Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Pikiran yang Bercabang


__ADS_3

Beberapa jam lamanya, Sara menghabiskan waktu di Coffee Bay. Sekaligus Sara mengecek laporan keuangan dari Coffee Shop miliknya itu, sementara Belva juga duduk di sudut tempat duduk sembari berkutat dengan pekerjaannya. Hari ini memang masih liburan, tetapi Belva masih sibuk bekerja. Sehingga pasangan suami istri sama-sama sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


Jika Sara mengecek laporan dari masing-masing cabang. Belva justru mengecek laporan dan beberapa dokumen. Semoga saja draft yang sudah dia siapkan untuk kerja sama lanjutan dengan Jaya Corp tidak akan jatuh ke tangan Annisa dan Anthony. Agaknya kali ini, Belva harus menghubungi CEO Jaya Corp yaitu Jaya Wardhana untuk mengatakan kemungkinan yang terjadi.


“Sayang, aku keluar sebentar yah … mau menelpon terkait perusahaan,” balas Belva.


“Iya Mas,” jawab Sara.


Belva keluar dari Coffee Bay dengan membawa handphonenya dan kemudian menelpon CEO Jaya Corps yang waktu itu masih dipegang oleh pendiri Jaya Corp yaitu Jaya Wardhana.


“Halo, selamat siang Pak Jaya,” sapa Belva melalui sambungan seluler itu.


“Ya, halo Pak Belva, ada apa?” tanya Pak Jaya melalui sambungan telepon itu.


“Begini Pak Jaya … draft untuk kerja sama Agastya Property dengan Jaya Corp mungkin saja bocor. Sebab, ada masalah internal di perusahaan. Apakah bisa saya mengganti draft tersebut?” tanya Belva kepada Pak Jaya.


“Boleh Pak Belva, jika boleh tahu masalah internal apa?” tanya Pak Jaya. Sebab, tidak biasanya Belva Agastya akan mengubah draft untuk kerja sama. Sementara, ini adalah kali pertama Belva ingin mengubah draft yang berisi ide dan rancangan kerja sama dengan Jaya Corp.


Sebisa mungkin Belva berusaha jujur kepada Pak Jaya Wardhana. Lagipula, Belva sudah cukup mengenal baik Pak Jaya Wardhana, sehingga Belva berharap bahwa kali ini Pak Jaya bisa memaklumi keadaannya.


“Baik … berapa lama bisa disiapkan?” tanya Pak Jaya.


“Tiga hari, Pak Jaya,” sahut Belva.


“Oke, bisa … lebih dari itu, saya tidak bisa yah,” sahut Pak Jaya.


Setidaknya Belva merasa sedikit lega, karena bisa mendapatkan kesempatan untuk mengubah ide dan rancangan kerja dengan Jaya Corp. Hanya saja, Belva harus benar-benar mengerahkan segala daya dan upaya untuk menyelesaikannya sesegera mungkin.


Setelah menelpon CEO Jaya Corps, Belva kemudian kembali masuk ke dalam dan menemui istrinya itu.

__ADS_1


“Masih lama Sayang?” tanyanya.


“Tidak Mas … sepuluh menit lagi selesai kok. Kenapa?” tanya Sara.


“Aku harus ubah kesepakatan kerja sama dengan Jaya Corp. Aku ingin kembali ke Jakarta dan menyelesaikannya semuanya,” balas Belva.


Jika beberapa saat yang lalu, Belva merasa yakin bisa menyelesaikan semuanya. Sekarang, Belva justru ingin kembali ke Jakarta dan menyelesaikan kerja samanya dengan Jaya Corps.


“Apa Mas Belva duluan saja balik ke Jakarta,” ucap Sara.


“Lalu, kamu?” tanya Belva kepada istrinya itu.


“Aku bisa naik KRL nanti sore,” balasnya.


Kali ini dengan jujur Sara mengatakan, dirinya akan kembali ke Jakarta dengan menaiki KRL sore nanti. Sebab, Sara juga tidak ingin kembali ke Jakarta dengan kondisi suaminya itu baru terburu-buru.


“Bukan begitu … mana aku rela, kamu balik ke Jakarta naik KRL,” balas Belva.


Belva menghela nafas dan kemudian mengambil tempat duduk di hadapan Sara. “Aku tahu bahwa KRL aman untuk ibu hamil, bahkan ada tempat duduk prioritas untuk ibu hamil. Hanya saja, jikalau aku kembali ke Jakarta, aku ingin kita kembali bersama dengan Evan juga,” sahut Belva.


