
Pagi ini menjadi pagi pertama bagi Sara membuka matanya dan disambut dengan panorama kota Seoul. Wanita itu mengerjap, dan melihat Belva yang masih tidur dengan memunggunginya. Rasanya, Sara begitu lega. Sebab, semalam keduanya memang hanya sebatas tidur. Tidak ada aktivitas lain yang dilakukan Belva atasnya. Untuk itu, Sara pun merasa beruntung.
Setelahnya, Sara memilih untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Sembari menunggu Belva bangun dan mereka akan menuju ke restoran untuk sarapan terlebih dahulu. Hanya membutuhkan waktu sekitarannya dua puluh menit, Sara sudah keluar dari kamar mandi. Sayangnya, Belva masih tertidur. Oleh karena itu, Sara memilih untuk menunggu Belva bangun.
Sara memilih menghangatkan air putih dengan heater water yang berada di dalam hotel ini, dia kemudian mengeluarkan Teh Celup yang sengaja dia bawa dari Jakarta. Kemudian dia menyeduh Teh beraroma Melati itu ke dalam dua cangkir.
Rupanya aroma Teh Melati yang harum dan memiliki aroma yang khas itu mampu membangunkan Belva, hingga pria itu pun beringsut dan mulai mengerjap, membuka kedua matanya.
"Kamu sudah bangun, Sara?" tanya Belva dengan suaranya yang serak khas orang bangun tidur.
Sara pun mengangguk, "Iya, aku sudah menyedihkan Teh hangat untukmu, Pak," sahutnya dengan berbicara kepada Belva.
"Terima kasih ya, aku ke kamar mandi dulu." Belva bangun, menyingkap selimutnya dan menuju kamar mandi terlebih dahulu.
__ADS_1
Sekian menit di kamar mandi, Belva pun keluar dengan badan yang segar. Pria itu lantas mengambil Teh yang sudah diseduhkan oleh Sara. Dalam hatinya, pria itu tersenyum. Di rumah biasanya Bi Wati yang menyiapkan sarapan untuknya dan kali ini ada Sara yang menyiapkan Teh hangat untuknya.
"Mau ke Namsan Tower sekarang?" tanya Belva pada akhirnya kepada Sara.
Sara mengangguk, "Bolehkah Pak?" tanyanya.
Belva tersenyum, "Ayo, boleh. Gantilah bajumu. Nanti kita sarapan di jalan saja. Jika pagi, Namsan Tower belum terlalu ramai," ucapnya.
***
Rasanya kebahagiaan Sara begitu melimpah saat dia bisa melihat langsung ikon kota Seoul dengan mata kepalanya sendiri. Sekalipun gestur tubuh Belva begitu tenang, tetapi matanya mengamati setiap pergerakan Sara. Pria itu tersenyum dalam hati, tidak menyangka bahwa hanya sekadar melihat Namsan Tower saja Sara sudah sebahagia ini. Bagaimana jika dia memperlihatkan seluruh keindahan Korea Selatan kepada Sara, sudah pasti bahwa Sara akan bahagia.
“Mau naik ke atas?” tawar Belva kepada Sara.
__ADS_1
Sara mengangguk, “Mau, Pak.”
Belva pun segera mengajak Kanaya menuju observatorium Namsan Tower. Saat ini Sara dan Belva berdiri di lantai yang terbuat dari kaca dan dinding dari kaca. Berada di tempat ini serasa membuat Sara ketakutan karena seolah dia berada di atas awan-awan.
“Ayo, kita turun Pak … aku takut,” ajak Sara yang tidak sengaja menarik tangan Belva untuk kembali turun ke bawah.
Refleks, Sara pun segera melepaskan tangan Belva.
“Maaf, Pak … tidak sengaja,” ucapnya lagi Seoul dengan terbata.
Akan tetapi, Belva justru tidak bergeming. Dia justru menarik tangan Sara dan menggenggamnya.
“Tidak usah takut, jika akan berada di sini setidaknya sepuluh menit. Usai itu kita akan turun,” sahut Belva dengan terus mengeratnya tangannya di atas telapak tangan Sara yang terasa begitu dingin.
__ADS_1
Sara mengangguk, tetapi sekalipun dia seolah tidak berani menatap wajah Belva. Sara lebih memilih membuang arah pandangannya kepada keindahan kota Seoul yang dia lihat dari ketinggian itu. Pemandangan ini benar-benar indah. Akan lebih indah, jika Sara bisa menikmatinya dengan pria yang benar-benar mencintainya.