
“Kamu tidak percaya padaku?” tanya Belva sembari menggenggam tangan Sara.
Pria itu seakan menunggu penuh harap pada jawaban Sara yang sampai sekarang belum menjawab pertanyaannya. Rasanya begitu harap-harap cemas dengan jawaban yang hendak diberikan oleh Sara.
Di satu sisi, Sara masih diam dan enggan untuk menjawab semua ucapan Belva. Tampak Belva yang kian mengeratkan genggaman tangannya, dan mengusapi punggung tangan Sara.
“Sayang, aku bahkan berusaha mendapatkan tiket untuk bisa pulang ke Jakarta. Aku benar-benar tidak macam-macam,” ucap Belva yang masih berusaha meyakinkan Sara.
Mungkin juga dengan kehamilannya membuat Sara ragu pada suaminya sendiri. Sampai pada akhirnya, Sara pun membuka suaranya.
“Mas, bolehkah aku meminta waktu untuk pulang ke Bogor satu minggu?” tanyanya kepada Belva.
Mendengar apa yang diminta oleh Sara, membuat Belva menatap tajam pada istrinya itu. Waktu satu minggu sangat lama bagi Belva. Lihatlah hanya berada di Surabaya selama tiga hari saja, Belva sudah tidak tahan dan ingin kembali ke Ibukota. Bahkan pria itu sampai rela tiba di rumahnya tengah malam asalkan bisa bertemu kembali dengan Sara.
“Jangan Sayang … aku tidak akan mengizinkannya,” balas Belva dengan tegas.
Akan tetapi, Sara yang sedari tadi menahan air matanya untuk tidak jatuh. Kali ini, air mata itu benar-benar berlinang. Sara merasa sakit di hatinya, terlebih Sara benci pada dirinya sendiri yang memang kurang dalam segala-galanya. Latar belakang yang dari keluarga miskin, juga sama sekali tidak menarik. Rasa insecure yang kembali tumbuh di dalam dirinya membuat Sara benar-benar menyendiri sekarang ini.
Melihat air mata Sara yang berlinang, Belva pun menangkup wajah istrinya itu dan kemudian menyeka buliran air mata yang membasahi wajah Sara.
“Jangan menangis … Bumilku yang cantik ini malahan menangis sih,” ucap Belva dengan lembut.
Hati Belva pun bergejolak. Ingin memberi penjelasan, tetapi sekarang Sara terlihat mood swing, dan juga sekarang Sara yang menangis membuat Belva ingin menenangkan istrinya itu terlebih dahulu.
“Aku ingin pulang ke Bogor,” balas Sara dengan terisak.
__ADS_1
Mendengar permintaan yang syarat kepastian itu membuat Belva menghela nafas panjang, dan kemudian menyandarkan punggungnya di sofa.
“Jangan tinggalkan aku, Sayang … aku sangat membutuhkanmu,” ucap Belva.
Sebuah kalimat yang terdengar layaknya sebuah rintihan dan tidak ingin ditinggalkan oleh Sara bahkan untuk satu hari pun.
Sara berusaha menenangkan pikiran dan hatinya sendiri, sampai akhirnya wanita itu tidak lagi berlinangan air mata. Sara bisa lebih tenang sekarang, tetapi kedua bola matanya masih enggan untuk bersitatap dengan Belva.
“Baiklah … kamu ingin pulang ke Bogor? Besok aku akan mengantarmu pulang ke Bogor,” ucap Belva pada akhirnya.
Sara pun menganggukkan kepalanya, mungkin ini adalah waktu untuk mengurai semuanya. Terlebih dengan hatinya sendiri. Kenapa semua ini terasa sangat sakit baginya.
***
Menjelang siang, Belva mengantarkan Sara untuk pulang ke rumahnya yang ada di Bogor. Evan yang turut serta pun seakan tidak ingin berpisah dari Mamanya itu.
“Mama, berapa lama di Bogor?” tanya Evan.
“Satu minggu saja, Van … tidak lama kok,” jawab Sara.
“Kalau Evan kangen sama Mama gimana?” tanya Evan lagi.
“Nanti Evan bisa videocall sama Mama. Nanti kita saling videocall ya Nak?” respons Sara.
Kemudian Evan pun duduk beringsut dan memeluk Mamanya itu. “Evan pasti akan kangen sama Mama,” balasnya.
__ADS_1
“Mama juga pasti kangen sama Evan,” balas Sara.
Perjalanan dari Jakarta menuju ke Bogor, praktis hanya didominasi percakapan Sara dan Evan. Belva sendiri lebih fokus untuk menyetir mobilnya. Walaupun dalam hatinya Belva tidak menginginkan Sara untuk tinggal satu minggu sendirian di Bogor, tetapi itu adalah keputusan Sara. Belva hanya berharap bahwa Sara bisa mengelola emosinya sendiri, dan juga memaafkannya.
Begitu mobil Belva telah tiba di perumahan sederhana milik Sara, kemudian Belva membukakan pintu bagi istrinya itu, dan mengeluarkan sebuah koper dari bagasi mobil.
“Mama tinggal di sini dulu ya Evan … Mama selesaikan pekerjaan Mama dulu,” ucapnya.
Sekali lagi Evan tampak mendekat dan memeluk Sara dengan begitu erat. Setelahnya Sara menatap ke wajah suaminya.
“Aku tinggal di sini dulu, Pa … hati-hati nanti menyetirnya,” balas Sara.
“Hem, iya,” sahut Belva dengan singkat.
Sesungguhnya baik Belva dan Sara sama-sama tidak menyukai situasi seperti ini. Mereka yang semula begitu harmonis, karena masalah yang menimpa Belva membuat pasangan suami istri itu harus terpisah antara Jakarta dan Bogor. Memang hanya membutuhkan waktu kurang lebih dua jam perjalanan, tetapi sangat tidak enak untuk tinggal sendiri-sendiri seperti ini.
Setelahnya, Belva dan Evan pun berpamitan dengan Sara. Sara lantas memasuki rumahnya, dan mulai menangis di sana. Meratapi kembali kesendirian yang dia nikmati sekarang ini. Meratapi keputusannya yang memilih untuk menjauh sesaat dari Belva. Rasa insecure yang membuatnya memilih keputusan untuk sendiri terlebih dahulu.
Aku ingin meyakinimu, Mas … tetapi kenapa foto-foto itu terlihat nyata. Aku takut jika kamu berpaling dariku. Aku takut jika kamu meninggalkanku. Aku takut jika kabar yang beredar itu adalah sebuah kenyataan. Aku ingin tidak mempercayainya, tetapi sudah dua kali. Pertama dia yang menumpahkan kopi di kemejamu, dan sekarang foto-foto ini. Selebihnya akan ada apa lagi Mas? Aku terluka, dan aku kecewa … tetapi, aku tidak tahu aku harus terluka dan kecewa kepada siapa.
Aku benci perasaan ini. Aku benci situasi ini. Bahkan, di saat aku tidak ingin percaya, justru aku ingin percaya kepadamu, Mas … lebih dari itu, sekarang pun aku sudah begitu merindukanmu.
Sara bergumam dalam hati di sela-sela isakan tangisnya. Akan tetapi, waktu untuk sendiri ini akan dimanfaatkan oleh Sara untuk mencerna semuanya. Satu minggu sendiri di Kota Hujan ini akan dimanfaatkan Sara dengan semaksimal mungkin.
Kiranya udara sejuk kota Bogor dan hujan yang sering kali mengguyur kota itu akan bisa mendinginkan pikiran dan hati Sara.
__ADS_1