
Usai sarapan yang hening, Belva pun segera berangkat ke kantornya. Sementara di rumah mewah itu hanya ada Sara dan Anin. Walaupun Sara terkadang merasa canggung, tetapi sejauh ini Anin adalah orang yang baik dan juga memperlakukan Sara dengan baik.
Kali ini keduanya tampak melihat sebuah saluran televisi di ruang tengah.
"Kak, kamu baik-baik saja kan?" tanya Sara kepada Anin.
Rasanya, di mata Sara ada sesuatu yang tengah Anin sembunyikan. Sejak kemarin menemuinya, wajah cantik Anin terlihat gelisah.
Anin pun menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa … aku mungkin hanya kecapean," jawabnya sembari memijat pelipisnya. Wanita itu pun akhirnya tersenyum kepada Sara. "Kenapa, apa wajahku terlihat aneh?" tanya Anin kepada Sara.
Sara pun menggeleng, "Tidak, kamu cantik, Kak … hanya saja kenapa kamu terlihat bersedih?" tanya Sara lagi kali ini.
"Aku tidak bersedih, hanya saja aku memikirkan sesuatu. Sudah lama Belva menginginkan seorang buah hati, Sara. Selama itu juga, aku tidak bisa memberikannya. Mungkin kamu merasa aneh, kami dianugerahi dengan harta kekayaan yang melimpah ruah. Akan tetapi, Tuhan seolah tidak menganugerahi kami buah hati. Semua itu, salahku," ceritanya kali ini kepada Sara.
Memang ironis, di saat Tuhan menganugerahi Belva dan Anin dengan kekayaan melimpah, karir Belva sebagai pengusaha muda yang sukses, juga karir Anin di dunia modelling. Akan tetapi, Tuhan tidak menganugerahi mereka dengan buah hati. Padahal bagi mereka yang telah berumah tangga, hadirnya buah hati itu sangat di nanti.
"Jangan berkata begitu, Kak … bukan salah Kakak," ucap Sara kali ini yang berusaha menenangkan Anin.
Anin lantas menggelengkan kepalanya, "Endometriosis yang kuderita sudah akut, Sara. Tidak ada wanita yang sepertiku, aku memiliki siklus haid hingga dua minggu lamanya disertai dengan kesakitan. Dokter juga memvonis bahwa aku tidak akan bisa hamil. Juga Tokophobia yang kualami, rasanya seorang bayi itu begitu menakutkan buatku. Aku wanita yang tidak sempurna," cerita Anin lagi kepada Sara.
Setelahnya Anin beringsut dan melihat kepada Sara, "Oleh karena itu, wujudkan impianku untuk bisa memiliki buah hati, Sara. Lengkapi kebahagiaan kami berdua. Kamu mau kan mengabulkan permintaanku ini?" tanya Anin kali ini kepada Sara.
__ADS_1
Namun, dalam hal ini ada satu hal yang mengganggu pikiran Sara. Endometriosis dengan Tokophobia itu tidak ada hubungan. Endometriosis (Kista) yang membuat Anin tidak bisa memiliki anak, tetapi jika Anin masih mengidap Tokophobia hingga nanti dirinya takut dengan adanya bayi, lantas jika buah hatinya lahir nanti siapa yang akan mengasuhnya.
Oleh karena itulah, Sara memikirkan satu hal. Anin sudah membagi cerita hidup kepadanya, dan kali ini giliran Sara yang akan menyampaikan harapannya.
"Kak, aku mau untuk mengandung buah hati untukmu dan Pak Belva dengan satu syarat." Sara berkata kali ini dengan menatap wajah Anin.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Anin lagi kepada Sara.
"Aku mau mengandung benih dari Pak Belva, tetapi Kakak harus mau berobat setidaknya untuk menyembuhkan Tokophobia Kakak. Aku akan menemani Kakak ke Psikiater untuk terapi dan konseling. Bagaimana Kak?" tawar Sara kali ini.
Sebuah phobia atau kecemasan bisa disembuhkan dengan melakukan terapi ke Psikolog. Biasanya, terapi dasar yang diberikan adalah supaya pasien menerima terapi keluarga, dekat dengan keluarganya. Untuk itulah, Sara mau menemani Anin untuk sembuh dari phobianya itu.
