Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Penilaian Suami Lebih Utama


__ADS_3

Liburan keluarga yang harusnya bahagia, nyatanya sedikit terusik dengan kemunculan Kalina. Sepanjang perjalanan pulang dari Gianyar menuju ke Seminyak, Sara lebih banyak diam. Jika pun berbicara, tentu Sara berbicara dengan Evan.


“Mama, nanti Evan mau tidur dulu ya Ma … capek Ma,” keluh Evan kali ini yang sudah mengaku capek.


“Iya Nak … nanti jangan lupa cuci tangan dan cuci kaki dulu yah,” balas Sara.


“Oke … siap Mama,” balasnya.


Perjalanan siang itu terasa lancar, walaupun Belva dan Sara tidak terlibat dalam obrolan. Biasanya selalu saja ada yang mereka obrolkan berdua dalam perjalanan. Akan tetapi, kali ini baik Sara dan Belva memilih diam. Sampai akhirnya mereka telah sampai di resort mereka. Evan segera berlari memasuki kamarnya dan beristirahat terlebih dahulu siang itu.


Sementara Sara juga masuk ke dalam kamarnya. Wanita itu memilih mengganti pakaiannya menjadi lebih santai hanya sebatas mengenakan celana pendek dan kaos saja, setelah itu Sara memilih duduk di sofa sembari meminum air putih. Belva pun bergabung dengan Sara untuk duduk di sofa itu.


“Enggak istirahat Sayang?” tanya Belva.


Tentu itu adalah pertanyaan formalitas untuk memulai pembicaraan dengan Sara. Belva tidak ingin semuanya berlama-lama, dan justru memperkeruh rumah tangganya.


Kali ini Sara diam, tetapi wanita hamil itu rupanya hendak beranjak dari sofa dan tempat yang akan tuju sekarang adalah tempat tidur. Namun, belum sempat Sara melangkah, Belva sudah menarik tangan Sara terlebih dahulu hingga wanita itu jatuh di pangkuannya.


“Mas,” ucap Sara dengan sedikit meronta dan tidak ingin bermesra-mesraan dengan suaminya itu.


Namun, bukan Belva namanya jikalau dia tidak memiliki seribu satu cara untuk meluluhkan Sara. Sehingga pria itu kini memeluk Sara dengan begitu eratnya, membawa pantat Sara bertumpu sepenuhnya di pahanya, dan bagian lutut hingga telapak kaki Sara berada di sofa. Belva menundukkan wajahnya dan mencerukkannya di dada Sara. Mengusapkan kepalanya di sana perlahan.

__ADS_1


“Aku kangen kamu,” ucap Belva dengan memejamkan matanya.


Geliat tubuh Sara yang meronta dan seakan ingin lepas dari dekapan Belva justru membuat Belva kian membenamkan wajahnya di dada itu. Tidak mempedulikan Sara yang bersikap dingin kepadanya.


“Jangan marah … kalau ada yang mau ditanyakan, tanya saja langsung,” ucap Belva kali ini.


Sara masih diam, wanita itu kini justru mengalihkan pandangan matanya dari Belva. Namun, semakin lama Sara diam, kian Belva mendekat dan kini pria itu mendaratkan kecupan demi kecupan di pipi Sara.


“Marah sama Kalina kan? Aku juga tidak tahu Sayang, dia kenal mendiang Anin dari mana. Relasi pertemanan almarhumah dulu aku pun juga tidak tahu. Hanya saja, percayalah … perasaanku untukmu tulus, cintaku tulus dan penuh untukmu,” ucap Belva yang kali ini meyakinkan Sara.


“Aku enggak marah kok … aku hanya terluka saja saat ada wanita yang menyebutkan sebagai wanita lima milyar. Itu menyakiti harga diriku. Namun, bagaimana bisa aku mengelak, karena nyatanya aku menerima uang darimu dan memberikan rahimku kepadamu,” sahut Sara kali ini.


Belva menggelengkan kepalanya, “Lima milyar itu terlalu kecil, Sayang … aku bahkan bisa memberikan kepadamu semua aset yang aku punya. Aku tidak keberatan. Apa kamu mau, aku mengalihkan semua asetku atas namamu?” tanya Belva kali ini.


