
"Hei, lepaskan Sara sekarang juga!" teriak seorang pria yang baru saja memasuki Coffee Bay.
Dengan cepat, pria itu menghempaskan tangan Anthony yang terlihat mencengkeram dagu Sara. Pria itu bahkan menaruh es kristal yang baru dibelikan begitu saja. Tidak lain dan tidak bukan, pria itu adalah Zaid.
Ya, Zaid dengan sigap berlari dan menyentakkan tangan Anthony yang masih mencapit dagu Sara itu.
"Kak, Kak Anthony?" tanya Zaid dengan tergagap.
Dia tidak menyangka jika Anthony berada di sana dan tengah melukai Sara sekarang ini. Rasanya sekarang, Zaid tak bisa lagi berkata-kata. Pria itu menerka-nerka, apa yang sebenarnya terjadi sekarang.
"Zai, kamu?" tanya Anthony.
Baik Anthony dan Zaid pun sama-sama tertegun. Tidak menyangka keduanya akan bertemu sekarang ini. Di hadapan Sara.
Sara sendiri yang mengetahui bahwa Zaid dan Anthony saling mengenal itu perlahan memundurkan langkahnya. Sara benar-benar tidak mengira bahwa Zaid rupanya juga mengenal Anthony.
"Kamu kenal dia?" tanya Sara kepada Zaid.
Sungguh, Sara benar-benar tak mengira bahwa pemuda sebaik Zaid rupanya mengenal Anthony yang memiliki perangai dan karakter yang buruk di mata Sara.
"Hei, diam kau ******," gertak Anthony kepada Sara dengan tiba-tiba.
Mendengar Anthony yang meneriakkan kata '******', telinga Zaid rasanya benar-benar panas. Dia sungguh tak mengira bahwa ada seseorang yang begitu bermulut pedas kepada Sara. Bahkan merendahkan Sara dengan begitu rendahnya.
Zaid pun menyentak Anthony membawa pria itu keluar ke belakang Coffee Bay. Lagipula para karyawan juga mulai datang, jadi sangat tidak elok apabila bertengkar di depan para karyawan.
"Nin, aku titip yah ... aku ada perlu," pamit Sara yang ternyata berlari dan mengikuti Zaid dan Anthony.
Nina dan para karyawan lainnya pun hanya menganggukkan kepalanya. Tak ingin mencampuri perkara Bosnya, sehingga mereka pun kembali bekerja. Menerima setiap orderan yang masuk, dan melayani pembeli yang datang.
"Kak, sebaiknya jaga bicara Kakak," teriak Zaid yang sudah begitu sebal dengan Anthony sate itu.
__ADS_1
"Kakak?" gumam Sara.
Sontak Zaid dan Anthony pun saling menatap Sara yang berdiri dan tertegun melihat mereka berdua.
"Zai, bagaimana kamu mengenal dia? Dia adalah wanita simpanan seorang CEO, dan untuk apa kamu berada di sini? Apa jangan-jangan sekarang kamu yang menjadikannya sebagai seorang simpanan?" tanya Anthony.
"Kak, please Kak ... Sara bukan wanita seperti itu," teriak Zaid kali ini.
Darah Zaid rasanya benar-benar mendidih saat mendengar setiap ucapan yang begitu merendahkan Sara. Sungguh, Zaid sangat tidak terima kali ini.
Mendengar jawaban Zaid, nyatanya Anthony justru terbahak dalam tawa. Pria itu bahkan sampai menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Kalian mau bersandiwara? Eh, Zai... sebelum kamu mengenal dia, aku sudah lebih dulu mengenalnya. Dia wanita murahan yang bekerja di bar," ucap Anthony.
Hati Sara begitu sakit saat masa lalunya kembali dibuka seperti sekarang ini. Lagipula, dulu Sara bekerja di bar hanya untuk sekadar mencari Rupiah, memenuhi kebutuhan hidupnya. Sara tidak menjual dirinya di sana. Akan tetapi, nyatanya Anthony lagi dan lagi merendahkan Sara hanya karena dulu dia bekerja di sebuah bar.
"Bagi kamu, saya mungkin adalah wanita murahan. Namun, ingat kamu pun adalah pria berengsek yang begitu mudahnya menghina, dan melecehkan wanita. Pria yang sebatas memandang wanita hanya untuk pemuas nafsunya. Jauh sebelum menghina dan melecehkan seseorang, ingatlah kelakuan bejatmu itu," balas Sara.
