
Sepeninggal Sara, Anin tampak menangis. Tidak mengira bahwa Sara lebih memilih untuk pergi dari rumahnya. Sebelumnya, Anin begitu yakin bahwa Sara akan lebih memilih bertahan di rumahnya dan mereka bertiga bisa membesarkan Evan bersama-sama. Akan tetapi, semuanya tidak sesuai yang Anin harapkan. Nyatanya esok hari, Sara akan benar-benar pergi dari rumahnya.
Ya, esok hari adalah tepat 12 bulan lamanya Sara tinggal di rumah Belva. Sebenarnya, usai melahirkan Sara sudah ingin meninggalkan rumah mewah itu. Akan tetapi, Belva sendiri yang menahannya dan meminta Sara untuk bisa bertahan sampai masa 12 bulan usai. Untuk itu, esok Sara benar-benar akan meneguhkan hatinya untuk keluar dari rumah Belva.
Di dalam kamarnya Sara tampak mengemasi barang-barang miliknya, memasukkannya ke dalam sebuah koper. Dia kemudian mengambil beberapa foto yang sudah dia simpan di laci nakasnya dan juga memasukkannya di sebuah koper. Merasa bahwa semua telah beres. Sara duduk bersandar di sofa dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Wanita itu menangis dengan terisak-isak.
Hingga karena tangisannya pecah, Sara tidak menyadari bahwa Belva memasuki kamarnya. Pria itu mengambil tempat di sisi Sara dan melepaskan kedua tangan Sara dari wajahnya. Ibu jarinya bergerak untuk menyeka buliran air mata di pipi Sara yang masih berderai meninggalkan jejak-jejak air mata di pipi yang halus itu.
Seakan saat ini Belva menatap dengan begitu lekatnya wajah Sara. Memastikan tidak ada lagi jejak air mata lagi di wajahnya. Belva mengikis wajahnya, menyapa bibir semerah ceri milik Sara yang semula bergetar. Mengecupnya dengan begitu lembut. Menjulurkan sedikit lidahnya dan merasakan rasa manis bercampur hangat di bibir Sara. Pria itu lantas menahan tengkuk Sara dan memagut bibir itu dengan begitu lembut.
Saat mulut tidak bisa berkata-kata, tetapi pada kenyataannya Belva justru membawa lidah dan bibirnya untuk menyapa bibir Sara. Sara sendiri pun seakan tidak bisa lagi menolak, buliran air matanya perlahan mengering dan justru seakan dia larut dalam suasana yang diciptakan oleh Belva. Hingga decakan dari bibir keduanya memenuhi kamar itu.
Sejenak mengikis bibirnya, Belva pun beringsut. Pria itu segera menelisipkan satu tangan di kaki Sara dan satu tangan di punggung Sara, dengan satu sentakan pria itu berhasil membopong Sara dengan kedua tangannya, menggendongnya ala bridal style. Tindakan yang membuat Sara mengerjap dan melingkarkan kedua tangannya di leher Belva.
Keduanya sama-sama diam, tetapi derap langkah kaki Belva secara pasti membawa Sara menuju ranjang yang berada di kamar itu. Dengan perlahan Belva menempatkan Sara di tengah-tengah ranjang. Bukan sekadar menaruh, Belva turut sedikit merangkak di atas ranjang itu dan mulai menindih Sara, menggunakan kedua sikunya untuk bertumpu dan menahan badannya. Pria itu kemudian menatap wajah Sara, menelisipkan juntai rambut Sara ke belakang telinga.
Dengan cepat, perlahan tapi pasti Belva mengangkat dagu Sara dan segera melabuhkan bibirnya di atas bibir Sara. Kali ini Belva mencium Sara dengan nafas yang begitu memburu. Deru nafas pria itu terasa begitu berat dan itu bisa terdengar dari setiap hembusan nafas yang dikeluarkan pria itu.
Belva menyesap kedua belah lipatan bibir Sara. Memagutnya bergantian lipatan atas dan lipatan bawahnya, lidahnya menelusup untuk masuk dan merasai rasa manis dan hangat dari kedalaman rongga mulut Sara. Bermain-main di sana, memberi usapan dengan ujung lidahnya, memagut dengan kedua belah bibirnya. Ciuman yang memburu dan begitu panas hingga membuat keduanya kepayahan untuk menghirup oksigen di sekitarnya.
__ADS_1
Sara yang biasanya menolak, kali ini justru benar-benar terbawa suasana. Wanita itu berusaha mengimbangi ciuman Belva, sayangnya tak mampu karena Belva benar-benar berhasrat malam ini.
Tanpa memedulikan Sara, Belva terus memagut bibir Sara bergantian lipatan atas dan bawahnya dalam tekanan yang serupa. Berulang kali hingga terdengar erangan yang samar dari tenggorokan keduanya.
“Ah, Sara …,” erangan lolos juga dari bibir Belva.
Belva kemudian sejenak meninggalkan bibir Sara, bibirnya kini justru menjelajahi leher jenjang Sara. Meninggalkan kecupan nan hangat dan basah di sana, bahkan satu tangan Belva dengan berani menarik ke bawah kemeja yang dikenakan Sara dan semakin menjelajah hingga ke tulang selangka milik Sara.
