
Satu bulan kemudian ....
Kehidupan rumah tangga Belva Agastya berjalan dengan baik. Ada Belva yang kian fokus dengan setiap projek yang didapatkan Agastya Property. Sementara itu bisnis waralaba milik Sara juga kian membuka cabang-cabang baru di Indonesia, bisnis skincare yang Sara geluguti pun juga kian sukses. Sampai rasanya Sara ingin menggandeng artis dari negeri Ginseng untuk menjadi brand ambassador produknya supaya skincare miliknya bisa makin diterima pasar internasional. Sementara Evan juga menjalani kehidupan sebagai seorang siswa. Elkan juga kian bertumbuh, si bungsu itu kian mencapai perkembangan motorik dan juga sensoriknya.
"Mama, apa Mama sedang sakit?" tanya Evan yang tiba-tiba bertanya kepada Mamanya. Sebab si Sulung itu tampak memperhatikan Mamanya.
"Tidak Kak, emangnya Mama kelihatan sakit yah?" tanya Sara kepada Evan.
Evan yang sudah duduk di Sekolah Dasar itu pun tampak menganggukkan kepalanya, "Iya tuh ... kelihatannya Mama sakit deh," balas Evan lagi.
Tampak Sara mulai menggelengkan kepalanya, "Bukan sakit sih ... hanya saja Mama merasa kecapekan, Kak Evan. Beberapa hari ini banyak laporan yang Mama cek dari Coffee Bay. Selain itu, bisnis skincare milik Mama juga berencana untuk menembus pasar Asia Tenggara," jelas Sara kepada Evan.
Memang Sara sering kali berbicara dengan Evan. Walaupun hanya di rumah, dan sesekali saja ke pusat Coffee Bay dan ke perusahaan Skin Care miliknya, tetapi Sara berbicara dengan jujur kepada Evan bahwa Mamanya itu sebenarnya juga bekerja.
"Kalau Mama kecapekan, Mama tidur dulu saja, Ma. Evan bisa bermain sendiri kok. Evan juga bisa jagain Adik El. Tidak apa-apa Ma, biar Mama segera sembuh," balas Evan kali ini.
Evan tumbuh menjadi anak yang baik dan pengertian. Si Sulung itu perhatian dengan orang tua dan adiknya, di sekolah pun Evan menjadi siswa yang baik. Evan memiliki kepedulian yang tinggi.
"Tidak apa-apa, Van ... Mama senang loh bisa menemani Evan bermain sama Adik seperti ini. Nanti kalau Evan dan Elkan sudah dewasa, masa-masa bermain seperti ini tidak akan ada lagi," jawab Sara dengan jujur.
Masa kecil anak-anak itu tidak akan pernah terulang. Oleh karena itu, Sara tidak keberatan untuk menemani anak-anaknya. Membersamai tumbuh kembang anak-anaknya, karena masa di mana Evan dan Elkan masih kecil tidak akan pernah terulang lagi.
"Baiklah Mama, cuma jangan dipaksakan yah. Evan bisa main sama Adik Elkan kok," jawab Evan lagi.
Siang itu, Sara menemani Evan dan Elkan yang melihat film superhero. Namun, kala itu mata Sara terasa begitu berat, hingga Sara pun tertidur di ruang menonton tv. Melihat Mamanya yang tertidur, Evan pun kemudian mengajak Elkan ke ruang bermain dan mengajak adiknya untuk bermain bersama. Memberi waktu kepada Mamanya untuk istirahat.
"Adik El, ikut Kakak bermain yuk ... ssttss, jangan berisik yah. Mama biar istirahat dulu," ucap Evan sembari membimbing adiknya untuk mengikutinya.
Elkan pun mengikuti kakaknya itu, tidak berisik, dan juga meninggalkan ruangan menonton itu dengan pelan-pelan. Menjelang sore tiba, Belva pun juga sudah pulang dari perusahaannya.
__ADS_1
"Evan dan Elkan kok ada di sini. Main sendiri, Mama di mana?" tanyanya yang menengok keduanya putranya sedang bermain bersama.
"Mama tidur di ruang menonton, Pa ... Mama capek tuh, Pa. Tadi Evan kira Mama itu sedang sakit, ternyata Mama cuma bilang kecapekan." Evan bercerita kepada Papanya.
