Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Kegiatan Serba Terbatas


__ADS_3

Kini Sara sudah berada di rumah. Berdasarkan dengan saran dari Dokter, Sara harus bedrest selama 7 hari lamanya. Jika berpikir pada panjangnya waktu untuk beristirahat, maka akan terasa begitu lama. Akan tetapi, jika berpikir pada keselamatan janinnya, 7 hari bukan waktu yang lama. Lebih baik menghabiskan 7 hari di atas ranjang, daripada mengalami kejadian buruk yang bisa lebih parah dan membahayakan keselamatan si bayi.


"Kamu duduk di kursi roda saja ya Sayang, biar aku dorong," ucap Belva kali ini.


"Iya Mas," jawab Sara. Sama sekali Sara tidak memberi bantahan kepada suaminya itu.


Dengan telaten dan penuh hati-hati Belva pun mendorong kursi roda yang dinaiki Sara. Berusaha menghindari tanjakan yang tidak mengguncang perut istrinya itu. Sementara untuk obat-obatan Sara sudah Belva ambil terlebih dahulu, supaya Sara tidak perlu turut mengantri di apotek Rumah Sakit.


Hingga akhirnya, kini mereka telah sampai di depan mobil Belva yang terparkir di tempat parkir Rumah Sakit. Tampak Belva yang hendak menunduk, dan membopong Sara kemudian menaruhnya di samping kursi kemudi. Akan tetapi, Sara segera mencegahnya.


"Aku bisa, Mas … cuma satu langkah," balas Sara.


"Cuma aku nya yang khawatir," balas Belva.


Sara lantas berdiri perlahan dan menggenggam tangan suaminya, kemudian wanita itu melangkah dan masuk ke samping kursi kemudi. Sementara Belva masih membantu Sara untuk mengenakan sabuk pengamanan. Setelahnya, barulah Belva mengitari mobilnya dan melajukannya menuju ke kediamannya.


Sepanjang perjalanan, Sara memilih memilih pemandangan yang terlihat dari kaca jendela. Sementara Belva masih sibuk mengemudi. Hingga akhirnya, mereka sudah tiba di rumah. Hati Sara terasa hangat karena dia akan segera bertemu dengan putranya. Baru semalam tidak bersama Evan, tetapi rasanya sudah begitu rindu.


“Tunggu, Sayang … jangan turun sendirian,” ucap Belva.


Sara yang sudah membuka pintu mobil pun mengurungkan niatnya. Kemudian dia menunggu Belva terlebih dahulu. Rupanya Belva berjalan ke pintu di samping kursi kemudi. Pria itu menunduk, dengan menelisipkan tangannya di antara bahu Sara dan pahanya, ya pria itu membopong Sara. Menggendong istrinya ala bridal style, dan Sara segera melingkarkan tangannya di leher suaminya itu.


“Padahal aku bisa jalan,” ucap Sara. Sara sendiri merasa tidak enak, karena sebenarnya dia bisa berjalan.

__ADS_1


“Aku yang akan menjadi kaki bagimu … jangan sungkan, aku akan merawatmu,” ucap Belva dengan sungguh-sungguh.


Mata Sara berkaca-kaca melihat Belva dengan segala kesungguhan hatinya. Pria di hadapannya ini benar-benar baik dan juga sangat peduli padanya. Padahal Sara yakin menggendongnya itu berat, tetapi Belva justru tidak keberatan untuk menggendong Sara. Pria itu justru terlihat kian kuat otot-otot liatnya yang sempurna.


Dengan hati-hati Belva membawa Sara dalam gendongannya, bahkan saat menaiki anak tangga, Belva tidak kepayahan. Pria itu terlihat begitu tangguh hanya sekadar untuk membawa Sara ke dalam. Hingga sampailah di kamar mereka, Belva segera menidurkan Sara di ranjang.


“Sudah, istirahat dulu yah … aku ke bawah lagi untuk keluarkan koper kita. Ingat, jangan turun dari ranjang. Harus bedrest,” ucap Belva lagi.


