
Kembali ke perusahaan tentu Belva disibukkan dengan berbagai laporan yang kembali harus dia cek. Untung saja Ridwan bisa dia andalkan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan, sehingga tugas Belva sedikit berkurang karenanya.
Kini, Belva kembali tiba di ruangannya. Beberapa laporan direksi yang masuk ke mejanya, akan dia kerjakan hari ini. Sehingga Belva bisa segera pulang dan menemui Sara dan Evan. Baru beberapa jam berada di kantor sudah membuat Belva begitu rindu dengan Sara dan juga Evan.
Terlebih di mata Belva, Sara justru kian cantik dan menawan. Rasanya justru Belva menginginkan memiliki banyak anak dari Sara karena pesona istrinya itu saat mengandung memang sangat mengagumkan. Kecantikannya justru kian berlipat-lipat di matanya.
Lantaran begitu kangen dengan Sara, menjelang makan siang Belva pun mengirimkan pesan-pesan kepada istrinya itu.
[To: Mamanya Evan]
[Sayang, baru ngapain di rumah?]
[Sudah mau makan loh … kamu jangan lupa makan siang yah.]
[Jangan kecapekan.]
[Tunggu Mamas pulang nanti sore.]
[I Love U, Sayang ….]
Begitu pesan-pesan itu terkirim, senyuman terbit begitu saja dari sudut bibir Belva, teringat dengan wajah manis istrinya dan betapa lugunya putrinya itu. Rasanya ingin sekali Belva segera pulang ke rumah dan segera memeluk istrinya itu. Akan tetapi, dia masih bekerja dan masih ada beberapa laporan yang harus dia selesaikan hari ini.
Usai mengirimkan pesan untuk Sara, Belva kembali berkutat dengan pekerjaannya. Berharap semua pekerjaan bisa dia kerjakan secepat mungkin. Jam demi jam berlalu, sampai akhirnya Belva sudah menyelesaikan pekerjaannya. Merasa masih memiliki waktu, Belva teringat dengan sesuatu yang harus dia beli untuk Sara.
Tidak perlu menunggu lama, Belva kemudian membereskan meja kerjanya dan pria itu menuju ke salah satu pusat belanja yang tempatnya tidak jauh dari perusahaannya. Segera Belva menuju outlet yang menjual perlengkapan Ibu Hamil dan Baby, kali ini Belva berniat membelikan bantal yang bisa digunakan untuk menyangga pinggang Sara, sehingga pinggang istrinya itu tidak akan pegal. Belva sadar dengan semakin bertambahnya usia kehamilan, aktivitas wanita hamil pun mulai berkurang. Oleh karena itu, Belva berniat membeli beberapa beberapa bantal untuk ibu hamil.
“Ada yang bisa dibantu Pak?” tanya pegawai di toko itu.
__ADS_1
“Saya mau cari bantal untuk ibu hamil dong Mbak,” jawab Belva.
Segeralah pegawai itu menunjukkan beberapa bantal dengan beberapa jenis yang cocok untuk Ibu hamil. Bisa untuk menyangga pinggang, ada juga bantal yang modelnya panjang dan bisa untuk tiduran miring untuk menyangga perut. Bantal layaknya pelampung, yang begitu nyaman untuk Ibu hamil saat tidur.
“Boleh deh Mbak … saya mau yang ini satu. Terus bantal yang buat di mobil itu dua yah,” pinta Belva.
“Baik Pak, kami ambilkan yang kemasan baru. Sekalian sedikit informasi, bantal ini bisa mengurangi sakit punggung dan pegal. Mau motif yang apa Pak? Ada moon star, lovely bear, dan beberapa motif lainnya,” jelas pegawai tersebut.
Sebenarnya untuk urusan memilih motif bukan hanya Belva, para pria itu juga merasa bingung. Bagi mereka bantal adalah bantal, tidak peduli motifnya. Berbeda dengan para wanita yang merasa bantal harus memiliki warna tersendiri, bahkan ada juga yang menginginkan bantal yang lucu-lucu. Belva menghela nafas dan mengamati beberapa motif yang ditunjukkan pegawai itu.
“Ya pink saja deh, Mbak,” pilih Belva pada akhirnya.
“Baik Pak, kami ambilkan kemasan yang baru yah … perlengkapan babynya sekalian Pak,” ucap pegawai itu yang menawarkan produk lainnya.