Sara tampak menunjuk Anthony dengan jari telunjuknya, "Dia adalah orang yang melecehkanku dan nyaris memperkosaku di sana lalu," aku Sara dengan jujur.
"Kak, apa semua ini benar Kak? Apakah Mama tahu semua kelakuan bejat Kakak ini?" teriak Zaid.
"Zai, dia siapamu?" tanya Sara yang segera menginterupsi saat itu.
Zaid pun terlihat wajahnya begitu merah, "Dia ... dia adalah Kakakku, Sara," balas Zaid.
Mendengar Zaid yang baru saja mengakui bahwa dia adalah Kakaknya, Anthony justru kembali berdecih.
"Chch, jadi setelah lepas dari taipan kaya raya sekelas Belva Agastya, sekarang kamu menempel pada adikku?" tanya Anthony dengan kasar.
"Jaga bicaramu, Kak," pinta Zaid kepada Anthony.
__ADS_1
Sungguh, Sara benar-benar tak mengira bahwa Zaid rupanya adik Anthony. Mengapa keduanya terlihat berbeda, dari wajah, perawakan, bahkan karakter keduanya pun begitu berbeda. Tentu saja, sejak mengetahui bahwa Zaid rupanya adiknya Anthony, Sara kian yakin tak akan menerima perasaan Zaid.
"Zai, kamu tidak kenal apa-apa tentang dia. Dia wanita pekerja di bar dan selalu menggoda pria. Untuk apa kamu mendekati dia," ucap Anthony kali ini.
"Please, Kak ... berbicaralah dengan sopan," pinta Zaid kali ini. Bahkan saat Anthony yang tidak lain adalah Kakaknya justru terus menerus merendahkan Sara benar-benar membuat Zaid begitu marah.
"Kak, aku mengenal Sara dengan baik. Dia wanita yang baik. Please, jaga bicara Kakak," teriak Zaid.
Namun, Anthony seakan tidak menghiraukan ucapan Zaid. Pria itu justru tertawa dan memandang rendah Sara. Hanya sekadar dipandang oleh Anthony saja membuat Sara menjadi jijik.
Bak ingin mengurai perselisihan antara Anthony dan Zaid, Sara lantas mengambil beberapa langkah ke depan. Ya, dia kini berdiri di depan Anthony. Tangan kanan Sara terangkat ke udara, dan mendaratkan satu tamparan di pipi Anthony.
*Plak. *
"Bisa-bisanya kamu pria rendahan, pria yang berkali-kali melecehkanku dan nyaris memperkosaku justru merendahkan aku. Kalau aku mau, aku bisa mengadukanmu ke pihak berwajib dan kamu akan mendekam di penjara atas tindak percobaan pemerkosaan. Ingatlah Anthony, tidak semua gadis yang bekerja di bar menjual diri mereka. Kamu salah besar jika memandang rendah semua gadis yang bekerja di bar demikian. Tolong hargai wanita karena kamu pun lahir dari seorang wanita bukan? Sekarang pergilah, dan jangan pernah tunjukkan wajahmu itu di hadapanku karena aku muak melihatmu. Pergi!"
Sara berteriak dan mengusir Anthony saat itu juga.
Merasa bahwa Sara telah mengusirnya, perlahan Anthony pun pergi. Pria itu pergi tanpa sepatah kata pun. Mungkin ini sudah yang kesekian kali Sara menampar wajah Anthony. Akan tetapi, Anthony sendiri seakan tidak jera dan justru terus memandang rendah Sara.
Sepeninggal Anthony, Zaid pun berjalan mendekati Sara. Pria itu hendak menenangkan Sara dengan memberikannya pelukan. Akan tetapi, Sara dengan cepat mengelak.
"Kamu juga pergilah, Zai ... aku butuh waktu untuk sendiri," ucap Sara.
Akan tetapi, Zaid dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Tidak Sara ... aku akan menunggumu di sini," balas Zaid.
Pria itu bersikeras tidak akan meninggalkan Sara sendiri. Zaid lebih memilih untuk berada di sana dan menunggu Sara.
"Maafkan Kakakku, Sara ... sebenarnya Kakak itu baik, kenapa dia bisa seperti itu kepadamu. Maaf untuk semua kesalahan Kakakku," balas Zaid.
Namun, Sara hanya diam tidak menghiraukan ucapan Zaid. Baginya Anthony di masa lalu hingga kini adalah orang yang sama, tak pernah bersikap baik kepadanya. Yang ada justru Anthony seperti binatang buas yang ingin menerkam dan memangsanya.
__ADS_1