
"Kamu senang ke Korea?" tanya Belva kepada Sara dengan tiba-tiba.
Perlahan Sara pun mengangguk, "Iya, senang. Rasanya mimpiku menjadi nyata bisa mengunjungi Seoul," jawab Sara disertai dengan senyuman yang tersungging di sudut bibirnya.
Sekarang keduanya tengah berada di dalam taksi yang membawanya dari Bandara Internasional Incheon menuju sebuah Hotel Bintang Lima yang berada di Myeongdong, Seoul, Korea Selatan. Sara mengamati lalu lintas kota Seoul yang sibuk dan juga pemandangan kota Ginseng itu menjelang petang.
Hingga beberapa saat berkendara, sampailah keduanya di Hotel Bintang Lima tersebut. Mereka cukup melakukan cek in, karena telah memesan hotel dengan aplikasi pemesanan terlebih dahulu. Belva yang fasih berbahasa Inggris tampak begitu piawai berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris. Beberapa langkah di belakang Belva, Sara pun memperhatikan bagaimana kerennya seorang Belva yang tengah berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris. Sementara, dirinya hanya bisa berbahasa Inggris sekenanya saja. Sama sekali tidak expert.
"Ayo, kita masuk ke kamar kita," ajak Belva begitu telah mendapatkan kunci kamarnya yang layaknya sebuah kartu ATM itu.
__ADS_1
Sara pun mengangguk dan mengikuti Belva, sementara ada seorang Office Boy yang membawakan koper-koper Belva dan Sara ke dalam kamarnya. Begitu telah sampai ke kamar mereka, Belva segera membuka pintu kamar hotel itu dengan menempelkan kartu layaknya ATM di depan pintu, hingga akhirnya pintu pun terbuka.
Pengalaman pertama menginap di Seoul, sudah pasti Sara merasa begitu bahagia. Memasuki kamar, wanita itu mengedarkan pandangannya melihat kamar yang begitu indah dan mewah itu. Sebuah bed berukuran besar yang berada tepat di tengah-tengah. Kamar mandi dalam lengkap dengan bath up, dan Sara pun berjalan untuk membuka tirai dari jendela di kamarnya itu. Sebuah pemandangan indah yang langsung tertangkap oleh kedua netranya yaitu Namsan, Seoul Tower.
"Namsan Tower terlihat dari sini," ucap Sara yang begitu bahagia. Melihat ikon kota Seoul yang sebelumnya hanya bisa dia lihat di drama-drama Korea sekarang bisa dia lihat secara langsung.
Belva pun berjalan dan berdiri di belakang Sara, "Iya, Namsan Tower. Kamu mau ke sana?" tanya Belva kepada Sara.
Belva pun kemudian mengangguk, "Boleh, mau sekarang?" tanyanya.
__ADS_1
Akan tetapi, Sara segera menggelengkan kepalanya, "Besok saja. Aku kecapean, Pak. Penerbangan dari Jakarta ke Seoul lebih dari Sebelas Jam. Aku kecapean dan jetlag," sahut Kanaya.
Belva pun lantas tersenyum, "Baiklah malam ini kamu bisa istirahat. Waktu kita di Seoul masih panjang, kita bisa jalan-jalan sepuasnya. Kalau kamu mau, kita bisa juga ke Pulau Jaeju." Belva berbicara dengan begitu meyakinkan seolah pria itu dengan hafal kawasan di Seoul.
"Harus naik pesawat lagi untuk ke Jaeju, Pak," sahut Kanaya kepada Belva.
Belva pun mengangguk, "Tidak masalah. Kita di sini dua pekan kan, jadi tidak masalah kalau sekalian jalan-jalan. Maksimalkan waktumu sebaik mungkin, karena waktu ini tidak akan terulang lagi bukan?"
Sara mendengarkan apa yang diucapkan oleh Belva. Haruskah dia memang harus menikmati perjalanannya ke Seoul kali ini? Bagi Sara, apa yang diucapkan oleh Belva memang ada benarnya. Ya, waktu ini tidak akan terulang bukan.
__ADS_1
"Pernah ke sini sebelumnya, Pak?" tanya Sara lagi kepada Belva.
Pria itu akhirnya mengangguk, "Pernah, beberapa tahun yang lalu. Maka dari itu, beberapa di Seoul dan Korea Selatan aku cukup hafal. Tidak perlu menyewa pemandu wisata karena aku sendiri yang akan memandumu ke manapun. Nikmati saja waktumu di sini," ucap Belva lagi.