Akan tetapi, Belva menggelengkan kepalanya perlahan, “Bantalnya dulu saja Mbak … istri saya membutuhkan itu. Nanti kalau sudah waktunya melahirkan, baru deh belanja buat baby,” jawabnya.
“Baik Pak, silakan langsung ke kasir,” ucap pegawai itu.
Kini Belva sudah menenteng sebuah paperbag yang berisikan aneka Dimsum, setelahnya dia tinggal kembali ke rumah. Rasanya begitu senang bisa memberikan oleh-oleh untuk istrinya. Terlebih Sara memang begitu jarang untuk meminta sesuatu kepada Belva. Sehingga, dengan inisiatifnya sendiri Belva memberikan berbagai bantal untuk Sara.
Berkendara membelah lalu lintas Ibukota yang mulai padat, membutuhkan waktu lebih dari setengah jam bagi Belva untuk tiba di rumah. Begitu mengetuk rumah, sama seperti biasa ada Sara yang sudah berdiri dan menyambutnya di depan pintu.
“Papa pulang,” ucap Belva dengan menenteng paper bag.
“Dari mana aja Mas? Tumben bawa banyak barang,” tanya Sara.
“Ini oleh-oleh buat istri tercinta,” jawabnya sembari memberikan paperbag berisikan Dimsum itu kepada Sara.
__ADS_1
Sara menerima paperbag dari suaminya itu dan melihat isinya sekilas, “Dimsum?” tanyanya dengan wajah yang begitu cerah dan ada senyuman di sana.
“Iya, aku belikan Dimsum buat Bumilku ini,” balas Belva.
Tidak berselang lama ada asisten rumah tangganya yang mengeluarkan bantal-bantal yang Belva beli untuk istrinya itu.
“Ini Pak Belva belanjaannya,” ucap ART di rumah Belva itu.
“Bawa masuk saja Pak, terima kasih yah,” balas Belva.
Sara mengamati beberapa box yang terlihat gambar ibu hamil itu, kemudian Sara melirik ke suaminya, “Kamu mampir belanja tadi?” tanyanya.
“Iya … oleh-olehnya enggak cuma Dimsum, tetapi juga bantal biar pinggangnya Bumilku ini tidak pegal,” jawab Belva.
“Kamu enggak malu Mas, mampir ke Mall beli bantal Ibu hamil kayak gini?” tanya Sara. Sebab, biasanya para pria akan malu memasuki pusat perbelanjaan dan membeli sesuatu yang berkaitan dengan Ibu hamil.
Belva menggelengkan kepalanya, “Buat apa juga aku malu coba, kamu nyuruh aku belikan strapless braa saja, juga bakalan aku belikan,” jawabnya dengan begitu entengnya.
Refleks, tangan Sara bergerak dan memukul dada suaminya itu, “Kalau bicara itu loh … frontal banget sih,” sahut Sara.
Nyatanya Belva justru tertawa, tangan pria itu bergerak dan menggenggam tangan Sara, “Aku serius … kamu minta aku belikan kayak gitu saja, aku belikan. Aku enggak malu. Bagiku itu hal kecil Sayang. Kalau beliin sesuatu buat apa aku malu, orang aku bayar juga, dan aku mau sama kamu ya aku akan penuhi semua kebutuhanmu,” jawabnya.
“Ya enggak gitu juga, Mas … kan cowok-cowok biasanya malu. Mana kamu pakai jas, keren, masuk ke Mall dan beli bantal Ibu hamil. Hot Daddy banget sih,” jawab Sara.
Belva mengernyitkan keningnya, “Hot gimana? Beli bantal masak hot sih?” tanyanya.
“Iya … cowok itu kalau sayang anak sayang istri, hot di mata aku. Bukan hanya pria tampan, bidy bagus. Buat apa wajah tampan, bodynya bagus, tetapi enggak sayang anak dan istri. Yang mau melakukan tugasnya sebagai suami dan Ayah itu yang keren,” sahut Sara.
__ADS_1
“Kamu bisa saja Sayang,” balasnya dengan merangkul bahu istrinya itu.
Sungguh, keduanya banyak sama-sama belajar dari pengalaman di masa lalu. Empat tahun yang lalu, seakan semua perasaan yang tertahan kini dengan mudah bisa disampaikan. Dulu begitu susahnya akrab dan membangun komunikasi, kini keduanya bisa saling berbagi, saling bercerita, dan saling mendengarkan. Kehidupan rumah tangga seperti ini yang selalu diinginkan Sara dan Belva.