Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Kejujuran Belva


__ADS_3

Keesokan paginya, Evan terbangun dengan menangis. Bukan tanpa sebab, tetapi memang ada sosok yang dicari Evan saat ini.


“Papa, Tantenya mana?” tanya Evan pagi itu.


Air matanya sudah berlinangan begitu saja, dan Evan terisak menanyakan di mana keberadaan Sara.


“Tantenya pulang dong, Van … kemarin Tante menidurkan kamu dulu,” ucap Belva.


“Evan mau ke tempatnya Tante lagi,” pinta Evan yang masih menangis. “Papa, Evan sayang sama Tantenya,” lanjut Evan dengan tiba-tiba.


Belva pun menghela nafasnya, berpikir mungkin memang sudah waktunya Evan mengetahui siapa Tante yang dia maksud sebenarnya.


Belva lantas memangku Evan, “Evan, Papa mau cerita sesuatu sama kamu. Evan mau enggak mendengarkan Papa?” tanya Belva perlahan.


“Iya, mau …,” balas Evan.


“Jadi … Tante itu adalah Bundanya kamu. Namanya Bunda Sara. Bunda Sara yang sudah melahirkan kamu, Van,” cerita Belva dengan singkat.


“Bunda sama dengan Mama kan Pa?” tanya Evan.


“Iya,” sahut Belva.


“Lalu, Mama Anin?” tanya Evan.


“Begini Van … kamu itu memiliki dua Mama. Mama yang mengandung dan melahirkan kamu adalah Bunda Sara, dan Mama Anin adalah Mama yang membesarkan kamu,” jelas Belva dengan sederhana.


Mungkin penjelasan ini sukar untuk diterima anak seusia Evan. Akan tetapi, Belva ingin bahwa Evan tidak lagi memanggil Sara dengan sebutan Tante. Belva tahu, seorang Ibu yang dipanggil anak kandungnya sendiri dengan sebutan Tante pasti sangatlah sedih.


“Evan punya dua Mama? Jadi, Evan boleh memanggil Tante itu Mama?” tanya Evan perlahan.


"Dulu, kamu dibiasakan memanggilnya Bunda," ucap Belva pada akhirnya.


"Bunda, Papa? Kok aneh, masak Evan manggilnya Mama, Papa, dan Bunda? Kenapa tidak Mama saja?" tanya Evan kemudian.


"Kamu mau memanggilnya Mama?" tanya Belva perlahan.


Rupanya Evan dengan cepat menganggukkan kepalanya, "Ya, mau ... Evan mau memanggilnya Mama," balas Evan dengan cepat.

__ADS_1


Lantas Belva pun tersenyum sembari mengusapi puncak kepala putranya itu. "Baiklah, kamu boleh melakukannya. Namun, Papa punya permintaan, Evan," ucap Belva kali ini.


Dengan cepat Evan menatap wajah Papanya itu, menunggu apa yang sebenarnya diminta oleh Papanya itu.


"Apa Pa? Papa minta apa?" tanya Evan.


"Sekali saja, panggil dia Bunda. Sudah pasti Mama Sara akan begitu bahagia," pinta Belva kali ini.


Bagi Belva, setidaknya sekali saja Evan akan memanggil Sara dengan sebutan Bunda. Sebab, demikianlah Sara membiasakan Evan ketika masih bayi untuk memanggilnya dengan sebutan Bunda. Sekarang biarkan dirinya meminta kepada Evan, supaya putranya itu mau untuk memanggil Sara sekali saja dengan sebutan Bunda.


Perlahan Evan pun menganggukkan kepalanya, "Oke Papa ... tetapi setelah itu, Evan akan bilang manggilnya Mama saja yah?"


"Iya, Nak ...."


"Papa akan rapat lagi hari ini?" tanya Evan.


"Iya, justru Papa harus rapat seharian," balas Belva. "Kamu mau bermain dengan Jerome dan Tante Amara?" tanya Belva kemudian.


Rupanya kali ini, Evan justru menggelengkan kepalanya, "Papa, boleh tidak Evan main sama Mama Sara. Sehari ini, Pa ... Evan sayang sama Mama Sara, mau main sama Mama Sara," pinta Evan.


"Tidak Pa, Evan janji akan jadi anak yang baik dan tidak nakal. Evan akan nurut sama Mama," sahut Evan kali ini.