Tampak Belva yang mengernyitkan keningnya, karena istrinya itu tergolong orang yang tidak pernah tidur siang. Akan tetapi, sekarang Sara justru tengah tertidur. Belva pun langsung menuju ke ruangan menonton dan melihat Sara yang masih tertidur dan terlihat begitu pulas.
"Sayang," panggil Belva kepada istrinya itu sembari menepuk lengan Sara dengan lembut. Selain itu Belva pun juga mendaratkan kecupan di puncak kepala istrinya. Meminta istrinya itu untuk bangun.
Beberapa kali dibangunkan, barulah Sara mengerjap. Wanita itu terlihat kaget saat mendapati suaminya yang sudah berdiri di hadapannya.
"Eh, Mamas ... sudah pulang?" tanya Sara kali ini.
"Iya sudah ... kamu kecapekan yah?" tanya Bisma kali ini.
Dengan cepat Sara pun menganggukkan kepalanya, "Iya ... capek. Kerjaan banyak banget. Harus cek beberapa laporan. Terlebih skincare milikku mau menembus pasar Asia Tenggara, banyak pikiran," balas Sara.
Belva pun segera menelisipkan tangannya di bahu dan di pantat istrinya itu. Membopong sang istri untuk masuk ke dalam kamar tidur mereka sendiri.
Dalam kondisi seperti ini rasanya Sara benar-benar bersyukur karena suaminya itu adalah sosok yang pengertian. Sara tahu usai pulang dari perusahaan, suaminya juga capek. Akan tetapi, Belva justru memberinya waktu untuk istirahat. Sara segera beristirahat, mungkin dengan tidur sebentar bisa memulihkan kembali energinya.
***
Beberapa hari kemudian ....
Tengah malam, Sara terbangun. Wanita itu merasa kedinginan. Tubuhnya menggigil. Sara meringkuk di atas ranjang dengan menyelimuti dirinya dengan selimut yang tebal. Namun, tubuhnya masih saja terasa kedinginan. Merasa masih merasa dingin, Sara pun perlahan membangunkan suaminya.
"Mas ... Mas ... bangun dulu sebentar, Mas."
"Hmm, apa?"
__ADS_1
Belva pun menyahut dengan cepat dan pria itu segera membuka matanya. Melihat sosok Sara yang terlihat kedinginan sekarang ini.
"Kamu kenapa Sayang?" tanya Belva lagi.
"Aku kedinginan Mas ... dingin banget," sahut Sara.
Belva lantas menyentuk kening istrinya dengan telapak tangannya. Mencoba mengukur suhu tubuh istrinya itu dengan telapak tangannya.
"Kamu demam, Sayang ...."
Belva kemudian mematikan AC di kamar mereka, mengambil termoter dan mengecek suhu tubuh Sara.
“38℃ Sayang … kamu demam,” ucap Belva dengan cukup panik.
"Minum air hangat dulu yah ... sini skin to skin sama aku dulu," balas Belva.
Pria itu membantu Sara meminum air hangat, kemudian dia melepas kaos yang dia gunakan, dan melepas piyama yang dikenakan Sara. Membuatnya kulitnya saling bersentuhan untuk menyamakan suhu tubuh keduanya. Berharap dengan skin to skin seperti ini, suhu tubuh Sara akan segera turun.
Belva memeluk istrinya itu sepanjang malam, dan saat pagi tiba, Belva kembali meraba kening istrinya, rupanya demamnya sudah turun.
"Papa, Mama di mana?" tanya Evan yang pagi itu mencari Mamanya. Biasanya di meja makan, Mamanya adalah orang pertama yang dia lihat.
"Mama kamu masih tidur, semalam Mama demam. Jadi, biarkan Mama beristirahat dulu yah," balas Belva.
Evan pun menganggukkan kepalanya. Evan pun merasa bahwa beberapa hari ini, Mamanya terlihat kelelahan dan tertidur di siang hari. Evan sudah menebak bahwa Mamanya sedang tidak sehat.
"Ayo kita bawa Mama ke Rumah Sakit, Pa ... kasihan kalau Mama sakit," ucap Evan kali ini.
"Iya, nanti Papa akan panggil Dokter Pribadi Papa saja untuk memeriksa Mama," balas Belva.
__ADS_1
Sampai akhirnya, Sara terbangun. Wajahnya terlihat sayu sekarang ini. Demamnya sudah turun, tetapi masih terlihat jika Sara belum sepenuhnya sehat.