Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Sidak ke Agastya Property


__ADS_3

“Sayang, kelihatannya kamu yang hamil, aku yang benar-benar ngidam deh. Buktinya sekarang aku ingin makan sesuatu lagi,” ucap Belva kali ini.


Memang terlihat lucu, di saat Sara tampak sehat dan baik-baik saja. Justru Belva yang mengidam dan banyak maunya. Akan tetapi, untung saja Sara sangat sabar dan bisa menerima semua sikap suaminya yang tengah terkena Kehamilan Simpatik itu. Terkadang Belva menginginkan masakan dan harus Sara sendiri yang membuatnya, terkadang Belva akan memeluk istrinya itu dan menempel untuk sekian waktu lamanya, dan sekarang rupanya Belva menginginkan istrinya untuk hal yang lain.


“Kamu pengen apa?” tanya Sara kemudian.


“Pengen kamu sekali-kali datang ke kantorku dan bawain makan siang gitu buatku,” balas Belva kali ini.


Sara hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya mendengar permintaan lucu dari suaminya itu. “Ya ampun, kamu ini Mas. Ngidamnya segitunya sih. Padahal aku pengen juga ngerasain ngidam. Apalagi dulu waktu hamil Evan, aku juga tidak hamil,” balas Sara.


Ya, secara pribadi Sara pun mengakui bahwa dirinya ingin juga merasakan ngidam layaknya para wanita yang hamil. Akan tetapi, beberapa minggu berjalan dan dirinya justru merasa biasa saja. Justru Belva yang mengalami kehamilan simpatik dan juga banyak maunya.


“Oke … lain kali aku main ke Agastya Property ya, Mas … cuma aku gak tahu ke sananya kapan. Siap-siap aja kalau aku ke sana. Kamu tidak keberatan istrimu main-main ke kantor?” tanya Sara kepada suaminya itu.


“Ya enggaklah … ngapain juga keberatan. Kamu kan istrinya yang punya Agastya Property. Sudah pasti aku tidak keberatan,” balas Belva kemudian.


Perlahan Sara tersenyum dan mencubit pinggang suaminya itu, “Percaya diri banget sih. Yang punya itu kan kamu, kalau aku gak ada hubungannya sama Agastya Property,” sahut Sara.


Belva pun mengaduh dan juga mengusapi pinggangnya yang baru saja mendapat cubitan dari istrinya itu, “Yang aku miliki, juga punya kamu, Sayang. Aku pemilik Agastya Property, jadi kamu juga punya hak milik atasnya,” ucap Belva dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


Akan tetapi, Sara dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Tidak … itu punya kamu. Sebelum bersamaku itu adalah punyamu. Lagi pula, cukup aku memiliki kamu dan Evan,” balas Sara.


Sungguh, Sara bukan wanita yang silau dengan harta. Bahkan di saat Belva dan Mendiang Anin memberikan sejumlah uang tambahan untuknya setelah melahirkan Evan, dengan tegas Sara menolaknya. Sebab, dirinya memang tidak silau dengan harta kekayaan yang dimiliki oleh Belva Agastya.


“Baik banget sih … biasanya para wanita suka pria yang berduit, tetapi kamu justru tidak. Kamu cukup hanya mau memiliki aku dan juga Evan. Makasih Sayang … ya sudah, aku tunggu kamu di kantorku yah. Langsung saja naik ke ruanganku di lantai 8,” ucap Belva kemudian.


"Yakin, aku langsung boleh masuk?" tanya Sara kepada suaminya itu.


Dengan cepat Belva pun menganggukkan kepalanya, "Yakinlah Sayang ... lagipula, aku tidak pernah macam-macam di kantor. Kamu bisa langsung melakukan sidak supaya tahu suamimu ini seperti apa. Apa kamu masih ragu kepadaku?" tanya Belva kemudian.


Kali ini Sara memilih diam, karena dia juga tidak mau apakah dia ragu atau tidak. Hanya saja, Sara sebenarnya merasa tidak percaya diri juga karena ini akan menjadi kunjungan pertamanya ke perusahaan milik suaminya itu. Hanya saja karena Belva sudah meminta dan seakan begitu ingin Sara datang dan memberi kejutan kepadanya, maka Sara pun menyetujui permintaan suaminya itu.