Belva pun menghela nafasnya, rupanya anaknya dalam mode merajuk bukan hanya semalam, tetapi hari ini pun masih merajuk. Belva akhirnya menyetujui Evan untuk bermain dengan Sara. Dengan kesepakatan bahwa Evan tidak boleh mengganggu Mamanya yang sedang bekerja. Bahkan Belva akan memberikan kejutan dengan mengantarkan Evan ke Coffee Bay usai mandi dan sarapan.


***


Beberapa saat kemudian ... 


Belva dan Evan telah selesai mandi dan sarapan. Sekarang Belva bersiap akan menuju ke Coffee Bay untuk memenuhi permintaan Evan yang ingin bermain dengan Sara.


"Janji ya Van, nanti kalau Mama Sara sedang bekerja biarin dulu aja," ucap Belva yang masih memperingatkan putranya itu.


"Oke Pap, Evan tahu," balasnya.


Selama hampir lima belas menit berkendara, akhirnya Belva telah tiba di Coffee Bay. Syukurlah Coffee Bay sudah buka, itu berarti dia bisa meninggalkan Evan di sana.


"Sama ingat permintaan Papa tadi ya Van, panggil Mamamu sekali saja dengan sebutan Bunda," ucap Belva lagi yang mengingatkan Evan supaya tidak lupa.

__ADS_1


Sebab berbicara dengan anak-anak memang harus demikian. Mereka terkadang lalai, karena itu Belva mengingatkan Evan berkali-kali.


Belva dan Evan perlahan turun dari mobil dan hendak memasuki Coffee Bay. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara wanita dari dalam Coffee Bay itu.


"Kami buka lima belas menit," ucapnya.


Wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah Sara yang sedang mempersiapkan untuk membuka Coffee Bay. Sekalipun Sara adalah pemiliknya, tetapi Sara memang selalu datang lebih awal dan mempersiapkan semuanya.


"Bunda," panggil Evan dengan perlahan.


Ya, kali ini Evan benar-benar memanggil Sara dengan panggilan Bunda, bukan lagi Tante.


Sara yang tengah memunggungi mereka, perlahan mematung. Sungguh tidak menyangka, suara anak kecil yang memanggilnya sekarang ini adalah Evan. Ya, suara yang dia dengar untuk kali pertama setelah empat tahun. Anak yang kemarin memanggilnya Tante, tetapi sekarang memanggilnya Bunda.


Air mata Sara luruh seketika. Wanita itu berbalik menatap Evan dengan derai air mata di wajahnya.


"Bunda ... Evan datang Bunda," ucap Evan.


Nyatanya air mata Sara justru kian berderai. Wanita itu kini sedikit berjongkok dengan membuka kedua tangannya, menyambut Evan dalam pelukannya.


"Evan ... Evannya Bunda," balas Sara dengan suara yang lirih dan serak.


Rupanya Evan berlari dan masuk dalam pelukan Sara. Anak kecil itu pun menghambur dalam pelukan Sara.


"Evan sayang Bunda," aku Evan kali ini.


"Ya Nak, Bunda juga sayang Evan," balas Sara. Dengan terisak, Sara memeluk Evan, "Bunda sayang banget sama Evan," lanjut Sara kali ini.


"Bunda, tadi Papa bilang kalau Evan punya dua Mama. Mama Anin dan Bunda, tetapi boleh tidak Evan memanggilnya Mama juga. Kan Papa lebih cocok dengan Mama, Bunda kan sama Ayah," ucap Evan.


Tidak mengira anak berusia empat tahun saja bisa berlogika bahwa padanan kata untuk Papa adalah Mama, dan padanan kata untuk Bunda adalah Ayah.


"Evan tanya dulu sama Bunda, Evan maunya manggil Mama saja," lanjut Evan kali ini.


Perlahan Sara menganggukkan kepalanya, "Iya, boleh Sayang ... terserah kamu saja," balas Sara.


Tampak Belva yang masih berdiri di depan pintu masuk mengamati putranya dan Sara. Belva pun begitu terharu kali ini. Keberaniannya untuk berkata jujur adalah pilihan yang tepat. Evan sudah berada dalam usia bisa mengerti sebuah makna. Jadi, memberitahu Evan yang sebenarnya adalah keputusan yang tepat. Lagipula, Belva pun bahagia melihat Sara dan Evan seperti sekarang ini.

__ADS_1


__ADS_2