“Iya Mas … makasih banyak,” jawab Sara.


Dilayani seperti ini oleh suami sendiri rasanya memang luar biasa, tetapi ada rasa malu dan tidak enak hati juga. Seharusnya Sara yang melayani suaminya, tetapi sekarang justru Sara tidak bisa melayani suaminya. Aktivitasnya untuk satu minggu ke depan harus terkendala dengan keadaannya yang harus bedrest.


***


Selang beberapa hari …


Bahkan sudah beberapa hari ini, Belva juga memilih untuk bekerja dari rumah. Seluruh pekerjaan dia minta kepada Ridwan untuk mengirimkan dalam Dropbox, dan Belva akan mengeceknya dari rumah.


“Kamu butuh apa Sayang?”


Itu adalah pertanyaan wajib yang bisa Belva tanyakan selama beberapa hari ini kepada Sara. Seakan tanpa Sara meminta, Belva sudah menanyakan apa saja yang diperlukan istrinya itu.


“Aku mau minum air putih, Mas,” pinta Sara kali ini.

__ADS_1


Belva pun menganggukkan kepalanya, dia segera mengambilkan segelas air putih untuk Sara, bahkan Belva juga membantu Sara meminum air putih dari bibir gelas itu.


“Makasih,” ucap Sara.


“Sama-sama Sayang … kalau butuh apa-apa lagi. Panggil aku saja,” ucap Belva.


Sara tersenyum menatap suaminya itu, “Makasih banget Mas … aku banyak merepotkanmu hari-hari ini,” ucapnya.


Rasanya memang Sara begitu merepotkan suaminya itu. Sekadar minum air putih saja, harus diambilkan Belva. Untuk kegiatan yang lain juga dicegah oleh Belva. Intinya Sara hanya diperbolehkan untuk rebahan di ranjang.


“Tidak apa-apa, Sayang … tidak setiap hari juga. Jangan sungkan, aku kan suamimu. Di saat sehat dan sakit, aku akan ada buat kamu,” ucap Belva dengan sungguh-sungguh.


Sungguh luar biasa kebaikan hati Belva, seorang pria yang mau berdiri di samping pasangannya di kala sehat dan sakit. Itu adalah wujud nyata dari kasih yang benar-benar tulus.


Bahkan Belva juga terkadang mengajak Evan bermain di kamarnya, supaya Sara tidak kesepian dan Evan juga bisa berinteraksi dengan Mamanya.


“Mama, sakit apa Ma?” tanya Evan kepada Mamanya itu.


“Hanya di suruh istirahat, Van … biar adik bayinya semakin sehat,” balas Sara.


“Segera sembuh ya Ma, Evan sayang Mama,” ucap Evan.


Sara menganggukkan kepalanya, Evan adalah putra yang baik dan perhatian. Di rumah dia mendapatkan cinta dan perhatian dari suami dan putranya sendiri. Walaupun aktivitas Sara terbatas, tetapi dengan hadirnya suami dan Evan yang sudah menjadi support system baginya, akhirnya hari-hari berlalu dengan cepat. Sara tidak akan mengeluh. Biarlah aktivitasnya hanya di atas ranjang, tetapi dia bisa melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama Evan dan suaminya.

__ADS_1


Sebagai seorang yang terbiasa hidup sebatang kara, dan kini memiliki orang-orang yang begitu dekat di hatinya membuat Sara merasakan kehidupan rumah tangga yang sempurna di matanya. Tidak ada keluarga yang sempurna, tetapi Sara, Belva, dan Evan bisa mewujudkan keluarga yang sempurna dengan takaran mereka.


Selebihnya Sara berharap masa-masa istirahatnya di atas ranjang akan segera berakhir, sehingga dia bisa beraktivitas kembali dan juga bisa bermain-main bersama Evan. Semoga saja beberapa hari yang tersisa bisa dijalani oleh Sara dengan baik adanya.


__ADS_2