"Bukan, hanya saja aku merasa tidak percaya diri. Aku sebelumnya tidak pernah ke perusahaanmu, Kemudian, tiba-tiba aku ke sana rasanya juga malu," balas Sara.


***


Selang beberapa hari berlalu, rupanya pagi sejak Belva pergi ke kantor. Sara menyibukkan dirinya di dapur. Kali ini wanita itu mencoba untuk memasak Sup Ayam, Udang Goreng Crispy, dan membuat Puding Susu. Niatnya, siang ini Sara ingin memberikan kejutan spesial untuk suaminya itu.


“Mbak Sara mau dibantuin?” tanya Bibi Wati.

__ADS_1


“Enggak usah, Bi. Ini sudah mau selesai kok. Tinggal masukkan ke kotak bekal,” balas Sara.


“Bibi itu seneng banget karena Mbak Sara perhatian sama Pak Belva dan mengurusi Pak Belva,” balas Bibi Wati.


“Seorang Istri memang harus perhatian kepada suaminya, Bi,” balas Sara sambil tersenyum. “Bi, nanti tolong temenin Evan dulu yah … aku mau ke kantornya Mas Belva sebentar. Papanya Evan baru ngidam pengen ditengokin istrinya,” ucap Sara sembari tersenyum malu-malu.


“Oh, iya Mbak Sara … saya akan menjaga Evan,” balas Bibi Wati.


Setelah siap dengan menyiapkan kotak bekal. Kemudian Sara mengganti pakaiannya. Mengenakan dress bermotif floral, menata rambutnya supaya lebih rapi, tidak lupa Sara memoleskan make up di wajahnya. Wanita itu memantaskan diri di depan cermin, setelah yakin kemudian Sara keluar dari kamar dan siap untuk menuju ke Agastya Property.


Kemudian Sara membawa mobilnya sendiri dan segera menuju Agastya Property. Pikirnya kali ini dia ingin mengejutkan suaminya itu. Berkendara kurang lebih setengah jam, akhirnya Sara tiba di perusahaan milik Belva Agastya yang bernama Agastya Property ini. Wanita itu bertanya kepada resepsionis dan mengatakan dirinya adalah istri dari Belva Agastya. Rupanya tidak seperti di drama-drama di mana istri CEO biasanya tidak boleh sembarangan masuk, tetapi Sara nyatanya langsung dipersilakan menuju lantai delapan. Hal itu sebenarnya wajar karena memang sang Istri jarang untuk menemui suaminya di kantor sehingga karyawan di kantor tidak mengenalinya. Akan tetapi, kali ini Sara datang dan mengatakan bahwa dirinya adalah istri dari Belva Agastya sehingga dirinya pun diterima dengan baik.


Dengan menaiki lift, Sara menuju lantai tujuh. Kemudian wanita itu berjalan dengan santainya mencari ruangan Direktur Utama yaitu suaminya sendiri. Tidak lupa Sara mengetuk pintu ruangan suaminya karena di luar meja sekretaris memang kosong.


Tookk … Tookk … Tookk …


Tangan Sara mengepal dan berusaha mengetuk pintu dari kayu itu terlebih dahulu.


Tidak berselang lama terdengarlah sahutan dari dalam.

__ADS_1


“Ya masuk.”


Tangan Sara pun perlahan membuka pintu itu, pandangan matanya mengedar dan mencari di mana sosok suaminya berada. Betapa terkejutnya Sara, ketika di dalam Belva sedang bersama seorang wanita, dengan kemejanya yang terkena tumpahan kopi. Dan wanita itu berdiri berusaha mengelap tumpahan kopi di kemeja Belva. Melihat semua itu, Sara seolah tertegun. Wanita itu menggigit bibir bagian dalamnya, dan berusaha memalingkan wajahnya. Mungkin saja kali ini dirinya salah memilih waktu untuk kadang ke kantor suaminya, atau memang perangai suaminya di kantor memang seperti itu.


__ADS_2