Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Menekan Perasaan


__ADS_3

"Terima kasih," ucap Belva pada akhirnya setelah menggumuli Sara.


Sara menganggukkan kepalanya dan menarik selimut putih itu untuk menutupi dirinya. Kali ini, dia harus menekan perasaannya, membentengi dirinya untuk tidak jatuh cinta pada Belva. Pun, saat ini mungkinkah Sara hanya menganggap semua kegiatan panas yang barusan terjadi sebatas hubungan suami istri berdasarkan hak dan kewajiban. Bukan berdasarkan pada perasaan cinta.


Belva pun diam, dia melihat punggung Sara yang tidak tercover selimut. Mengecup punggung itu sejenak dan membelainya dengan halus. "Apakah sakit?" tanya Belva kali ini kepada Sara.


"Tidak, tidak sakit," sahut Sara tanpa memandang wajah Belva.


"Semoga akan terjadi pembuahan di sini," ucap Belva kali ini dengan meraba perut Sara.


"Hmm, iya," sahut Sara pada akhirnya.


Menunggu sejenak, hingga rasa lelah di badannya hilang. Sara memilih untuk membersihkan badannya sekali lagi dengan mandi. Barulah di bawah guyuran air shower itu, Sara menangis.


Apakah memang dirinya tidak berharga, sehingga pria yang sebagai suaminya pun menggumulinya tanpa ada rasa cinta. Lalu, bagaimana dengan setiap cumbuan, sentuhan, belaian, dan semua itu? Apakah semuanya hanya sekadar hasrat saja.

__ADS_1


Jika dia yang menyentuhku, membawaku melambung tinggi. Akan tetapi, kata terima kasih yang dia ucapkan seolah menjatuhkanku dari awan-awan. 


Tidak bisakah, ada pria yang menyentuhku dan mencintaiku. 


Kendati demikian, semoga benih itu segera tertanam di dalam rahimku. Tumbuhlah di sini, aku akan sukarela untuk mengandungnya. 


Hampir setengah jam Sara memilih berada di dalam kamar mandi. Hingga akhirnya gadis itu keluar dengan wajah yang lebih segar. Hari sudah mulai petang, mungkin Sara akan memilih untuk tidur lebih awal.


Sementara itu, Belva menatap Sara yang baru saja keluar dari kamar mandi. Jika beberapa saat yang lalu, pria itu begitu berani untuk meminta izin kepada Sara. Kali ini, Belva justru memilih diam. Rasanya canggung berhadapan dengan Sara.


"Kamu tidak ingin makan lagi?" Akhirnya Belva bersuara dan sedikit menatap Sara yang sedang merapikan kembali ranjang di kamar hotel itu.


Sara menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku rasanya kecapean," jawabnya. Tidak dipungkiri di pengalaman keduanya, justru Sara masih merasa capek.


Belva tersenyum, "Jangan tidur dulu, tunggu aku. Kita tidur bersama," ucap Belva dengan tiba-tiba.

__ADS_1


Sara pun menggigit bibir bagaimana dalamnya, apa maksud Belva yang mengajaknya tidur bersama?


Sekadar tidur? Atau lebih dari itu? 


Usai, membersihkan dirinya, Belva pun menaiki ranjang itu dan menelisipkan tangannya ke bawah kepala Sara, "Sudah, sekarang tidurlah," ucapnya.


Sara mengangguk dan memejamkan matanya, lantaran capek tidak membutuhkan waktu lama bagi Sara untuk terlelap.


Belva yang belum tidur, menatap wajah Sara yang terlelap, "Maafkan aku, mungkin aku seperti pria yang tidak berperasaan. Tidurlah, Sara. Terima kasih untuk keikhlasanmu yang mau mengandung anakku," ucapnya dengan melabuhkan kecupan di kening Sara, saat wanita itu sedang terlelap.


***


Keesokan harinya, Belva mendapat telepon dari sekretarisnya Hendra bahwa ada masalah yang cukup serius di kantor. Oleh karena itu, beberapa waktu yang tersisa di Jeju tidak bisa mereka maksimalkan karena Belva harus kembali ke Jakarta.


"Sara, maaf … tetapi, malam ini juga kita harus kembali ke Jakarta?" tanya Belva kepada Sara.

__ADS_1


Wanita itu pun mengangguk, "Tidak apa-apa, lagipula aku juga sudah merindukan masakan Padang," jawab Sara yang sebenarnya tidak ingin membuat Belva terlalu memikirkan dirinya. Lagipula, misi untuk bersatu sudah selesai, Sara tinggal berharap tanpa melakukan kegiatan panas itu lagi sudah terdapat bakal bayi yang tengah berproses di dalam rahimnya.


__ADS_2