
Beberapa minggu berlalu, mengasuh dua anak dengan rentang usia 4 tahun memang menjadi pengalaman yang berharga dan memberi tantangan bagi Sara. Sebab, tidak setiap hari Evan bisa bersikap kooperatif dan manis. Ada kalanya Evan merajuk dan ingin selalu Mamanya. Sementara Mama Diana dan Papa Agastya juga sudah kembali ke Singapura. Sehingga, Sara benar-benar mencurahkan waktunya untuk dua Kiddos-nya di rumah. Ada kalanya, Evan juga merengek dan meminta perhatian lebih dari Mama dan Papanya.
Seperti sekarang ini, sejak pagi agaknya Evan bangun dengan suasana hati yang tidak baik. Sehingga dari mulai membuka mata, Evan sudah menangis. Sara mengamati biasanya jika bangun Evan sudah menangis, sepanjang hari Evan akan sering menangis.
"Evan, mandi dulu yuk Nak ... tadi Adik Elkan sudah mandi. Sekarang giliran Mama mandiin Kak Evan dulu yuk, abis itu sarapan dan menonton Channel Youtube," ucap Sara yang mengingatkan dengan rutinitas setiap hari Evan.
"Enggak Ma ... Evan mau nonton televisi dulu," sahutnya dengan masih menangis.
Bahkan Evan masih terlihat merengek dan tidak mau mandi. Padahal biasanya, Evan begitu bangun akan mencari Mama atau Papanya dan kemudian meminta untuk dimandikan.
Sara menghela nafas, agaknya pagi ini dirinya harus ekstra sabar untuk menghadapi Evan. Sara memilih diam yang melihat Evan yang sedang merengek. Perlahan Sara duduk di dekat Evan, "Yuk, Kak Evan mandi dulu yuk ... biar badannya segar dan sehat. Setelah ini, kita sarapan, Mama sudah buatkan Scrumble Egg kesukaan Kak Evan," ucap Sara lagi.
Namun Evan justru menangis sejadi-jadinya dan menolak untuk mandi pagi itu. Berusaha sabar, Sara pun duduk di samping Evan sembari menimang Elkan. Dengan sedikit kesabaran, mungkin saja Evan mau untuk mandi. Menunggu sekian menit, akhirnya Sara kembali membujuk putra sulungnya itu.
"Ayo Kakak Evan ... bangun pagi kan mandi dulu. Bau loh kalau bangun tidur enggak mandi. Banyak kuman menempel di badan. Abis ini kita sarapan, Mama juga lapar Nak," ucap Sara.
Tidak dipungkiri menjadi ibu yang menyusui, perut Sara juga sudah merasa lapar. Terlebih Elkan yang begitu banyak meminum ASI-nya.
"Enggak Ma ... gak mau." Evan tetap menolak dan tidak mau mandi.
Sedikit sebal dengan perilaku Evan di pagi ini, Sara kemudian berdiri, "Ya sudah, Kak Evan nonton televisi saja ... Mama mau sarapan, perut Mama sudah lapar. Kalau Mama telat makan nanti bisa sakit, terus kalau Mama sakit nanti yang mengasuh Kak Evan dan Adik Elkan siapa coba?"
__ADS_1
Akan tetapi, baru beberapa langkah Sara berjalan, rupanya Evan kembali menangis. Bahkan kali ini tangisannya lebih heboh. Anak berusia 4 tahun dan hendak berulang tahun di usianya yang kelima itu sampai berteriak dan terisak. Tidak tega dengan Evan, Sara pun menghentikan langkah kakinya. Sara menoleh ke belakah ke arah Evan.
"Apa lagi Kak Evan? Kakak mau nonton itu kan? Nonton saja, tidak usah mandi," ucap Sara kini dengan suara yang terdengar lebih tegas.
Ketika Sara sudah sampai di dalam kamarnya, rupanya Evan menyusul Mamanya itu dengan menangis. Sara menaruh Elkan di dalam box bayinya, dengan diam Sara segera memandikan Evan. Melepaskan baju yang dia kenakan, kemudian membersihkan badan Evan. Mengguyur dengan air shower yang hangat, dan memberikan sabun di badan Evan. Selesai memandikan Evan, Sara mengeringkan Evan dengan handuk. Kemudian setelah kering, Sara mulai memberikan minyak telon di tubuh Evan, dan mengenakan baju kepada putranya itu.
"Evan kan mau Mama yang baik," ucap bocah itu dengan terisak.
Mendengar ucapan Evan, Sara pun menatap putranya itu. "Apa Mama tidak baik, Kak Evan? Kakak ingin Mama yang seperti apa?" tanya Sara. Sama sekali tidak marah, hanya saja dia memberikan kesempatan kepada Evan untuk berani mengutarakan isi hatinya.
Walau sebenarnya Sara sempat tertegun dengan ucapan putrinya itu. Mungkinkah dia belum menjadi seorang Mama yang baik untuk Evan. Hingga ada rasa bersalah yang menghinggapi dirinya.
