anin pun mengangguk, “Sana Sara … kamu juga perlu beristirahat. Tidak apa-apa. Kamu juga istrinya, Belva,” jawab Anin.


Kedua tangan Sara melingkar di leher pria itu, tetapi pandangan matanya hanya menunduk. Malu dan sungkan seolah menjadi perasaan yang menggambarkan bagaimana suasana hatinya saat itu.


Menaiki satu demi satu anak tangga, Belva menunjukkan wajahnya yang datar, pria itu sama sekali tidak bersuara, tetapi sering kali Belva seakan menurunkan pandangannya dan menatap wajah Sara.


Hingga seluruh anak tangga sudah dia naiki, Sara merasa tidak enak.


“Turun di sini saja Pak, aku sudah bisa jalan sendiri,” ucapnya.


Akan tetapi, Belva menggelengkan kepalanya, “Sekalian saja … tidak apa-apa,” ucap pria itu yang justru bersikeras untuk menggendong Sara sampai ke dalam kamarnya.


Dengan satu tangan, Belva membuka daun pintu dan membawa Sara untuk kembali memasuki kamarnya.

__ADS_1


“Silakan masuk,” ucapnya.


Sara terpana melihat beberapa sisi di kamarnya yang terlihat berbeda, itu karena di sana terdapat box bayi tepat di sisi tempat tidur Sara, dan beberapa perlengkapan untuk baby dan ibunya. Rupanya selama Sara masuk ke Rumah Sakit, Anin yang sudah mengubah tatanan di dalam kamar itu.


“Kamu mau duduk di mana di ranjang atau di sofa?” tanya Belva yang masih mempertahankan Sara dalam gendongannya.


“Di sofa saja Pak,” jawab Sara.


Belva mengangguk, kemudian dia mengambil langkah dan segera mendudukkan Sara di atas sofa dengan hati-hati.


“Sebaiknya selama jahitan kamu belum kering, kamu di dalam kamar saja dulu, Sara …,” ucap Belva.


“Euhm, tapi Pak …,” sahut Sara dengan cepat.


“Tidak ada kata tetapi, kamu harus menurut supaya luka jahitannya segera kering dan pulih. Ingat kamu juga usai merasakan sakit bersalin, jadi jangan naik dan turun tangga dulu. Nanti untuk keperluanmu Bibi Wati yang akan menyiapkan semuanya,” ucap pria itu.


Tidak ingin berdebat akhirnya, Sara pun mengangguk, “Iya … baiklah Pak,” jawabnya.


Sara menghela nafasnya sejenak, kemudian dia memberanikan diri untuk bersuara kepada Belva, “Pak Belva … saya kan sudah melahirkan anak bagi Pak Belva, bukankah seharusnya saya keluar dari sini?” tanya Sara dengan hati yang penuh keraguan.


Belva kemudian menatap Sara, “Perjanjian kita untuk 12 bulan Sara … masih ada sisa waktu 2 bulan bukan? Tetaplah di sini sampai masa 12 bulan telah usai,” jawab Belva dengan menatap Sara.


Tak ingin menjawab lagi, Sara pun mengangguk. Baiklah … dia akan bertahan di Kediaman Belva Agastya selama dua bulan lagi. Sembari menunggu masa nifasnya pulih dan sekaligus dia bisa memberikan ASI untuk putranya dalam waktu yang tersisa.


“Istirahatlah … jika perlu apa-apa, kamu bisa menghubungiku. Nanti aku akan kembali lagi. Istirahatlah bersama Evan,” ucap pria itu.


Akan tetapi sebelum Belva benar-benar pergi. Pria itu menatap wajah Sara yang sedari tadi menunduk. Satu tangan pria itu terulur dan mengusapi puncak kepala Sara dengan perlahan. Mulutnya hanya diam, tetapi gerakan tangannya di atas puncak kepala Sara terasa lembut.

__ADS_1


“Istirahatlah Sara … aku keluar dulu,” ucap Belva. Pria itu akhirnya membalikkan badannya dan benar-benar keluar dari kamar Sara.


__ADS_2