
“Ada apa Pak?” tanya Sara yang seolah terkesiap saat ini.
“Aku tidak bisa berhenti,” ucap Belva kali ini dengan suaranya yang dalam. Pria itu hanya sedikit menyentak tangan Sara, hingga wanita itu kini justru terjatuh di dalam pangkuan Belva.
Kedua matanya membola seketika, saat Belva menatapnya dengan begitu lekatnya. Jantung Sara tiba-tiba berdetak melebihi ambang batasnya, benarkah bahwa pria yang berada di hadapannya kali ini tidak bisa berhenti?
Ya Tuhan, apa maksud semua ini? Yang pertama kali menciumnya dengan begitu dalam adalah Belva sendiri, dan sekarang pria itu justru berbicara bahwa saat ini dirinya tidak bisa berhenti. Sara bingung harus merespons bagaimana ucapan Belva saat ini.
“Sebagai suamimu, bolehkah aku meminta hakku?” tanya Belva kali ini dengan kedua matanya yang masih menatap lekat Sara.
Sekali lagi, jantung Sara berdesir dengan begitu hebatnya malam itu. Benarkah yang tengah diucapkan Belva yang ingin meminta hak sebagai suaminya? Sara hanya diam, tidak menolak dan juga tidak menyetujui. Sikap yang ambigu sebenarnya. Akan tetapi, dilemma yang dialami Sara nyatanya memang hanya bisa membuat wanita itu terdiam.
“Apa tidak boleh?” tanya Belva lagi. Kali ini suara sang CEO itu terdengar layaknya tengah memohon sesuatu kepada Sara. “Si baby pasti ingin ditengok Papanya, bukan?”
Ah, di sini barulah Sara ingat bahwa pesan Dokter saat dirinya memeriksakan kandungannya mereka memang diperbolehkan untuk melakukan hubungan suami istri karena hubungan suami istri memiliki manfaat yang baik bagi ibu hamil. Mulai dari melancarkan peredaran darah karena hubungan suami istri juga dapat menambahkan pasokan oksigen dan nutrisi kepada janin, memperkuat otot dasar panggul karena jika otot dasar panggul kuat kesulitan melahirkan bisa ditangani, menghilangkan stress karena wanita bisa melepaskan hormon yang membuat para wanita hamil merasa bahagia, dan juga saat trimester ketiga nanti berhubungan suami istri bisa memperlancar saat melahirkan.
Seolah menunggu respons dari Sara lama, Belva kemudian kembali menyapa lembut dan manisnya bibir Sara. Menciumnya dengan begitu dalam, memagutnya dengan lembut, tidak ingin terburu-buru, sekali pun dirinya begitu berhasrat, tetapi Belva akan mengutamakan kenyamanan Sara.
Pria itu kembali menciumnya, mencecap manisnya, dan membelai indah dengan lidahnya. Menyalurkan semua rasa dan gejolak dalam ciuman yang begitu lembut dan dalam. Ciuman yang nyatanya justru membawa gelombang bagi Sara dan Belva untuk larut dalam sungai yang memabukkan.
Tanpa tinggal diam, pria itu kemudian melepaskan satu per satu pakaian yang keduanya kenakan dan jari jemarinya sibuk menyusuri epidermis kulit Sara yang lembut. Gerakan tangan yang seolah membelai indah itu, membuat Sara merengkuh pundak Belva dengan begitu kencang.
Pergerakan tangan Belva kini justru seolah tengah meremas buah persik yang ranum itu. Memijatnya perlahan, memilinnya dengan gerakan berputar, dan memberikan cubitan-cubitan kecil di sana. Lantas, dia meraup salah satu buah persik itu dan menenggelamkannya dalam kehangatan rongga mulutnya. Mengecupinya, menggigitnya perlahan, dengan nafas yang terus memburu.
__ADS_1
Lantas Belva membawa satu tangan Sara untuk turun dan menyentuhkannya pada milik pusakanya yang sudah begitu mengeras sekarang. Terkesiap dengan apa yang ada di dalam genggaman tangannya, Sara justru berusaha melepasnya.