Belva sangat tahu bahwa pikirannya sangat bercabang saat ini. Banyak hal yang harus segera dia selesaikan. Akan tetapi, Belva tidak akan membiarkan istrinya itu untuk kembali ke Jakarta seorang diri dengan menaiki KRL.


“Ya sudah, tunggu aku sepuluh menit,” balas Sara.


Tidak ingin menambah beban pikiran suaminya, kali ini Sara meminta kepada Belva untuk menunggunya sepuluh menit lagi. Dalam sepuluh menit, Sara akan menyelesaikan semuanya dan mengikuti Belva kembali.


Belva menganggukkan kepalanya, dan kemudian pria itu memilih duduk dan menunggu Sara. Lagipula, waktu yang diminta Sara hanya sepuluh menit. Untuk itu Belva akan menunggu untuk sepuluh menit itu.


Tepat sepuluh menit, Sara telah menyelesaikan semuanya dan berpamitan dengan seluruh karyawannya. Sara kembali mengikuti Belva untuk kembali ke Villa menjemput Evan di sana. Setelahnya, mereka bertiga akan kembali lagi ke Jakarta.

__ADS_1


Dalam perjalanan dari Bogor menuju ke Jakarta, Evan terlihat murung. Sebab, Evan masih belum puas bermain-main dengan sepupunya, Jerome. Sebelumnya Papanya juga menjanjikan bahwa mereka akan tinggal di Bogor selama seminggu. Akan tetapi, sekarang baru semalam bersama dan Belva sudah membawanya kembali ke Jakarta.


“Evan kok cemberut?” tanya Sara kepada putranya itu.


“Iya Ma, Papa bilang kan kita akan tinggal di Bogor selama satu minggu. Sekarang baru semalam saja sudah pulang ke Jakarta. Evan kan masih ingin main bersama Jerome,” protesnya kali ini.


Berjanji kepada anak memang seharusnya ditepati. Ketika orang tua sudah berjanji, anak pun memiliki ekspektasi seperti yang dijanjikan orang tua. Merasa, sang Papa tidak menepati janjinya, Evan pun melayangkan protes kali ini.


“Maafkan Papa, Van … hanya saja ada pekerjaan penting di Jakarta. Nanti kalau pekerjaan Papa sudah selesai kita piknik bersama,” balas Belva.


“Enggak, Evan gak mau,” ucap Evan yang terlihat mengambek.


Sara melirik ke arah putranya itu. “Evannya Mama … kita kembali ke Jakarta dulu yah. Nanti kalau Papa sudah selesai pekerjaannya, kita jalan-jalan lagi,” ucap Sara yang berusaha menenangkan putranya itu.


“Papa selalu begitu, Ma,” sahut Evan.


“Ya nanti Evan jalan-jalan yah sama Mama. Kita bisa main-main ke Playground,” balas Sara.


“Serius Ma?” tanya Evan.


“Iya, cuma sekarang jangan ngambek yah. Evan kan anak baik. Papa bekerja keras kan juga buat Evan.” Sara sedang memberi pengertian kepada anaknya itu.


Perlahan Evan pun menganggukkan kepalanya, “Iya Ma,” balasnya.


Belva melirik Sara, “Makasih Sayang … maaf banget. Liburan kita berantakan karena masalah ini,” balas Belva dengan lirih.


“Tidak apa-apa, Mas … lagian aku tahu pikiran kamu pasti bercabang kepikiran dengan pekerjaan juga. Biar fokus, lebih baik diselesaikan satu per satu,” balas Sara.


“Makasih sudah ngertiin aku,” balas Belva.

__ADS_1


Sara menganggukkan kepalanya, kali ini dia harus mengerti kondisi suaminya. Tidak ingin menambah beban pikiran suaminya itu. Lagipula, Sara yakin bahwa jika berhubungan dengan Anthony, secara tidak langsung itu berhubungan dengan dirinya. Oleh karena itu, Sara akan memberikan waktu bagi Belva untuk menyelesaikan pekerjaannya, mengurai benang kusut itu, dan juga berharap semoga projek kerja sama dengan Jaya Corp, perusahaan konstruksi itu bisa terus berjalan tanpa ada kendala.


__ADS_2