Anin pun kembali menatap wajah Sara, "Aku pernah mencoba terapi keluarga. Namun, tidak berhasil," jawabnya dengan menunduk.
Anin pun menghela nafasnya, dia kembali melirik wajah Sara. Hingga akhirnya, Anin pun mengangguk, "Baiklah, kita akan mencobanya lagi. Namun, tidak boleh mengganggu jadwal pemotretanku ya? Juga aku mau dengan satu syarat."
"Syarat apa Kak?" tanya Sara sembari mengernyitkan keningnya.
"Aku mau melakukan terapi lagi, tetapi kamu harus pergi berbulan madu terlebih dahulu dengan Belva. Sepekan saja. Pergilah bersama Belva," pinta Anin kali ini kepada Sara.
Jika mereka istri pertama akan sakit hati apabila suaminya menghampiri madunya, tetapi Anin justru bersikeras untuk membuat Belva menghampiri Sara. Tidak dipungkiri, hatinya pun sakit. Akan tetapi, Anin justru menunjukkan senyuman seolah dia tegar kepada Sara.
__ADS_1
Mendengar syarat yang diberikan Anin, Sara hanya diam dan menggigit bibir bagian dalamnya. Rasanya syarat yang diberikan oleh Anin itu terlalu berat bagi Sara.
"Sepekan terlalu lama, Kak," jawab Sara dengan lirih.
Akan tetapi, Anin menggelengkan kepalanya, "Tidak. Sepekan itu cepat, Sara. Kenallah dulu dengan Belva, dia pria yang baik. Belum nanti jika dia mengurungmu di kamar," kekehan terlepas dari bibir Anin begitu saja.
"Dulu, awal kami menikah. Bulan madu hanya formalitas untuk menepi dari pekerjaan, dan Belva mengurungku berhari-hari di kamar. Sepekan terasa singkat." Kali ini Anin teringat dengan pengalamannya bulan madu saat awal menikah dulu dengan Belva.
Kenangan saat pria itu mengurungnya di kamar hotel menjadi kenangan indah bagi Anin. Sayangnya, kebahagiaan pengantin baru itu tidak bertahan lama. Sebab, usai itu endometriosis yang dideritanya kian parah dan berakhir dengan vonis Dokter kepadanya.
Mendengar cerita Anin barusan, Sara pun menundukkan wajahnya. Rasanya sangat tidak adil jika dia harus merusak kebahagiaan suami istri itu. Seolah-olah dia menjadi orang ketiga dalam kehidupan rumah tangga Belva dan Anin. Bila keduanya sama-sama saling mencintai, tidak bisakah keduanya bertahan sekalipun tanpa buah hati?
Bukankah di luar sana, ada pula orang-orang yang bertahan dengan pernikahan dan kehidupan rumah tangganya sekalipun tanpa buah hati. Tak jarang, ada pasangan yang menua bersama pula sekalipun tidak ada tangisan bayi yang mewarnai rumah mereka.
"Jadi bagaimana kamu mau berbulan madu dengan Belva? Sepekan saja. Mau ya?" pinta Anin kali ini kepada Sara.
Sementara Sara masih diam, dia takut jika saat berhubungan dengan Belva, dia akan pingsan lagi. Sungguh, dia tidak ingin menyulitkan Belva.
"Kita sudah membagi harapan kita masing-masing kan? Aku akan pergi ke terapi setelah kalian pulang dari bulan madu. Bagaimana? Jika, kamu tidak mau ya aku tidak mau melakukan terapi itu," ucap Anin lagi dengan menatap Sara.
Pilihan yang sukar bukan bagi Sara, dia sebenarnya dia tidak berbulan madu, tetapi dia ingin Anin sembuh dari phobianya sehingga Anin bisa menjadi seorang Ibu yang mengasuh buah hatinya nanti.
__ADS_1
"Baiklah Kak, jika itu maumu. Usai itu, aku akan mengantarmu untuk terapi ya," balas Sara bahwa dia akan mengantarkan dan menemani Anin untuk melakukan terapi ke psikolog.
Anin pun mengangguk, "Baiklah … semoga kamu segera memberikan kepadaku dan Belva kabar yang baik ya. Aku menunggu saat itu," ucap Anin dengan tersenyum kepada Sara.