Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Kelegaan Sara


__ADS_3

Usai makan malam bersama keluarga Belva, kali ini Belva mengajak Sara untuk berisitirahat di apartemen miliknya yang berdekatan dengan unit milik Mama dan Papanya Belva itu.


“Kenapa, wajah kamu masih tegang kayak gitu?” tanya Belva kepada Sara.


“Aku takut, Mas … Mama Diana tadi kelihatan gak suka banget sama aku,” balas Sara dengan jujur.


Belva perlahan mengajak Sara untuk duduk di sebuah sofa, dan segera memeluk istrinya itu. “Tenang saja … aku akan tetap bersamamu apa pun yang terjadi,” ucap Belva dengan jujur.


Ada helaan nafas yang begitu lega membuat Sara benar-benar tenang sekarang. Ketakutannya beberapa saat yang lalu, akhirnya sirna juga saat Mama Diana pada akhirnya bisa menerimanya.


“Aku pikir … tadi, Mama Diana akan menolakku. Mengingat latar belakang kita yang jauh berbeda. Lagipula, aku sepenuhnya sadar siapa diriku ini. Kita memang berbeda. Kamu dari keluarga Taipan yang kaya raya. Sementara aku hanya anak sebatang kara. Semua perbedaan itu tentu membuat orang tua memiliki pertimbangannya sendiri,” ucap Sara.


Belva lantas melirik sekilas ke arah Sara, “Akan tetapi, itu hanya perbedaan yang dibuat oleh manusia sendiri. Di hadapan sang Pencipta bukankah kita ini sama?” tanya Belva kepada Sara.


“Memang benar … tetapi manusia melihat apa yang hanya dilihat oleh mata. Kupikir, aku tidak akan diterima sebagai menantu di dalam keluargamu,” balas Sara.


Ya, sebagai seorang wanita tentu saja Sara berpikiran negatif. Mengingat banyaknya perbedaan antara dirinya dengan Belva membuat Sara sadar diri. Di lihat dari segi mana pun, seakan-akan dirinya tidak kayak untuk mendampingi Belva. Hanya saja saat Belva mengakui masa lalunya bersama dengan Sara, memberitahu asal-usul Evan, barulah keluarga besarnya bisa menerima Sara.


“Jangan berpikir seperti itu … percayai aku, Sara … apa pun yang terjadi, aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu. Aku akan selalu mendampingimu, dan aku pun mau banyak hanya kamu yang mendampingiku sampai ujung usiaku,” ucap Belva dengan bersungguh-sungguh.


Ada anggukan samar dari kepala Sara, perlahan wanita itu menyandarkan kepalanya di atas bahu Belva. Sekadar bersandar sesaat. Memberi dirinya sendiri waktu untuk mencerna semua yang telah terjadi.


“Aku jadi takut … memangnya Mama kamu pernah ingin menjodohkanmu yah?” tanya Sara perlahan.

__ADS_1


“Iya … beberapa bulan setelah kematian Anin,” balas Belva.


“Dengan siapa?” tanya Sara.


“Anak pemilik perusahaan J Building,” balas Belva.


Sara merepons dengan menganggukkan kepalanya. Bagaimana pun calon yang dipilihkan oleh keluarga Belva tentu adalah wanita yang sekelas dengan Belva. Pemilik J Building tentu adalah dari keluarga kaya raya yang juga bergerak di bidang jasa dan property. Hampir mirip dengan Agastya Property.


“Kenapa kamu menolaknya?” tanya Sara kepada Belva.


“Aku mencintaimu, Sara … lagipula, aku tidak bisa mencintai wanita lain lagi. Aku hanya ingin mencarimu dan menemukanmu lagi. Aku bahkan membuat sebuah janji bahwa begitu aku menemukanmu, aku akan segera menikahimu lagi,” balas Belva.