Sara masih merapikan pakaian Evan dan menyisir rambut hitam putranya itu. Perlahan Sara kembali bertanya kepada Evan.
Evan pun menatap wajah Mamanya, "Evan mau main sama Mama ... Evan mau main Lego dan membaca buku sama Mama, tapi sekarang Mama sering gendong Adik Elkan," ucap Evan pada akhirnya.
Apa yang baru saja diucapkan Evan benar-benar membuat Sara tidak menyangka bahwa putrinya berpikiran seperti itu. Padahal selama ini, dia sudah berupaya sebisa mungkin untuk adil dalam mengasuh kedua putranya. Menghiraukan rasa nyeri pasca melahirkan, dan rasa kantuk yang sering datang di siang hari. Sara benar-benar mengupayakan tidak mengabaikan Evan. Sayangnya, si Sulung merasa bahwa Mamanya lebih banyak menggendong adiknya.
Perlahan Sara memeluk Evan, "Kakak Evan merasa Mama seperti itu yah?" tanyanya dengan perlahan.
Tampak Evan menganggukkan kepalanya, "Iya ... kan Evan mau bermain sama Mama. Mama yang baik yang mau main Evan."
__ADS_1
Sebenarnya adalah hal yang wajar jika si Sulung merasa semua kasih sayang, perhatian, dan fokus dari orang tuanya mulai terbagi dengan adiknya. Jikalau dulu, sebelum adiknya lahir, semua kasih sayang, perhatian, dan fokus dicurahkan semuanya untuk si Sulung dan sekarang harus dibagi dengan si Bungsu. Memang beberapa waktu membuat si Sulung menjadi cemburu. Itu pula yang sedang dirasakan Evan saat ini.
Berusaha menenangkan Evan, Sara kemudian memangku putranya itu. "Mama minta maaf ya, karena sekarang waktunya dibagi dulu buat Kakak Evan dan buat Adik Elkan. Mama saja sampai menghiraukan diri Mama sendiri. Semua waktu yang Mama punya cuma buat Kakak Evan dan Adik Elkan. Nanti kalau Adik Elkan makin besar, bisa bermain justru Adik bisa jadi teman bermainnya Kak Evan. Kan Elkan masih kecil, nanti semakin hari dia semakin besar Nak … bisa tengkurap, duduk, merangkak, berjalan, berbicara, dan bisa berlari. Berbagi dulu ya Kakak Evan." Sara yang berusaha memberikan pengertian kepada putranya itu.
"Itu Adik Elkan cuma bobok dan menangis minta ASI terus, Ma ... minta digendong Mama terus," jawab Evan.
Rupanya si Sulung mengamati bahwa adiknya yang masih bayi itu hanya bobok dan menangisa minta ASI.
Sara pun perlahan mengelus puncak kepala Evan, "Dulu Kak Evan juga sekecil Adik Elkan," ucap Sara sembari menarik laci nakas di kamarnya.
"Ini foto waktu Kak Evan baru saja lahir, ada Mama dan Papa yang bahagia menyambut Kakak nih. Terus ini, Mama gendong Kak Evan dan berikan ASI untuk Kakak Evan. Ditimang-timang sama Mamar. Kasih sayang Mama untuk Kak Evan dan Adik Elkan itu sama. Sama besarnya dan sama banyaknya. Kalian berdua adalah putra Mama yang berharga, kesayangan Mama. Harta Mama dan Papa yang paling berharga," jelas Sara kepada putranya.
Perlahan Evan pun mengangguk dan memeluk Mamanya itu, "Evan juga sayang Mama," ucapnya dengan membenamkan wajahnya di dada Mamanya.
Sara pun tersenyum dan mengecup puncak kepala Evan, "Mama juga sayang Kakak Evan," ucapnya dengan rasa haru.
"Mama, nanti kalau Adik bobok temanin Evan main Lego dan robot ya Ma," pintanya kali ini kepada Mamanya.
Sara pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Pasti Kakak ... sudah pasti Mama akan menemani kamu bermain waktu Adik Elkan bobok. Sekarang, mumpung Adik bobok, kita sarapan dulu yuk? Mama suapin mau enggak?"
"Iya Mama ... Evan mau," ucapnya dengan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Sara bisa bernafas sedikit lega, sekian lama membujuk putra sulungnya akhirnya berhasil juga. Dalam hal mengasuh dan mengurus anak, Sara memang rela menghiraukan dirinya sendiri asalkan apa yang diinginkan anaknya bisa dia berikan. Semua Ibupun akan melakukan hal yang sama. Ketika luka sayatan di perutnya saja belum sepenuhnya kering, Sara tidak keberatan menemani Evan bermain, sembari meng-ASI-hi si Bungsu, mengurus si Sulung dengan semua keaktifannya di dalam rumah. Itulah tanda kasih sayang seorang Ibu.