
Keesokan harinya, Belva dan seluruh rombongan akan bertolak ke Singapura melalui Tanjung Pinang. Dengan menaiki sebuah kapal ferry mereka akan berlayar kurang lebih selama 2 jam untuk sampai di Tanah Merah, Singapura. Ini juga menjadi perjalanan dengan menggunakan kapal ferry pertama bagi Sara dan Evan.
“Kita naik kapal ya Ma? Namanya kapal apa Ma?” tanya Evan yang terlihat begitu antusias begitu dia sudah menaiki kapal fast ferry itu.
“Kapal ferry ini namanya, Sayang,” balas Sara.
“Naik kapalnya berapa lama Ma?” tanya Evan lagi.
Sara yang tidak tahu bakal berapa lama mereka menaiki kapal itu, akhirnya bertanya kepada Belva terlebih dahulu.
“Papa, kita berlayar naik kapal ini berapa lama Pa?” tanya Sara.
“Dua jam, Sayang,” balas Belva.
“Dua jam, Evan,” ucap Sara kini kepada Evan.
“Wah, lama ya Ma … kalau kelamaan dan Evan pusing, nanti Evan tidur saja ya Ma,” ucap Evan.
Sara pun menganggukkan kepalanya, dan mengusapi kepala Evan yang bersandar di dadanya itu, “Iya, Evan … bobok boleh kok,” balasnya.
Rupanya belum sempat kapal ferry itu berangkat, nyatanya Evan sudah terlebih dahulu. Mungkin karena pagi tadi bangun terlalu pagi, sehingga jam segini Evan sudah tidur. Sara pun tersenyum melihat Evan yang sudah terlebih dahulu tertidur sebelum kapal itu berangkat.
“Evan kok lucu sih Mas? Belum juga kapalnya berangkat kok sudah tidur duluan,” ucap Sara sembari terkekeh melihat Evan.
“Ngantuk mungkin Sayang … tadi kan bangunnya pagi banget,” balas Belva. Pria itu lantas melirik ke arah Evan yang benar-benar telah tertidur. Lantas Belva meraih tangan Sara dan menggenggamnya.
“Kamu pernah naik kapal sebelumnya?” tanya Belva kepada Sara.
“Belum, ini pengalaman pertamaku naik kapal,” balas Sara.
“Serius?” tanya Belva.
Sara merespons dengan menganggukkan kepalanya, “Iya … ini pertama kalinya aku naik kapal,” balas Sara.
__ADS_1
“Kamu tidak takut kan?” tanya Belva.
Sara menghela nafasnya sesaat, lantas melirik sekilas kepada Belva, “Kalau ada kamu, aku tidak takut,” jawabnya.
Mendengar jawaban Sara, sontak Belva pun tersenyum. Pria itu tidak mengira bahwa Sara bisa menggodanya demikian. Akan tetapi, Belva senang itu berarti bahwa Sara percaya kepadanya bahwa dia bisa melindungi Sara.
Di sela obrolan mereka, Kapal Ferry itu perlahan pun mulai berjalan meninggalkan Tanjung Pinang dan akan berlayar selama dua jam menuju Tanah Merah, Singapura.
“Tanah Merah itu di Singapura kan yah?” tanya Sara kepada Belva.
“Iya, benar Sayang … ada di dekat Changi,” balas Belva.
“Kalau kedua orang tuamu tinggal di mana?” tanya Sara.
"Dekat dengan Orchard Road di Singapura," balas Belva. Pria itu lantas sedikit melirik ke arah Sara, "Kamu takut atau grogi yah?" tanya Belva kepada Sara.
Wanita itu pun menganggukkan kepalanya, "Iya … aku takut. Aku belum pernah bertemu dengan mereka sebelumnya. Bagaimana jika mereka tidak merestui pernikahan kita?" tanya Sara kini kepada Belva.
Sungguh itu pertanyaan yang paling Sara takutkan sekarang ini. Tidak dipungkiri dirinya takut, karena sama sekali dia belum pernah bertemu dengan kedua orang Belva. Ada rasa takut tertolak.
"Kamu tenang saja … kita hadapi bersama-sama. Jangan takut, lagipula aku tidak akan pernah meninggalkanmu," balas Belva dengan yakin.
Sara pun menganggukkan kepalanya dan menghela nafasnya, "Baiklah … apakah kedua orang tuamu juga mengetahui mengenai perihal rahim sewaan kita berdua?" tanya Sara kini kepada Belva.