“Lalu?” tanya Belva.


“Kalau bisa sih, aku mau tidak ada orang yang tahu perihal masa laluku dulu. Namun, mengingat nama besarmu dan kiprahmu di dunia bisnis, orang-orang pasti akan mencari latar belakangku. Jadi, biarkan saja dunia tahu bahwa Evan adalah anak dari Kak Anin,” balas Sara kali ini.


“Kamu yakin?” tanya Belva.


Sara menganggukkan kepalanya, “Iya … dengan demikian Evan pun saat dewasa nanti tidak akan terluka karena tahu bahwa dia lahir karena sewa menyewa rahim antara Mama dan Papanya,” balas Sara.

__ADS_1


Bagaimana pun juga, jika seorang anak tahu perihal sewa menyewa rahim, anak pun bisa merasakan guncangan psikologis di dalam batinnya. Sara tidak ingin semua itu membebani Evan, sehingga Sara tidak keberatan jika Evan tahu bahwa Mamanya adalah almarhumah Anin.


“Evan sudah tahu jika Mama kandungnya adalah kamu. Jadi, tenang saja,” balas Belva.


Sara menghela nafas, kini menatap suaminya itu. “Mas, apa aku tidak layak yah mendampingimu? Kenapa orang-orang selalu memandangku rendah?” tanya Sara kali ini.


“Cuma kamu yang layak mendampingiku, Sayang … kamu cantik, baik hati, dan tulus. Wanita seperti apa lagi yang layak buatku? Tidak ada. Hanya kamu yang layak,” balas Belva.


“Apa seorang istri CEO harus berkelas, Mas?” tanya Sara lagi.


“Tidak harus … buat apa membuat dirimu tidak nyaman. Lakukanlah saja yang nyaman menurut hatimu. Ikuti kata hatimu. Lagipula orang-orang akan melihat berdasarkan penampilan luar mereka, tetapi aku melihat kamu dengan hatiku. Aku suka dan cinta dengan kamu yang apa adanya,” balas Belva.


Perlahan Sara pun menganggukkan kepalanya, justru dia merasa lega karena Belva memandangnya dengan hatinya. Belva tidak menuntut apa pun dari Sara. Sebab, bagi Sara pendapat dari suaminya lebih berarti untuknya.


“Baiklah, jadi … aku tidak perlu berubah kan?” tanya Sara.


“Tidak … jika orang di luar sana melihat dari brand yang kamu kenakan, aku akan melihatmu dengan mataku sendiri, dengan hatiku. Kamu tetap wanita yang istimewa di mataku,” balas Belva.


“Penilaian orang itu relatif, Mas … hanya saja apa mereka yang sekelas artis atau peragawati yang layak mendampingi seorang CEO? Aku sadar, aku hanya lulusan SMA, dari keluarga kelas menengah bawah, dan juga yatim piatu. Banyak kualifikasi yang tidak kupenuhi,” aku Sara.


Saat Sara selesai mengatakan itu, Belva tersenyum, pria itu memangkas jarak wajahnya, dan kemudian mulai memagut bibir Sara dengan begitu lembutnya. Pria itu memberikan usapan dengan jarinya di telinga Marsha, usapan yang perlahan turun ke bahunya, dan turun lagi ke lengan hingga tangan itu bertaut dengan telapak tangan Sara. Menggenggam tangan itu, dan memberikan remasan di sana. Dengan bibir yang saling menyapa, Belva terus bergerak dan memberikan hisapan demi hisapan di lipatan bibir Sara. Pria itu kemudian menarik wajahnya, dan menatap Sara dengan tatapan mata yang seolah hanya mengunci Sara.

__ADS_1


“I Love U … apa pun yang dunia katakan tidak penting bagiku. Di mataku, kamu selalu cantik dan mempesona. Aku cinta kamu apa adanya,” ucap Belva kali ini.


Kembali Belva menarik dagu Sara, dan kembali pria itu melabuhkan kecupan demi kecupan dan pagutan yang dalam di bibir Sara. Seakan pria itu menyegel pernyataan cintanya dengan ciuman yang dalam, sebuah ciuman yang bisa Sara percayai bahwa Belva mencintainya apa adanya.


__ADS_2