Seakan tak ingin berhenti. Belva dengan cepat melepaskan piyama rumahan yang dikenakan Sara. Melepaskan setiap kancing itu dari sarangnya, tangannya bahkan dengan gesit meloloskan kemeja itu dan melemparkannya asal. Setelahnya tangan Belva bergerak, menelusup di balik punggung Sara, melepaskan pengait di sana. Bak gelap mata, Belva segera meremas dada milik Sara. Tekanan yang seirama, meraba puncak dadanya dengan jari telunjuknya dan memilin puncak itu dengan ibu jari dan jari telunjuknya.
Kegiatan yang benar-benar gila, Sara hanya bisa memejamkan kedua matanya secara dramatis dan meremas rambut Belva. Wanita itu bahkan bak tersihir saat ini, hingga Sara menghela nafas, saat lidah Belva bermain-main di puncak dada miliknya. Usapan lidah dan pergerakan mulut yang membuat Sara benar-benar meremang.
“Pak Belva,” ucapan itu lolos juga dari bibir Sara.
Belva lantas melepaskan pakaian sendiri, pria itu benar-benar polos mutlak di hadapan Sara. Bahkan kali ini Belva membawa satu tangan Sara untuk menyentuh inti tubuhnya yang sudah begitu mengeras. Pusakanya sudah mengeras dengan sempurna.
Rasanya begitu menegangkan saat Sara merasakan pusaka yang tegang itu dalam genggaman tangannya. Belva lantas melucuti pakaian Sara yang tersisa. Pria itu membuka kedua paha Sara, menundukkan wajahnya di sana dan mulai menyisiri lembah di sana dengan bibir dan lidahnya. Membiarkan Sara menikmati semua kenikmatan surga dunia yang terjadi dengan sendirinya seperti sekarang ini.
“Ya Tuhan, Pak Belva,” racau Sara kali ini saat merasakan badai yang menerpanya. Badai salju yang membuat wanita itu bak menggigil kedinginan. Terpaan yang membuat dirinya benar-benar limbung sekarang ini.
__ADS_1
Belva lantas mengangkat wajahnya, menyatunya dirinya dan memasuki Sara dengan satu hentakan. Pria itu memegangi kedua pinggang Sara dan mulai menghujamnya dalam, menusuknya dengan begitu cepat, dan menghentak dengan seirama. Gerakan seduktif maju dan mundur, keluar dan masuk yang membuat Sara mencengkeram sprei di bawahnya.
“Oh God, Sara … Sara,” ucap Belva. Pria itu kali ini memilih tidak memejamkan matanya, tetapi kedua mata itu menatap Sara yang berada di bawahnya.
Sara kian terengah-engah, gerakan seduktif Belva membuat lembah di bawah sana begitu basah, tetapi Belva terus berpacu. Seakan tidak akan berhenti hingga di batas pertahanannya yang meledak.
Belva membawa kedua tangan Sara yang lemas untuk memegangi pundaknya, membiarkan tangan itu untuk meremas pundaknya. Dia kembali memasuki Sara dengan satu dorongan kuat, maju dan mundur dengan kian cepat.
Rengkuhan Sara kian menguat, saat dia merasakan sengatan di dalam inti tubuhnya. Dengan robohnya Belva di atas tubuhnya. Pria itu menggeram, rahangnya mengeras seiring dengan miliknya yang menusuk ke dalam sana. Belva dan Sara sama-sama meledak. Pecah, dan tanpa sisa.
Namun, perasaan meledak dan hasrat yang tersulut itu hanya berlangsung beberapa saat saja. Usai rasa itu, yang ada justru Sara dan Belva sama-sama meneteskan air matanya. Sara bisa merasakan bagaimana tetesan air mata Belva yang jatuh di wajahnya.
Wanita itu terisak dengan merengkuh tubuh Belva yang berada di atas tubuhnya. Sama dengan Belva yang meneteskan air matanya saat pria itu roboh di atas tubuh Sara. Perasaan gila dan menyulut keresahan bagi keduanya.
“Perasaanku begitu besar untukmu Pak Belva … sayangnya, kamu tidak pernah mengatakannya. 12 bulan sudah berlalu, tetapi aku menunggu ungkapan perasaanmu nyatanya tak akan pernah terwujud,” teriak Sara dalam hatinya dengan terisak sembari memeluk tubuh Belva.
“Mengapa justru kamu pergi Sara? Tidak bisakah kamu bertahan di sini dan membesarkan Evan bersama-sama? Tidak bisakah kamu bertahan untuk aku dan Evan?” pertanyaan Belva dalam hatinya.
Perasaan keduanya justru kacau usai menikmati nektar cinta yang minta benar-benar akan menjadi kali terakhir yang mereka cicipi sebelum hari esok datang dan Sara akan benar-benar meninggalkan kediaman Belva.
__ADS_1
Info:
Usai berhubungan suami istri, seseorang bisa menangis dan meneteskan air mata. Secara medis ini disebut dengan Postcoital Dysphoria yang adalah sebuah respons alamiah dari perasaan yang menggelegak. Kali ini Belva dan Sara sama-sama merasakan Postcoital Dysphoria saat hormon oksitosin dilepaskan menimbulkan perasaan yang luar biasa secara fisik dan mental. Akan tetapi, akibat dari perasaan itu justru kedua pasangan sama-sama menangis karena perasaan yang tak terucap.