Belva menyeringai, dan dia segera menidurkan Sara di atas ranjang dengan hati-hati, pria itu lantas membuka kedua paha Sara dan menyatunya dirinya dengan perlahan. Menghujam begitu dalam, menghentak dalam satu sentakan, menyatukan diri keduanya mengarungi sungai yang seolah arusnya bergerak dengan sangat deras.
Pria itu bergerak seirama, berpeluh, dan menumpahkan hasratnya yang seolah membuncah di dada. Gerakan seduktif yang begitu lembut itu perlahan iramanya kian meningkat, hingga Sara kian memejamkan matanya dan tanpa sengaja menggigit bahu Belva saat merasakan gelombang yang menerpanya. Bahkan wanita itu memekik dan tak kuasa untuk menahan suaranya.
“Keluarkan saja semuanya, jangan ditahan,” ucap Belva kali ini dengan menatap Sara dengan begitu tajam.
Hingga akhirnya, Belva kian bergerak, menyentak, tetapi Belva masih berusaha menahan dirinya karena mengingat kehidupan baru yang tengah bertumbuh di dalam perut Sara. Merasa batas pertahanannya mulai goyah, Belva memejamkan matanya dan pria itu pun menggeram.
“Oh ya Tuhan, astaga Sara,” racau kali ini.
Hingga akhirnya, pria itu mendekap tubuh Sara dengan begitu kuatnya saat merasakan dirinya tak mampu lagi bertahan. Seolah pria itu melihat percikan kembang api yang terlihat oleh kedua matanya.
Menstabilkan kembali deru keduanya, Belva kemudian mengecupi kening Sara dengan lembut.
“Apakah sakit?” tanyanya kali ini kepada Sara.
Sara hanya menggelengkan kepalanya perlahan, “Tidak, tidak lagi sakit,” jawabnya.
Kegiatan panas ini memang tidak membuatku sakit. Rasanya bahkan enak.
Hanya saja hatiku yang sakit, Pak Belva.
__ADS_1
Di saat aku merasakan semua kenikmatan ini, beberapa saat setelahnya, saat kita sama-sama sadar. Hanya ada hanya perasaan dilema yang seolah menggerogoti hati kita.
Kalau pun ada yang sakit, sudah pasti itu adalah hatiku …
Sayatan di dalam hati ini yang membuat luka tak berdarah, tetapi nyerinya hingga ke ulu hati.
Sara hanya mampu berkata dalam hatinya sendiri. Ya, sekalipun bercinta dengan Belva tidak membuat sakit di inti tubuhnya lagi. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri rasa sakit lantaran sayatan tak berdarah di hatinya meninggalkan pilu dan nyeri yang terasa hingga ke ulu hati.
Menekan kembali perasaannya, Sara memilih beringsut dan segera memunggungi Belva. Rasanya dia pun tidak siap jika Belva hanya mengucapkan terima kasih kepadanya. Ucapan terima kasih yang tidak dibarengi dengan pengakuan cinta nyatanya justru membuat posisi Sara layaknya wanita penghangat ranjang saja bagi Belva. Oleh karena itu, kali ini Sara justru ingin Belva cukup diam dan tidak mengucapkan kata ‘terima kasih’ seperti yang sudah-sudah.
Merasakan bahwa Sara menghindarinya, Belva kemudian menarik selimut tebal di tempat tidur Sara itu. Pria itu lantas meninggalkan jejak basah di kening Sara, “Tidurlah Sara … aku akan menjagamu sepanjang malam ini,” ucap Belva pada akhirnya.
Sara hanya mengangguk, wanita itu memejamkan matanya. Tangannya memegang erat selimut bermotif floral itu di depan dadanya, dan kemudian tanpa disangka air matanya berlinang begitu saja.
Ya Tuhan …
Sekiranya masa sembilan bulan ini segera berlalu.
Sebesar apa pun perasaanku padanya. Kami tak akan bersatu.
Aku hanyalah yang kedua.
Yang kedua tak akan pernah menjadi yang pertama.
__ADS_1
Aku akan merelakan saat masa itu berakhir, Ya Tuhan …
Sara mengatakan harapannya itu dari dalam hatinya. Ya, dia benar-benar berharap masa kehamilannya akan berjalan cepat. Sehingga Sara akan berusaha merelakan semuanya saat masa itu berakhir.