Memang terkesan naif. Akan tetapi, janji itu dibuktikan Belva. Begitu menemukan Sara, tidak membutuhkan waktu lama bagi Belva untuk meyakinkan Sara dan menikahi wanita itu kembali. Belva kali ini tidak mau terlalu pasif dan membuat segalanya berjalan di tempat seperti dulu. Belva benar-benar bergerak cepat untuk membuktikan kepada Sara bahwa dirinya telah berubah.


“Jika kamu tidak menemukanku, apakah mungkin kamu akan terus hidup sendiri bersama dengan Evan?” tanya Sara kemudian kepada Belva.


“Iya … aku tidak ingin menikah lagi. Lagipula, aku bisa hidup sendiri bersama dengan Evan. Lalu, kamu? Mungkinkah kamu akan bersama dengan Zaid?” tanya Belva dengan tiba-tiba.


Mendengar nama Zaid sontak saja Sara tertawa, “Kami hanya berteman. Tidak pernah terjadi apa-apa di antara aku dan dia,” balas Sara.


“Namun, dia mencintaimu Sara … aku tahu pasti, seorang pria seperti Zaid itu jika menyukai seseorang akan tulus. Tidakkah kamu sekalipun menyukainya?” tanya Belva.


“Tidak … aku selalu menganggap dia sebagai sahabatku. Zaid memang baik. Sangat baik, hanya saja hatiku tidak bisa menerimanya,” balas Sara.

__ADS_1


Belva mendengarkan ucapan Sara kali itu, walaupun Belva tidak suka saat Sara mengatakan bahwa Zaid adalah pria yang baik. Akan tetapi, Belva pun sangat tahu bahwa Zaid memang pria yang baik. Lantas Belva melirik sekilas ke arah Sara.


“Sudah, jangan memuji-muji dia di hadapanku. Telingaku panas jadinya,” ucap Belva dengan tiba-tiba.


Senyuman lebar terbit begitu saja di sudut bibir Sara. Wanita itu menerka jika suaminya itu tengah cemburu saat ini.


“Mas, boleh peluk aku sebentar?” pinta Sara kali ini kepada Belva.


Perlahan Belva membuka kedua tangannya, dan merengkuh tubuh Sara, memeluknya dengan begitu erat, tangannya bergerak mengusapi punggung Sara dengan gerakan tangan yang naik dan turun.


“Kenapa?” tanya Belva.


“Tidak apa-apa … terima kasih sudah memelukku. Terima kasih sudah meyakinkan kedua orang tuamu,” balas Sara kali ini.


“Iya … sama-sama. Aku akan terus membuktikan kepadamu bahwa aku akan selalu mendampingimu. Jangan pernah lepaskan tanganku, Sara … apa pun yang terjadi, kita akan menghadapinya bersama-sama,” ucap Belva.


Sara lantas menganggukkan kepalanya. Pernikahannya dan Belva belum ada satu bulan. Tentu akan begitu banyak aral melintang yang menyambut keduanya. Permasalahan yang akan mendewasakan mereka berdua. Untuk itu, Sara berharap bahwa ikatan cinta mereka berdua selalu kuat dan mereka bisa terus bersama membesarkan Evan dengan penuh cinta.


“Iya … kita akan menjalani semua bersama. Aku akan belajar untuk percaya kepadamu,” balas Sara.


“Benar … percayai aku. Huhh, setelah semua ini … aku berharap rumah tangga kita penuh dengan kebahagiaan. Akan tetapi, aku pun tahu bahwa kehidupan itu penuh dengan warnanya sendiri. Yang penting kita akan terus bersama,” jawab Belva.


Mengharapkan kebahagiaan sepanjang waktu itu sangat normal. Akan tetapi, hidup memiliki siklusnya tersendiri. Belva hanya percaya bahwa sekalipun warna dalam rumah tangganya beraneka ada warna cerah, ada warna gelap, bahkan warna suram sekalipun, dengan bergandengan tangan dengan Sara semuanya akan bisa dia lewati. Di semua fase hidup, Belva dan Sara akan selalu bersama.

__ADS_1


__ADS_2