Bagaimanapun rahim sewaan adalah aib. Di mana dirinya menjual rahimnya untuk mendapatkan uang. Sekalipun Sara mencintai Belva sejak dulu, tetapi bayang-bayang rahim sewaan tidak bisa lepas begitu saja.
"Tidak. Tidak ada yang tahu," balas Belva.
Sara menyadari bahwa Belva ternyata seorang yang benar-benar bisa menyimpan rahasia. Bahkan kepada orang tuanya sendiri, Belva tidak memberitahukan perihal rahim sewaan dirinya dengan Belva dulu.
"Baiklah, kita akan menghadapi bersama-sama," balas Sara kini.
"Iya, kamu jangan takut. Tanganku ini akan selalu menggenggam tanganmu," jawab Belva dengan sepenuh hati.
__ADS_1
Sungguh Belva tidak akan pernah melepaskan tangannya dari tangan Sara. Pria itu berjanji akan terus menggenggam tangan Sara dan tidak akan melepasnya.
Sampai akhirnya kapal yang mereka tumpangi terus melaju, menerjang arus, hingga akhirnya kapal itu akan segera berlabuh di Pelabuhan Tanah Merah, Singapura. Bertepatan dengan Evan yang perlahan terbangun dengan sendirinya.
"Sudah sampai Ma?" tanya Evan begitu bangun tidur.
"Sepuluh menit lagi akan sampai, Van," jawab Belva.
Sara kemudian tersenyum menatap ke arah Evan.
"Tuh, Papa sudah menjawab. Sudah lega kan Evan sudah bisa bobok," balas Sara.
"Iya Mama … Evan sudah tidak mengantuk," balasnya.
Sampai akhirnya kapal benar-benar telah bersandar di Pelabuhan Tanah Merah. Mereka bergantian keluar dari kapal, memasuki pelabuhan dan kemudian mengantri di imigrasi terlebih dahulu. Hampir setengah jam mereka berada di imigrasi barulah mereka keluar dari Pelabuhan Tanah Merah.
Di luar pelabuhan, sudah ada supir keluarga Belva yang menjemput rombongan keluarga Belva dan juga Amara. Mobil itu segera membawa mereka menuju ke apartemen milik keluarga Belva di Singapura.
"Ini Singapura, Sayang. Bangunan itu adalah Bandara Internasional Changi," jelas Belva kepada Sara.
Sebagai orang yang baru pertama kali pergi ke Singapura. Sara pun menganggukkan kepalanya, mendengarkan penjelasan Belva.
"Oh, jadi seperti ini ya Singapura. Tempatnya begitu bersih dan rapi," ucap Sara.
Ya, bagi Sara ketika pertama kali mengunjungi Singapura kesan pertama yang dia lihat adalah Singapura begitu bersih dan juga rapi. Begitu berbeda dengan beberapa tempat di Indonesia, yang kotor dan juga penataan ruang yang tidak rapi. Sementara di Singapura semua begitu rapi, tidak ada sampah yang berserakan. Sepanjang jalan begitu bersih dan juga jalanan di sana sama sekali tidak macet.
"Tidak macet yah di sini?" tanya Sara kepada Belva.
"Tidak Sayang ... Pemerintah di sini menggerakkan warganya untuk menggunakan transportasi massal. Sehingga jalanan di sini tidak macet," jawab Belva lagi.
"Ah, makanya... jalanan di sini cukup lengang. Padahal setahuku Singapura adalah negeri yang sibuk, pusat bisnis juga," balas Sara.
"Ini karena warga tidak Singapura tidak banyak dan mereka lebih mudah diatur. Berbeda dengan negeri kita. Namun, jangan kaget karena pemerintah di sini memiliki 1001 aturan. Kita tidak boleh mengunyah permen karet di sini, karena pembiayaan untuk membersihkan sisa permen karet sangat mahal," jelas Belva.
__ADS_1
Sara menganggukkan kepalanya, semoga saja dia tidak akan terlalu lama tinggal di Singapura. Mendengar banyaknya aturan di Singapura membuat Sara takut. Takut jika melanggar dan berakibat dengan denda yang akan dilimpahkan kepadanya. Semoga saja Belva hanya singgah di sini sementara dan setelah itu mereka bisa kembali ke Bogor atau Jakarta.